Usaha Ternak Love Bird : Hobi Tersalur, Untung Pun Didapat

Usaha Ternak Love Bird

Usaha Ternak Love Bird ternyata bisa menghasilkan keuntungan ganda. Selain hobi bisa tersalurkan, beternak love bird juga dapat dijadikan lumbung rejeki.

Seperti ternak love bird yang dilakukan Kakak beradik Ardi Wijaya (36) dan Arif Susilo (32). Usaha ternak love bird bermula atas hobi memelihara burung.

Serius mempelajari cara ternak love bird, keduanya kemudian membuka peternakan “Pendawa Manuk Farm” di Jalan Rahayu Dusun V Tanjungbaru Kecamatan Tanjungmorawa.

Sambil menyiapkan berbagai kebutuhan untuk ternak love bird, Ardi bercerita, dia suka lovebird karena bulu halus, beraneka warna, bentuk paruh mungil seperti paruh kakaktua dan kicauan yang merdu.

Dari sebuah kontes burung, Icik dan adiknya Arif memulai membeli sepasang lovebird yang sudah mulai produksi. Dari sepasang burung seharga Rp 6 juta itu, Icik mempelajari cara budidaya lovebird.

Pengetahuan tentang cara ternak love bird didapat dari buku, bertukar informasi dengan sesama peternak burung dan penjual pakan, serta eksperimen. “Intinya keseriusan dan keuletan. Kalau dijalani dengan tekun, mudah-mudahan berhasil,” ucap pria yang kerap dipanggil Icik itu.

Burung asal Afrika ini kini banyak diminati pencinta burung. Bahkan, burung yang menjadi lambang cinta itu tak hanya diminati pencinta burung. Orang awam, yang tidak pernah memelihara burung juga menyukai keindahan lovebird.

Tingginya minat membuat harga lovebird mencapai jutaan. Untuk anak lovebird jenis lutino mata merah dan lutino mata hitam berusia 2 bulan dibandrol dengan harga Rp 1,5 juta hingga Rp 1,7 juta.

“Sekarang yang sedang naik daun love bird jenis lutino. Banyak peminatnya,” kata Icik sambil menunjukkan burung berbulu kuning di badan dan berbulu merah pada bagian leher. Sedangkan mata lutino berbalut bulu berwarna putih.

Harga love bird akan semakin tinggi jika burung sudah berpasangan. Harganya bisa naik hampir dua kali lipat, sekitar Rp 4 juta sampai Rp 6juta. “Kalau baik produksinya, harga induk love bird bisa mencapai Rp 10 juta per pasang,” jelas Icik.

Sistem penjualan love bird, kata dia, terkadang seperti lelang. Misalkan, anak lovebird jenis lutino, saat baru menetas diminta calon pembeli. Sebagai peternak, tidak pernah mau menerima panjar sebagai ikatan transaksi. Sebab, masih terbuka ada tawaran yang lebih tinggi. Sistem itu berlaku juga untuk jenis lain. Jenis Ficheri yang biasa dijual seharga Rp 400.000 itu bisa naik mencapai Rp 12 juta, jika kualitasnya baik. “Memang Ficheri yang paling murah. Tapi, kalau menang kontes, harganya melambung. Jenis ini yang suaranya paling kuat,” ungkapnya.

Mengenai pasar, Icik tidak pernah bingung, karena pembeli selalu datang. Pembelinya bisa agen-agen burung, pencinta burung dan masyarakat biasa.

Ternak Love Bird Tak Butuh Biaya Besar

Menjadi peternak lovebird tidak berbiaya besar. Sepasang lovebird menghabiskan sekitar Rp 1.000 per hari untuk pakan. Sebulan Icik mengeluarkan Rp 1 juta untuk mengasuh 34 pasang lovebird-nya. Biaya itu untuk membeli milet merah dan putih yang menjadi pakan utama dari biji-bijian, padi emas, padi beras merah dan biji bunga matahari.

Selain itu, lovebird diberi asupan tambahan lain berupa sayuran seperti sawi, taoge, kangkung dan jagung muda. Untuk obat-obatan dan vitamin, menghabiskan biaya Rp 500.000 per empat bulan. Biaya ini tentatif, sesuai kebutuhan lovebird. Apakah kurang vitamin, atau terkena penyakit seperti cacingan dan sakit mata.

Sedangkan untuk kandang ukuran 40 cm X 60 Cm dan tinggi 50cm bisa dibeli dengan harga Rp 175.000, sudah termasuk kandang glodok tempat bertelur, tempat air minum dan pakan.

Tambahan kalsium untuk penguat paruh disediakan tulang sotong, yang dapat diganti dengan batu kapur atau batu bata.

Lovebird mulai produksi pada usia 7-8 bulan. Namun, produksi awal biasanya kurang baik. Kualitas produksi lovebird umumnya pada saat induk berusia 1-3 tahun. Melewati usia 3 tahun, kualitas akan berkurang. Telur dari induk berkualitas bisa mencapai enam butir. Sebagian dipindah dan dieramkan oleh babon yang usianya bisa sampai 15 tahun.

Tujuannya, jika telur ditetaskan sampai 6 butir, induk akan kelelahan memberi makan enam ekor anaknya. “Ini bisa menjadi trauma induk. Bahkan “ngetrek” atau tidak produksi untuk sementara. Kalau anak diasuh 2 sampai 3 ekor, induk akan lebih santai,” jelasnya.

Lovebird bertelur setelah 4 hari usai kawin. Setelah 7 – 8 minggu mengasuh anak, induk dan anak bisa dipisah, karena anak lovebird sudah mandiri. Sedangkan induk kembali produksi setelah 2 minggu dipisahkan. Produksi bisa juga lebih panjang dari waktu normal. “Kalau masa lama tidak bertelur, menu makan diubah. Dikasih asupan sayur-sayuran yang bisa menaikkan birahi seperti taoge dan sawi,” jelasnya.

Selain itu, lovebird juga harus dijaga dari serangan binatang lainnya. Semut dan tikus menjadi hewan menakutkan untuk lovebird. Semut bisa membuat gatal-gatal di tubuh lovebird. Apalagi anak yang belum tumbuh bulu. (medanbisnis)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response