Upaya Pengendalian Penyakit Cacing Mata Pada Ternak Sapi

ternak sapi purwakarta

DUNIATERNAK.COM, – Penyakit cacingan diasosiasikan dengan penyakit saluran pencernaan. Karena pada umumnya penyakit cacingan menyebabkan gangguan saluran percernaan. Pada dunia veteriner penyakit cacingan dapat menyerang organ, selain saluran pencernaan yaitu mata, hati, paru-paru, jantung dan kulit tergantung dari spesies hewannya. Namun umumnya akibat dari infestasi cacingan dapat menyebabkan kekurusan dan kerusakan pada target organ karena terganggnya metabolisme tubuh.

Kebanyakan masyarakat telah mengetahui tentang penyakit cacingan pada hewan karena ciri-cirinya sangat khas. Namun masyarakat belum banyak melakukan pengendalian dan pengobatan secara dini, mengingat dengan infestasi ringan belum menimbulkan gejala. Umumnya masyarakat melakukan pengobatan apabila terlihat gejala. Tindakan ini jelas terlambat dan sulit untuk mengembalikan ke kondisi normal karena hewan telah banyak kehilangan berat badan akibat dehidrasi.

Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, akan tetapi kerugian dari segi ekonomi dikatakan sangat besar, sehingga penyakit parasit cacing disebut sebagai penyakit ekonomi. Kerugian-kerugian akibat penyakit cacing, antara lain : penurunan berat badan, penurunan kualitas daging, kulit, dan jerohan, penurunan produktivitas ternak sebagai tenaga kerja pada ternak potong dan kerja, penurunan produksi susu pada ternak perah dan bahaya penularan pada manusia.

Jaminan kesehatan hewan terhadap penyakit non infeksius salah satunya adalah pengendalian parasit internal (cacingan). Berdasarkan beberapa laporan yang sudah dipublikasikan (Abidin, 2002), kasus cacingan pada sapi di peternakan rakyat mencapai 90%. Kerugian ekonomis akibat adanya parasit tersebut antara lain terhambatnya pertumbuhan berat badan rata-rata mencapai 0,1 Kg perhari, penurunan status reproduksi (calving interval tinggi) (Suhardono, 2005), yang kemungkinan berperan pada kematian pedet.
Salah satu faktor penghambat peningkatan populasi sapi adalah masih tingginya kematian pedet dan sapi muda yang merupakan periode rawan kematian salah satunya akibat dari penyakit cacingan. Untuk menekan angka kematian diperlukan peningkatan pelayanan teknis secara optimal dan penerapan Good Farming Practices (GFP) sehingga dapat menekan angka kematian pedet dan sapi muda menjadi 3% – 5%, dan akan dapat meningkatkan populasi 10% – 20%.

Penyebab penyakit cacingan dibagi menjadi tiga Class yaitu Class Nematoda, Cestoda dan Trematoda. Umumnya Class Trematoda dan Cestoda berada dalam usus halus yang menyerap sari-sari makanan sehingga inangnya menjadi kurus. Sedangkan Class Trematoda umumnya menjadi parasit pada lambung, hati, mata dan kulit.
Penyakit cacing mata (Thelaziasis) adalah penyakit mata yang disebabkan oleh cacing jenis trematoda menyerang ternak sapi dengan target organ mata. Kerugian ekonomi akibat cacing mata adalah terjadinya penurunan berat badan akibat terganggunya nafsu makan. Walaupun penurunan berat badan tidak signifikan namun akibat cacing mata akan mengibatkan cacat pada mata bahkan sampai terjadi kebutaan apabila tidak mendapatkan penanganan secara dini.

Penyebab penyakit cacing mata adalah cacing jenis Thelazia sp, Class Trematoda yang menyerang berbagai jenis ternak salah satunya ternak sapi. Penyakit cacing ini mempunyai target organ mata dengan penyebaran sangat cepat karena dibawa oleh lalat. Lalat merupakan induk semang antara mengingat larva akan berkembang menjadi larva infeksius pada tubuh lalat. Larva infeksius yang terdapat pada tubuh lalat merupakan sumber penyakit cacing mata yang siap disebarkan ke sapi-sapi yang sehat.

Gejala klinis pada ternak sapi yang menderita penyakit cacingan adalah mata diantaranya :
1. Sapi gelisah
2. Nafsu makan menurun
3. Kunjungtivitis
4. Keluar air mata secara terus menerus
5. Bola mata kemerahan
6. Terdapat tahi mata pada kelopak mata,
7. Kalau tidak mendapat penanganan sapi akan menderita kebutaan
pengobatan terhadap sapi yang menderita penyakit cacingan mata dengan pemberian obat-obatan anthelmentika dan meneteskan air tembakau pada mata yang terinfestasi cacing. Untuk sapi muda obat anthelmentika yang efektif adalah golongan piperasin, nemasol dan piranthel sedangkan sapi dewasa obat anthelmentika yang efektif adalah golongan brood spektrum seperti Albendazole, Mebendazole, osfendazole dll. Untuk mengilangkan iritasi pada mata pengobatan dikombinasikan dengan antibiotik golongan oxytetracyclin biak topikal atau tetes/salp mata maupun injeksi.

Pengendalian penyakit cacing mata melakukan dengan pengendalian lalat melalui desinfrksi atau penyemprotan insektisida sistemik seperti neguvon, asuntol, bovinok dll pada tubuh sapi, kandang dan lingkungan. Disamping itu mengindari pembuangan sampah yang dapat mengundang lalat kekandang. Menjaga kesehatan sapi dan kebersihan kandang merupakan hal mutlak yang harus dilakukan dalam pengendalian penyakit cacing mata.

Kabupaten/Kota di Provinsi Papua yang menjadi sentra dalam pengembangan sapi adalah Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Jayapura, Merauke, Nabire, Kepulauan Yapen, Biak Numfor dan Mimika serta Jayawijaya. Populasi ternak sapi di 9 Kabupaten/Kota mencapai 87.287 ekor. Pemeliharaan sapi masih usaha sampingan sehingga perhatian terhadap kesehatannya masih kurang.

Kasus penyakit cacing mata di Provinsi Papua masih cukup tinggi, mengingat system peternakan sapi kebanyakan bersifat semi intensif dimana ternak digembalakan dan diberikan pakan tambahan pada sore hari bahkan ada yang dibudayakan secara ekstensif atau diliarkan. Kondisi ini menyebabkan perhatian terhadap perawatan terhadap ternak sapi masih kurang sehingga lalat yang merupakan sumber penyebaran cacing mata masih berkerumun ditubuh sapi. Disamping itu tingginya kasus penyakit cacingan karena didukung oleh iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi yang merupakam faktor pendukung dalam penyebaran penyakit parasit cacing mata.

Penyakit parasit internal (cacingan) merupakan kendala yang dihadapi oleh peternak di Provinsi Papua dalam mengejar peningkatan produksi dan populasi, mengingat penyakit tidak menunjukan gejala pada infestasi ringan, sehingga tidak mendapatkan perhatian yang serius oleh peternak. Penyakit cacingan menunjukan gejala klinis apabila infestasinya sudah berat dan baru peternak memberikan perhatian berupa penanganan kesehatan hewan. Penanganan penyakit parasit pada infestasi berat jelas memerlukan waktu relatif lama untuk pengembalian kondisi tubuh ke kondisi normal, sehingga menjadi faktor penghambat pertumbuhan ternak. Peternak belum terbiasa melakukan tindakan pencegahan dengan memberikan obat cacing.

Untuk penanggulangan penyakit cacingan di Provinsi Papua maka setiap tahun melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua melakukan tindakan pengobatan dengan memberikan obat cacing pada ternak sapi, namun dengan terbatasnya anggaran maka ternak yang dapat pelayanan pengobatan tidak semua populasi. Pengobatan dilakukan secara selektif dengan hasil secara signifikan dapat menurunkan prevalensi kasus penyakit, terbukti waktu pemotongan hewan qurban tahun 2016 kasus cacingan khususnya cacing mata tidak ditemukan. Kabupaten/Kota yang mendapat pelayanan pengobatan parasiter internak adalah daerah padat ternak sapi diantaranya Kabupaten Merauke, Keerom. Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Nabire, Kepulauan Yapen, Mimika dan Biak Numfor.

Untuk dapat mencegah atau mengurangi kerugian ekonomi akibat gangguan penyakit cacingan diharapkan pada peternak melakukan tindakan pencegahan dengan membiasakan memberi obat cacing pada hewannya walaupun ternaknya terlihat sehat mulai umur 4 bulan dan diulang setiap 4 bulan sekali. Tindakan ini akan memberikan peningkatan atau penjaminan terhadap status kesehatan hewan yang akan berdampak pada peningkatan produktivitas dan populasi.

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Comments are closed.