Ternak Sapi Ramah Lingkungan

ternak sapi organik

Letak kandang sapi itu cuma beberapa meter dari Puskesmas Pembantu dan rumah-rumah warga dan Desa Petuguran Kecamatan Punggelan, Banjarnegara. Tetapi udara tetap segar, bebas polusi. Di dalam kandang pun, bau kotoran maupun urin sapi sama sekali tak tercium.

Pemilik kandang berisi 6 ekor sapi jenis simetal dan limosin itu, Lilin Eko Priyanto (43), memang dikenal sebagai peternak ramah lingkungan. Ia mengandalkan pakan organik dicampur nutrisi melalui proses fermentasi oleh bakteri khusus yang diciptakannya.

Alhasil, selain kandang bebas bau, penambahan bobot sapi potong piaran Eko, demikian nama panggilan peternak yang juga menjabat Sekdes Petuguran itu, cukup signifikan. “Bobot setiap ekor sapi bisa mencapai 0,8 kilogram hingga 1,5 kilogram per hari, dengan biaya jauh lebih murah ketimbang menggunakan pakan konsentrat buatan pabrik,” katanya.

Eko masih mendapat keuntungan lain. Untuk keperluan masak sehari-hari, ia tak perlu membeli gas. Kotoran sapi dimanfaatkan menjadi biogas dan dialirkan ke kompor gas di dapur. “Gas berlimpah. Asal bukan untuk masak besar-besaran seperti orang sedang punya hajat, stok gas lebih dari cukup,” ujarnya.

Kepiawaian Eko dalam usaha penggemukan sapi, menarik perhatian para peternak dari berbagai daerah di Jawa Barat dan Lampung. Mereka datang dan tinggal sampai beberapa hari untuk belajar. Bahkan, Eko pernah pula diundang untuk presentasi sekaligus praktik oleh Divisi Usaha Peternakan Lembaga Pengembangan Usaha Pertanian (LPUP) Universitas Trisakti di Ciangsana Bogor.

Hijauan pakan ternak yang digunakan oleh Eko, sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi para peternak. Diantaranya, rumput gajah, daun singkong, kaliandra dan rumput liar. Eko memotongnya dengan mesin pencacah rumput, sehingga menjadi kecil-kecil.

Saat disajikan di kandang, pakan ternak segar itu diberi tambahan nutrisi dari bahan air kelapa, tetes tebu dan air limbah rebusan kedelai yang diperoleh dari perajin tempe yang telah difermentasikan dengan sejenis bakteri dalam drum.

Bakteri itulah yang menjadi kunci dari kemanjuran nutrisi buatan Eko, sehingga penambahan bobot sapi bisa signifikan. Ia tak mau membeberkan secara gamblang tentang bahan bakteri buatannya. “Biarlah menjadi rahasia saya. Hanya saja, salah satu bahannya adalah susu,” ujarnya, seraya memperlihatkan bakteri dalam bentuk butiran warna putih kusam.

Penambahan bobot sapi, menurut Eko, dengan berat awal pemeliharaan 350 kilogram, minimal mencapai 0,8 kilogram/hari. “Kalau bakalan sapi atau ‘pedet’ bagus, penambahan bisa sampai 1,5 kilogram per hari,” kata Sekdes berijazah ujian persamaan SMA itu, menuturkan pengalamannya.

Satu dari 6 ekor sapi milik Eko, jenis limosin, bisa menjadi contoh nyata. Sapi itu ia beli 6 bulan lalu dengan harga Rp 6,6 juta. “Sudah ada pedagang menawar Rp 14 juta. Namun belum saya lepas,” katanya. Alasannya, bobot sapi usia 15 bulan itu masih bisa terus bertambah.
Suami dari Parwati (37) yang memiliki dua anak itu menganggap, motode peternakannya adalah metode ‘orang miskin’, yaitu minim biaya namun menginginkan hasil maksimal. Dikatakan, jika menggunakan konsentrat, biya per ekor sapi per hari Rp 18 ribu. “Dengan metode saya, kalau dihitung cukup Rp 5.800 per ekor per hari,” ujarnya pula. Selisih harga itu, lebih dari cukup untuk menutup kebutuhan bahan bakar mesin pencacah rumput.

Hasil sampingan berupa biogas yang digunakan untuk masak, bagi Eko juga menjadi motivator. Kalau berhenti jadi peternak, berarti harus keluar biaya lagi untuk beli gas. Juga harus beli pupuk untuk tanaman salak miliknya. (Sumber : KR Jogja)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response