Ternak Kambing PE Lebih Untung Dibanding Kambing Lokal

ternak kambing PE

Awalnya, Suryono hanya memelihara kambing lokal atau yang juga dikenal masyarakat dengan sebutan kambing kacang. Namun, sejak 3 tahun lalu, dia beralih beternak kambing peranakan ettawa (PE) yang memiliki fisik lebih tinggi, besar dan menarik. Tidak hanya menghasilkan daging yang lebih banyak karena ukuran badannya lebih besar dibandingkan kambing lokal, namun juga memproduksi susu yang juga banyak.

Pria yang sejak 17 tahun lalu merantau dari Malang, Jawa Timur ke Medan ini jeli dalam melihat pasar yang lebih menguntungkan dalam bisnis peternakan. Bukan tanpa alasan dirinya beralih dari beternak kambing kacang ke kambing PE. Pasalnya, dengan kambing kacang, hasil yang bisa diambil hanya dari dagingnya.

Disebut kambing PE karena merupakan persilangan dari kambing ettawa dari India dengan kambing lokal. Dari persilangan tersebut lahirlah kambing PE yang fisiknya lebih besar dari kambing lokal. Bentuk yang paling mencolok adalah selain ukuran tubuhnya yang jangkung karena bisa mencapai 90 hingga 120 cm, adalah telinganya yang terkulai panjang.

Selain itu, bentuk muka yang unik, muncungnya tidak memanjang, namun cenderung membulat pendek dan rambut di kepalanya yang memenuhi muka dengan tanduk pendek.
Dia memulai usaha beternak kambing PE sejak 3 tahun lalu di Payageli, Sunggal, Kabupaten Deliserdang. Awalnya hanya 9 ekor, kemudian seiring dengan perjalanan waktu, kini dia mempunyai lebih dari 70 ekor kambing PE. Banyak pengalaman pahit yang sudah dialaminya.

Selama proses mempelajari perilaku kambing PE, ia sudah kehilangan sekitar 60 ekor karena mati. Penyebabnya bermacam-macam mulai kambing anakan sampai perkara kesalahan pakan. “Intinya karena perlakuan yang kurang pas,” kata Suryono.

Setalah mulai paham dengan teknik memelihara kambing PE dengan benar, ia pun mulai fokus menggeluti bisnis susu kambing PE. Apalagi, dibandingkan dengan di Jawa, pemeliharaan kambing PE di Sumut masih sangat prospektif.

Biarpun pemelihara kambing PE di Sumut sudah cukup banyak, namun peluang usaha dari beternak kambing PE masih sangat terbuka lebar. Lagipula, didukung dengan faktor alam dimana ketersediaan pakan untuk kambing PE ini sangat melimpah.

Di Deliserdang misalnya sudah ada sekitar 70 orang yang memelihara kambing PE dengan jumlah yang bervariasi, mulai dari 10 sampai ratusan ekor. Umumnya beternak kambing PE untuk diambil susunya. “Kambing PE ini susunya banyak dan ini memang kambing perah, berbeda dengan kambing kacang, hanya memproduksi susu untuk anaknya saja,” katanya.

Begitu juga dengan harga jualnya, baik untuk anakan ataupun induknya. Selisih harga antara kambing lokal dengan kambing PE bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp2 juta per ekor. Dengan begitu, prospek memelihara kambing PE ini lebih besar ketimbang kambing kacang. “Badan kambing PE yang lebih besar ini yang membuat barat badannya juga beda jauh,” ungkapnya.

Namun demikian, kata dia, dari sisi pemeliharaan, tidak jauh berbeda. Mulai dari pemberian pakan sampai nutrisi dan kadangnya juga sama. Namun, sedikit perbedaannya adalah bentuk perlakuannya.

Misalnya, karena kambing PE ini untuk diambil susunya, sedangkan adanya susu sangat tergantung pada kualitas makanannya, maka peternak diharuskan untuk memperhatikan makanannya. Misalnya dengan memberikan pakan yang cukup, baik dari daun-daunan ataupun rumput.

Begitu juga dengan suplemen yang diberikan juga harus tepat, sehingga pertumbuhannya baik dan produksi susunya juga tidak ada kendala. Maka itu, Suryono sangat menjaga dalam hal pemberian pakan.

Menurutnya, peternak harus mengetahui jenis-jenis hijauan pakan ternak yang aman dan tidak mengandung racun. Sebab, tidak semua hijauan bisa dijadikan pakan ternak. Sebagai contoh, daun ubi, ada sebagian yang mengandung racun sehingga tidak langsung diberikan setelah memetiknya.

Daun tersebut, untuk menghilangkan racunnya, harus dilayukan terlebih dahulu dengan menjemurnya di bawah sinar matahari. “Karena kalau sampai keracunan, bisa kembung lalu mati,” katanya.

Dia sudah punya pengalaman yang cukup banyak akan kematian kambingnya baik yang masih anakan ataupun yang sudah dewasa, adalah diakibatkan kurangnya pengetahuan teknis cara beternak kambing PE. Namun demikian, setelah bertahun-tahun, Suryono sudah mengerti bagaimana pemeliharaan kambing yang tepat. “Kuncinya, pakan yang berkualitas, sanitasi kandang dan pemberian suplemen,” katanya. (Sumber : Medan Bisnis Daily)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response