Swasembada Pangan Untungkan Industri Pakan Ternak

pelepah sawit untuk pakan ternak

Jakarta, – Langkah Capres terpilih Joko Widodo untuk menciptakan swasembada pangan tampaknya akan mendapat apresiasi dari industri yang bergerak di sektor ini. Pasalnya bila rencana ini terwujud, tentunya akan ada beberapa kebijakan yang akan menguntungkan bisnis ini.

Keuntungan itu seperti kemudahan untuk menambahan jumlah cadangan lahan pertanian dan juga kemudahan dalam hal pendanaan yang umumnya saat ini terdapat di sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.

Pengamat ekonomi dari Institur Pertanian Bogor, Hermanto Siregar mengatakan, secara konkrit pemerintah memiliki beberapa opsi diantaranya adalah melalui penambahan lahan ataupun menggejot produktivitas hasil pertanian dengan peningkatan kualitas.

“Kalau untuk stop impor bahan pangan seperti kedelai dan gandum tidak bisa dilakukan secara jangka pendek, karena akan menciptakan kelangkaan barang pangan,” katanya, saat dihubungi wartawan beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut dia melanjutkan, di sektor perkebunan juga akan mendapatkan keuntungan dengan adanya kebijakan penambahan lahan. Dengan adanya kebijakan seperti ini, akan mendorong industri swasta untuk masuk dan menggeluti bisnisn ini, maklum hingga saat ini yang bertindak sebagai pemain besar dalam industri pertanian adalah badan usaha milik negara (BUMN) seperti PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) atau PT Pertani.

Bila pemerintah terpilih dapat menjalankan kebijakannya sesuai dengan apa yang dijanjikan, menurut dia, akan banyak membantu tumbuh kembangnya sektor pakan ternak. Maklum, sebagian besar bahan baku dari industri ini menggunakan komponen impor untuk menghasilkan pakan ternak yang berkualitas.

PT Charoen Pokphand Tbk (CPIN) misalnya, hampir 80% dari bahan baku seperti kedelai dan jagung masih didatangkan secara impor. Ditambah mekanisme impor ini sangat sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Dalam kondisi seperti ini, dimana nilai tukar rupiah mengalami kemerosotan lebih dari 30% terhadap dollar AS, banyak emiten yang bergerak di bidang pakan ternak dan poultry harus rela mengalami penurunan kinerja laba bersihnya.

Charoen Pokphand contohnya, perseroan harus menanggung penurunan laba bersih sebesar 7,84% menjadi Rp 661,46 milyar di tiga bulan pertama tahun ini, padahal pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih perseroan masih berada di angka Rp 717,73 milyar.

Perusahaan lainnya, PT Sierad Produce Tbk (SIPD), malah mengalami penurunan yang lebih dalam, pos laba usaha berjalan miliknya di kuartal pertama tahun ini hanya berada diangka Rp 1,56 milyar, padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya pos keuangan ini masih bertengger diangka Rp 3,5 milyar.

“Dengan sudah dimulainya swasembada pangan, tentunya akan berdampak positif terhadap beban keuangan emiten yang bergerak di sektor ini. Karena kebutuhan yang tadinya harus didatangkan secara impor, dapat dikurangi konsumsinya dengan melalui produksi dalam negeri,” jelas Hermanto.

(Sumber : Didi Kurniawan/gatra.com)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response