Sulteng Resmikan Inovasi Pakan Ternak Lokal


DUNIATERNAK.COM, – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah (Sulteng) meresmikan Launching Hasil Kajian Aplikasi Teknologi Pengolahan Pakan Ternak Ayam Berbasis Industri Rumah Tangga (RT) dan Hasil Penelitian Alternatif Pakan Ternak Ayam Fungsional Dari Bahan Baku Lokal (Substitusi Bahan), Rabu (11/11/2015), di Kelurahan Kabonena, Palu Barat.

Gubernur Sulteng yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Dr. Elim Somba, M.Sc memberikan apresiasi atas inovasi yang telah diinisiasi Balitbangda (Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah) Provinsi Sulawesi Tengah.

“Ini sesuai tugas pokok dan fungsi Balitbangda sebagai lembaga penelitian dalam menyediakan data untuk perumusan kebijakan daerah,” kata Elim dalam sambutan tertulis Gubernur Sulteng.

Menurutnya, dengan launching tersebut akan turut menginformasikan sejauhmana pengembangan pakan lokal dibandingkan pakan pabrik terhadap pertumbuhan ayam pedaging. Disamping itu, sejumlah manfaat yang tak kalah penting tambahnya seperti, terwujudnya inovasi teknologi pakan lokal, tersedianya pakan lokal dengan harga terjangkau dan pemanfaatan bahan-bahan lokal, khususnya limbah-limbah agroindustri.

Elim Somba juga berpesan agar selalu dilakukan upaya inovasi dalam memproduksi pakan ternak lokal. “Kalau sudah ada formulasi tolong cepat-cepat dipatenkan, jangan sampai kecolongan dengan pihak lain karena ini bisnis,” tandasnya.

Peneliti Balitbangda Dr. Ir. Habsah, M.Sc saat memaparkan hasil penelitiannya mengatakan, penelitian pakan lokal sudah dimulai sejak 2014. Adapun keunggulan pakan antara lain sangat rendah lemak, mampu menggemukkan ayam kampung hingga 900 gram dalam 7 minggu dan membuat ternak jadi lebih immune (kebal) terhadap penyakit.

“Kami menggabung tepung daun kelor dicampur kunyit sebagai antibodi dalam pakan,” ujarnya.

Penelitian selanjutnya juga dilakukan pada tiga kelompok peternak di tempat berbeda yang menggunakan pakan tersebut yakni Kabonena, Taipa dan Lasoani. Hasilnya pun bervariasi, misalnya di Kabonena, ayam yang mengkonsumsi pakan lokal selama 7 minggu bobotnya mencapai 900 gram, sedang di Taipa 876 gram dan Lasoani 600 gram.

“Biasanya permintaan rumah makan di Palu, standarnya 800-900 gram, kalau di atas 1 kg atau dibawahnya langsung ditolak,” jelas Habsah.

Alasan ditolak menurutnya karena rumah makan sudah memperhitungkan harga 1 porsi ayam dengan bobot ayam supaya tidak merugi.

Sementara itu, Plt Balitbangda Ir. Tulak Sapan, M.Si dalam laporannya mengatakan pakan ternak lokal yang dibuat dapat menekan mortalitas ternak ayam sampai dibawah 5 persen dan menurunkan ongkos pakan sampai 19 persen.

“Menurut informasi banyak peternak yang menutup usaha karena mahalnya pakan pabrik, karena itu pakan lokal ini kiranya jadi solusi alternatif,” harapnya.

(Sumber: jurnalsulteng.com)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Comments are closed.