SMK 1 Bawen Bikin Pakan Ternak Ayam Dari Enceng Gondok

Pakan Ternak Ayam Enceng Gondok

Melimpahnya eceng gondok di Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menjadi masalah yang tidak kunjung tertangani bertahun-tahun. Para siswa SMK Negeri 1 Bawen mencoba memanfaatkan gulma air itu menjadi briket dan pakan ternak ayam.

Siswa pada Jurusan Budidaya Ternak menggunakan daun eceng gondok untuk pakan bagi ayam potong. Guru Budidaya Ternak, Siti Muslichah, menuturkan, selama ini banyak peternak kesulitan ketika harga pakan ayam potong melambung. Karena itu, pakan alternatif yang memiliki kandungan gizi memadai sangat dibutuhkan.

Semula penelitian dilakukan untuk mengikuti lomba. Pemilihan eceng gondok sebagai bahan pakan karena tumbuhan itu merupakan ancaman sekaligus potensi wilayah Kabupaten Semarang. Berdasarkan uji laboratorium, daun eceng gondok mengandung protein 13 persen.

Daun eceng gondok yang masih segar dirajang dan dijemur. Karena eceng gondok mengandung serat sangat tinggi, 20,16 persen, harus dilakukan fermentasi dengan bakteri Aspergillus niger agar kandungan serat berkurang. Ayam ras tidak mampu menoleransi kadar serat lebih dari 5,0 persen.

Hasil dari fermentasi daun eceng gondok dicampur dengan pakan ayam dengan komposisi masing-masing 2,5 persen, 5,0 persen, dan 7,5 persen. Hasilnya, dilihat dari bobot dan perkembangan ayam, pencampuran dengan 2,5 persen pakan ayam adalah yang paling ideal.

Siti mengakui, penelitian itu belum sempurna. Eceng gondok belum dapat menggantikan pakan ayam ras yang ada selama ini. Akan tetapi, setidaknya para peternak dapat menghemat pengeluaran untuk pakan ayam. Penggunaan eceng gondok sebagai campuran dapat menghemat Rp 140.300 untuk pemeliharaan 300 bibit ayam dalam satu siklus.

Kini, Siti dan siswanya, Zaenal Yuhana (19), tengah meneliti pembuatan pakan alternatif dengan bahan baku tanaman air Azolla pinnata yang juga banyak ditemui di Rawa Pening. Kandungan protein dalam tumbuhan ini lebih tinggi dari eceng gondok, yaitu 25-30 persen, dan kandungan serat kasarnya 9,1 persen.

Dengan cara pembuatan yang sama, pakan dari Azolla pinnata kini tengah diuji. Hasil sementara memperlihatkan penggunaan campuran pakan alternatif dari Azolla pinnata mampu menghemat Rp 282.500 per pemeliharaan 300 bibit ayam hingga 42 hari.

”Penelitian ini belum maksimal karena keterbatasan kami. Kami berupaya agar biaya produksinya murah. Tujuan pakan alternatif ini untuk mengurangi biaya produksi ternak ayam potong,” kata Siti.

Selama ini sebagian besar bahan baku pakan ayam ras harus diimpor, seperti kedelai dan tepung ikan. Karena itu, Siti berharap, penelitian dapat diteruskan dalam skala lebih besar dan lebih mendalam, serta dapat diterapkan oleh masyarakat luas. (sumber : Ristek)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response