Sistem Pemberian Pakan Pada Ternak Sapi Potong

1

Problem kuantitas pakan terjadi karena beberapa hal, yaitu kurang imbangnya laju pertambahan jumlah ternak dengan laju pertambahan pakan, kurang intensifnya pertambahan lahan untuk penanaman tanaman pakan ruminansia, tidak ada kebijakan khusus dari pemerintah untuk meningkatkan kuantitas pakan, ketersediaan pakan yang kurang dan lain-lain yang menyebabkan Indonesia masih menggantungkan diri pada import  pakan.

Harga pakan cenderung selalu berubah setiap saat tergantung situasi dan kondisi politik, alam dan pasar. Masalah yang terjadi adalah kurangnya kuantitas dan kualitas pakan, harga yang cenderung tidak stabil dan tingkat ketersediaan yang secara simultan terus berkurang. Semuanya saling kait mengkait sehingga apabila problem ada di salah satu bagian, hal itu berarti juga menjadi problem bagian lain pula. Kondisi kualitas pakan di Indonesia masih memprihatinkan karena umumnya pakan kurang berkualitas, belum ada standarisasi kualitas pakan dan masih beragamnya kualitas masing-masing bahan pakan.

Kualitas dan kuantitas pakan adalah salah satu faktor sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha peternakan. Pada usaha ternak ruminansia hampir 70 persen komponen biaya produksi berasal dari pakan. Untuk itu perhatian terhadap standar asupan nutrisi ini berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok (maintenance), perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan reproduksi dari ternak. Implikasi dari kondisi asupan nutrisi ternak yang kurang, tak jarang dijumpai ternak dengan pertambahan berat hidup (ADG/  average daily gain) yang masih sangat jauh dari hasil yang diharapkan baik di tingkat peternakan rakyat  skala kecil maupun skala  industri.

Pengertian Pakan  dan Ransum

Pakan adalah semua yang bisa dimakan oleh ternak dan tidak mengganggu kesehatannya. Pada umumnya pengertian pakan (feed) digunakan untuk hewan yang meliputi kuantitatif, kualitatif, kontinuitas serta keseimbangan zat pakan yang terkandung di dalamnya. Menurut Hartanto, (2008),  pakan merupakan aspek yang penting karena 70% dari total biaya produksi adalah untuk pakan. Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga bagi ternak. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan makin besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.

Rasjid (2012), menyatakan bahwa pakan dapat digolongkan ke dalam sumber protein, sumber energi dan sumber sumber serat kasar. Hijauan pakan ternak  merupakan sumber serat kasar yang utama yang berasal dari tanaman yang berwarna hijau. Agar pakan tersebut dapat bermanfaat bagi ternak untuk menghasilkan suatu produk, pakan harus diketahui kandungan zat–zat yang terkandung didalamnya seperti air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.        Ransum adalah pakan jadi yang siap diberikan pada ternak yang disusun dari berbagai jenis bahan pakan yang sudah dihitung (dikalkulasi) sebelumnya berdasarkan kebutuhan industri dan energi yang diperlukan. Retnani et al. (2010), menyatakan bahwa pakan merupakan faktor penentu produktivitas ternak, sehingga ketersediaan pakan yang berkualitas baik merupakan persyaratan untuk pengembangan ternak di suatu wilayah.

Pemberian pakan berupa hijauan saja tidak mampu meningkatkan atau memaksimalkan produksi ternak. Selain karena sifat hijauan yang voluminous (bulky) juga ketersediaannya yang berfluktuasi  sehingga perlu adanya teknologi pengolahan pakan yang membuat pakan lebih tahan lama dan mudah disimpan serta memiliki palatabilitas tinggi. Lebih lanjut Tangendjaja (2009), menyatakan bahwa teknologi pakan mencakup semua teknologi mulai dari penyediaan bahan pakan sampai ransum diberikan kepada ternak.

Sistem Pemberian Pakan

Dalam memilih bahan pakan, beberapa pengetahuan penting berikut ini harus diketahui sebelumnya yaitu :

  1. Bahan pakan harus mudah diperoleh dan sedapat mungkin terdapat di daerah  sekitar sehingga tidak menimbulkan masalah biaya transportasi dan kesulitan  mencarinya;
  2. Bahan pakan harus terjamin ketersediaannya sepanjang waktu dalam jumlah yang mencukupi keperluan;
  3. Bahan pakan harus mempunyai harga yang layak dan sedapat mungkin  mempunyai fluktuasi harga yang tidak besar;
  4. Bahan pakan diusahakan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia yang sangat utama. Seandainya harus menggunakan bahan pakan tersebut maka usahakanlah agar digunakan satu macam saja;
  5. Bahan pakan harus dapat diganti dengan bahan pakan lain yang kandungan  zat-zat makanannya hampir setara;
  6. Bahan pakan tidak mengandung racun dan tidak dipalsukan atau tidak menampakkan perbedaan warna, bau atau rasa dari keadaan normalnya.

BPMPT (2011), melaporkan pakan ruminansia terdiri dari hijauan sebagai sumber serat. Hijauan merupakan bahan pakan pokok ternak ruminansia yang pada umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman biji-bijian atau jenis kacang-kacangan. Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua  :

  1. Sistem Penggembalaan (Pasture Fattening), adalah sistem penggembalaan  dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat  cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari untuk mengembalakan ternak.
  2. Sistem kereman  (dry lot fattening) adalah sistem yang menggembalakan ternak di dalam kandang,  Ternak tidak dilepas, pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/ disuguhkan.  Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% – 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput di tempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapur. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu.
  1. Sistem kombinasi cara pertama dan kedua adalah sistem ternak tersebut digembalakan dan dikandangkan. Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman.  Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (leguminosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.

Pemberian jumlah pakan berdasarkan periode sapi seperti anak sapi sampai sapi dara, periode bunting, periode kering dan laktasi. Pada anak sapi pemberian konsentrat lebih tinggi daripada rumput. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya.

(Sumber : Yenni Yusriani/nad.litbang.pertanian.go.id)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Comments are closed.