Populasi Ternak Sapi di NTT Masih Kurang

jokowi-tinjau-peternakan-sapi-NTT

DUNIATERNAK.COM , – Untuk menjawab kebutuhan daging bagi masyarakat DKI Jakarta maka seluruh komponen harus bekerja keras untuk mengembangkan populasi ternak di Nusa Tenggara Timur. Sampai dengan tahun 2013, populasi ternak di NTT mencapai 800 ribu ekor. Jika dibandingkan dengan kebutuhan daging untuk masyarakat DKI Jakarta maka ketersediaan ternak sapi di NTT masih sangat kurang.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT Thobias Uly menjelaskan PAD DKI Jakarta sebesar Rp7 trilun namun tidak memiliki populasi ternak. Berbeda dengan NTT yang PAD-nya sangat kecil tetapi berpotensi dalam sektor peternakan.

“Memang NTT potensi ternak sangat tinggi tapi saat ini jumlah populasi ternak masih kurang jika dikaitkan dengan perjanjian kerjasama dengan DKI Jakarta,” kata Thobias, Rabu (31/4).

Thobias menyampaikan, untuk mengembangkan populasi ternak di NTT maka tidak saja dilakukan pengembangan dengan pola tradisional. Pengembangan yang harus dilakukan adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) para petani ternak.

Menurut Thobias, pusat pembibitan ternak sapi perlu diprioritaskan untuk meningkatkan populasi ternak di NTT. Selain itu, ketersediaan dan pengembangan lahan untuk pakan ternak juga harus dilakukan disetiap kabupaten/kota di NTT. Para peternak perlu dibekali dengan menyediakan fasilitas pendukung.

Sejak 2013, setiap kabupaten/kota di NTT telah dibentuk 10 kelompok budi daya ternak. Kelompok-kelompok tersebut bertugas untuk mengelola mini ranch yang telah dibangun. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi krisis pakan pada setiap tahun. Mengenai perjanjian kerjasaman yang perlu ditindaklanjuti, Thobias menjelaskan masih dibutuhkan kesepakatan antara pemerintah DKI Jakarta dan NTT.

“Kita masih harus bahas apakah yang dikirim adalah daging segar atau sapi siap potong yang sudah digemukan,” kata Thobias.

Ia mengemukakan, yang lebih praktis adalah mengirim daging segar dari NTT ke DKI Jakarta. Jika yang dikirim adalah sapi siap potong maka resikonya sangat besar seperti berat sapi bisa berkurang sebelum tiba di lokasi tujuan. Selain itu, kalau yang dikirim adalah sapi hidup maka harus menggunakan armada kapal khusus yang fasilitasnya cukup tersedia seperti makanan dan minuman selama perjalanan.

Ia menambahkan, dana investasi sebesar Rp2 triliun dari pemerintah DKI Jakarta itu akan digunakan untuk mengimpor sapi dari Australia. Sapi impor itu akan dilakukan proses penggemukan di NTT lalu dikirim ke DKI Jakarta.

“Dana investasi Rp2 triliun semuanya tidak dipakai untuk impor sapi tapi sebagian digunakan untuk ketersediaan fasilitas sesuai dengan kesepakatan bersama,” jelas dia. (Sumber : Sinarharapan.co)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response