Peternak Sapi Butuh Bibit, Bukan Asuransi

Jual Sapi Bakalan

Para peternak sapi di Provinsi Lampung lebih membutuhkan bibit sapi dan modal usaha ketimbang asuransi. Pasalnya, jika hanya mengandalkan modal sendiri dan pasokan bibit sapi dari peternak rakyat sulit untuk mencapai swasembada sapi.

Demikian pendapat peternak sapi di Lampung terkait peluncuran asuransi sapi oleh Kementerian Pertanian (Kementan), baru-baru ini. Sebelumnya Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan menyebutkan, premi asuransi sapi sebesar Rp 200.000-Rp 300.000 yang dibebankan kepada peternak swadaya.

Sementara beban premi swadaya untuk sapi potong sebesar Rp 200.000 per ekor per tahun dengan harga pertanggungan induk Rp 10 juta. Sapi perah sebesar Rp 300.000 per ekor per tahun dengan harga pertanggungan induk Rp 15 juta per ekor.

Menurut drh I Ketut Suwendra, peternak sapi lokal skala menengah di Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah, pihaknya sudah mendengar adanya asuransi sapi yang diluncurkan Kementan. Namun, Ia menilai asuransi tersebut baru disosialisasikan dan belum mendapat respon dari peternak.

Hal itu, ujar Ketut, karena yang dibutuhkan peternak sebetulnya adalah sumber bibit, bukan asuransi. “Kalau kita hanya mengandalkan sumber bibit dari peternak rakyat tidak akan mampu mencapai swasembada sapi,” jelasnya ketika dihubungi SH, Jumat (1/11).

Untuk mengatasinya, Ketut mengharapkan pemerintah melalui BUMN membentuk perusahaan pembibitan sapi untuk jangka panjang. “Dari sebanyak ini PTPN, beberapa PTP saja yang bergerak di bidang pembibitan sapi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan peternak lokal,” ungkapnya.

Kalau hanya mengandalkan pembibitan sapi dari pihak swasta saja, ujar Ketut, akan tetap sulit, sebab paradigma dan orientasi pemerintah dan swasta hanya impor. Ia mencontohkan wacana membeli lahan peternakan di luar negeri tidak efektif.

Modal Usaha
Sementara itu, drh Nanang P Subendro dari Asosiasi Peternak dan Penggiat Sapi Lokal di Lampung menyatakan pihaknya masih mempelajari asuransi sapi yang ditawarkan Kementan. Namun, ujarnya, yang paling dibutuhkan peternak rakyat untuk mengembangkan usaha adalah modal usaha.

Menurut Nanang, pihaknya sudah merintis kemitraan dengan peternak kecil, namun upaya ini terkendala soal permodalan. “Yang hingga kini tersedia hanya kredit perbankan sehingga dalam menyalurkan kredit, perbankan menerapkan persyaratan ketat sebagaimana kredit pada umumnya. Persyaratan ini lah yang sering tidak bisa dipenuhi oleh peternak, terutama peternak kecil,” ujar Nanang ketika dihubungi SH, Jumat.

Untuk mengatasinya, tambah Nanang, bisa dilakukan dengan mekanisme bapak angkat, dimana peternak menengah menjadi penjamin (avalis). Namun, katanya, belum banyak peternak skala menengah yang bersedia menjadi avalis. Untuk itu, Asosiasi Peternak dan Penggiat Sapi Lokal mengusulkan kepada pemerintah agar menyediakan dana agar yang tidak serumit mengakses kredit perbankan. (Sumber : Sinar Harapan)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response