Peternak Belum Gunakan Pakan TernakAlternatif

Pakan Ternak fermentasi

Selain bertani, sebagian besar masyarakat yang tinggal di pedesaan juga berprofesi sebagai peternak, misalnya sapi, kerbau atau kambing. Kebanyakan masyarakat hanya memberikan pakan rumput dan baru sedikit yang memberi sumber pakan ternak alternatif sehingga ketika rumput mulai sulit ditemukan, peternak kebingungan.

Peneliti nutrisi ternak di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut), Tatang Ibrahim, mengatakan, pakan alternatif sebenarnya sangat mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Namun hanya sedikit yang memanfaatkannya sebagai pakan ternaknya.

“Kalau mengandalkan rumput, sekali waktu bisa jadi tidak akan mencukupi mengingat lahan perkebunan kelapa sawit semakin bertambah luas. Bahkan tak jarang perkebunan kelapa sawit yang meracuni rumputnya dengan tujuan agar ternak masyarakat tidak mengganggu kelapa sawitnya. Kalau sudah begini, ya wajar kalau rumputnya semakin sulit dicari,” katanya kepada MedanBisnis, Selasa (2/7) di Medan.

Selain itu, lanjut Tatang, selama ini peternak hanya mengandalkan rumput alam yang tumbuh dengan sendirinya. Padahal, agar pertumbuhan ternaknya maksimal, rumput yang menjadi konsumsinya juga harus baik. Namun, pertumbuhannya tidak selalu maksimal. “Peternak tidak pernah memupuknya, padahal, rumputnya semakin jarang,” katanya.

Ia menuturkan, ketika rumput semakin sulit dicari, keberadaan pakan alternatif merupakan keharusan agar pertumbuhannya bisa didukung dengan pakan yang mencukupi kebutuhannya.
Dijelaskannya, pakan-pakan alternatif tersebut antara lain daun ubi kayu, pelepah kelapa sawit, jerami padi, jerami jagung dan kedelai, daging kakao, bahkan kulit luar buah kopi. “Tapi selama ini memang banyak masyarakat yang belum tahu,” katanya.

Sebagai contoh, kata dia, jerami padi kebanyakan dibiarkan saja di sawah ataupun dibakar. Padahal, jerami padi sangat bagus untuk konsumsi sapi. “Misalnya kalau sudah difermentasikan selama 21 hari dengan trichoderma, itu sangat baik untuk konsumsi ternak,” katanya.

Menurutnya, jika hal tersebut bisa dilakukan, maka integrasi antara pertanian dengan peternakan akan terjadi. Apalagi, kata dia, sistem integrasi tanaman – ternak (SITT) memiliki prinsip saling menguntungkan antar komponen. “Misalnya kalau di sawah, ternaknya bisa makan jerami, sawahnya dapat komposnya, jadi saling menguntungkan,” kata Tatang. (Sumber : Medan Bisnis)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response