Perhutani Bojonegoro Ternak Sapi Melalui Sistem Silvopastural

ternak sapi silvopastural

DUNIATERNAK.COM, – Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bojonegoro menyiapkan lahan untuk kegiatan peternakan sapi melalui sistem silvopastural di tiga petak, yaitu petak 73b seluas 16,9 Ha, petak 73c dengan luas 8,3 Ha dan petak 73d seluas 3,4 Ha di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ringginanom, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Nglambangan, KPH Bojonegoro.

Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Erwin, Jumat (4/12) mengatakan, kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Peternakan Jawa Timur. Sebanyak 20 ekor sapi bantuan bergilir dari Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur sudah diterima oleh Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Manunggal I, Kasno dan juga disediakan kandang oleh kelompok tersebut.

Pada peternakan sistem tersebut, kandang harus memenuhi standar yang telah ditentukan. Sesuai aturan di Perum Perhutani, didalam kawasan hutan memang tidak diperbolehkan ada bangunan permanen. Jenis tanaman yang disiapkan untuk pakan ternak sapi adalah rumput gajah. Selain itu lokasi akan ditanami Jati, Mahoni dan Klirisidi.

Sistem Silvopastoral merupakan produksi ternak berkelanjutan pada masa yang akan datang melalui sistem peternakan hutan, meliputi semak, daun atau buah-buahan pada pohon serta rumput-rumputan sebagai pakan ternak.

Konsumen saat ini menuntut pangan yang lebih berkelanjutan serta bersumber yang baik, termasuk produksi pangan tanpa dampak negatif terhadap kesejahteraan hewan, lingkungan dan mata pencaharian peternak kecil. Dengan sistem Silvopastoral dapat mengatasi semua kekhawatiran ini dimana akan memberikan manfaat tambahan dan peningkatan produksi dalam jangka panjang.

Peternakan sapi sistem silvopastoral, dapat menjaga keanekaragaman lingkungan. Produksi sapi saat ini (peternakan sapi sistem konvensional) sebagian besar terjadi pada padang rumput yang dibersihkan dengan hanya menyisakan tanaman seperti rumput, tanaman tanaman rumput ini tumbuh sebagai makanan untuk sapi. Namun hal ini memberikan efek terhadap lingkungan setempat dikarenakan penebangan pohon dan semak-semak serta peningkatan penggunaan herbisida mengakibatkan penurunan dramatis keanekaragaman hayati daerah tersebut. Selain itu sistem yang ada sekarang juga turut menyumbang kontaminasi terhadap tanah dan saluran air oleh bahan kimia pertanian, serta menambah beban biaya karbon karena kendaraan dan pupuk buatan diperlukan untuk mempertahankan padang rumput tersebut.

Para peneliti menganjurkan dengan menggunakan berbagai kelompok tanaman pangan seperti yang terjadi di sistem Silvopastural menjadikan tanah menjadi lebih sehat dengan retensi air yang lebih baik, mengurangi predator hewan berbahaya, meminimalkan emisi gas rumah kaca, meningkatkan kepuasan kerja bagi pekerja peternakan, mengurangi cedera dan stres pada hewan, meningkatkan kesejahteraan dan mendorong keanekaragaman hayati karena menggunakan semak serta pepohonan asli daerah tersebut.

Selain itu, daun dan tunas dari semak dan pepohonan tersebut dapat dimakan oleh ternak bersama dengan tanaman rumput, sehingga menghasilkan lebih banyak makanan untuk ternak per satuan luas lahan daripada hanya dengan tanaman rumput saja. Pohon dan semak memiliki manfaat tambahan memberikan naungan dari terik matahari dan berlindung saat hujan. Hal ini juga dapat mengurangi stres dengan memungkinkan ternak untuk bersembunyi dari bahaya yang dirasakan.(Sumber: jatimprov.go.id)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Comments are closed.