Pengamat Dukung Bank Selektif Kredit Sapi

kups

Kredit Usaha Peternakan Sapi – Pengamat Perternakan dan Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang, Leta Rafael Levis, M.Rur mendukung sikap hati-hati Bank NTT menyeleksi masyarakat atau pengusaha yang tidak berpengalaman menerima kredit usaha peternakan sapi.

Bank NTT tentunya tidak bisa memberikan kredit begitu saja kepada masyarakat atau pengusaha yang tidak berpengalaman di bidang peternakan karena resiko sosial dan hukumnya sangat berat,’ katanya di Kupang, Jumat.

Dosen pada Fakultas Pertanian ini mengatakan hal itu terkait skim kredit usaha peternakan sapi (KUPS) yang disiapkan Bank NTT namun tidak dimanfaatkan pengusaha ternak sapi di daerah itu senilai Rp66 miliar.

Pagu KUPS sebesar itu dialokasikan pemerintah dan dititip lewat Bank NTT untuk pengembangan setiap 7.500 ekor sapi dengan dana sebesar Rp66 miliar.

Leta Levis mengatakan, sasaran pemberian KPUS tersebut adalah peternak dan pengusaha, tetapi bank membutuhkan rekanan yang berpengalaman untuk membangun dan mengembangkan industri peternakan di daerah berbasis kepulauan itu.

Ia mengatakan, Bank NTT butuh pengusaha peternakan yang punya manajemen pembibitan, pengembangan, pakan yang baik, manajemen rumah potong hewan (RPH) yang higienis dan manajemen transportasi serta distribusi yang baik dalam memasarkan produksi tersebut.

‘Usaha ternak merupakan suatu proses mengkombinasikan faktor-faktor produksi berupa lahan, ternak, tenaga kerja, dan modal untuk menghasilkan produk peternakan,’ katanya.

Dia mengatakan, keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsuryaitu bibit, pakan, dan manajemen atau pengolahan.

Manajemen mencakup pengelolaan perkawinan, pemberian pakan, perkandangan dan kesehatan ternak.

‘Manajemen juga mencakup penanganan hasil ternak, pemasaran dan pengaturan tenaga kerja,’ katanya.

Menurut dia, peranan ternak sapi dalam pembangunan peternakan cukup besar terutama dalam pengembangan misi peternakan diantaranya sumber pakan hewani asal ternak, berupa daging dan susu, sumber pendapatan masyarakat terutama petani peternak.

Berikut penghasilan devisa yang sangat diperlukan untuk membiayai pembangunan nasional menciptakan angkatan kerja, sasaran konservasi lingkungan terutama lahan melalui daur ulang pupuk kandang dan pemenuhan sosial budaya masyarakat dalam ritus adat dan kebudayaan ‘Usaha ternak dapat digolongkan dalam usaha yang bersifat tradisional yaitu petani/peternak kecil yang mempunyai 1-2 ekor ternak ruminansi besar, kecil bahkan ayam kampong. Usaha ini hanya bersifat sambilan dan untuk sampingan saja,’ katanya.

Padahal sapi tergolong ternak besar yang sudah lama dipelihara masyarakat, dan merupakan sumber pendapatan tambahan bagi peternak dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Tidak jelasnya tujuan pemeliharaan yang dilakukan peternak, membuat tidak begitu besar dampaknya terhadap pendapatan keluarga.

‘Usaha ternak sapi potong dapat meningkatkan kesejahteraan peternak jika pemeliharaan dilakukan dengan teratur atau intensif. Dimana pemeliharaan sistem intensif merupakan pemeliharaan yang seutuhnya dilakukan di dalam kandang, padahal keberhasilan suatu usaha ternak tergantung pada bibit, pakan dan pengelolaan.

Faktanya usaha ternak sistem intensif membutuhkan pengetahuan, ketrampilan dan menejemen dari peternak yang cukup baik, tetapi sebaliknya kurangnya pengawasan mengenai teknologi pakan, perkawinan, perkandangan, pemasaran dan penyakit menyebabkan rendah produktivitas sapi yang dikelola masyarakat.

Permasalahan tersebut tidak lepas perannya peternak dan lembaga terkait dalam menyediakan informasi-informasi mengenai usaha ternak sapi potong, baik itu teknologi pakan, reproduksi, pemeliharaan, penyakit dan bibit yang dapat meningkat. tingkatkan produksi sapi masyarakat.(Sumber : ciputranews.com)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response