Peneliti BPTP Kembangkan Pakan Unggas Dari Kotoran Sapi

Kandang Ayam Kampung

Di tengah ramainya isu daging sapi yang hingga kini sebagian kebutuhannya masih diimpor terutama dari Australia, muncul inovasi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali untuk memanfaatkan kotoran sapi sebagai pakan unggas.

”Bila teknologi ini berhasil diterapkan akan dapat meningkatkan minat petani untuk memelihara sapi. Sekaligus untuk mendorong berkembangnya usaha budi daya itik dan ayam kampung,” jelas Ketua Tim Peneliti BPTP Bali Suprio Guntoro.

Data di Dinas Peternakan Povinsi Bali menyebutkan, populasi sapi potong di Bali mencapai lebih dari 600.000 ekor, dan setiap tahun Bali mensuplai sapi ke Jawa, khususnya DKI rata-rata lebih dari 50.000 ekor.

Di pihak lain, Bali masih harus memasukkan daging itik dan ayam kampung dari luar daerah, terutama Jawa, mengingat konsumsi daging unggas terus meningkat setiap tahun. Para peternak itik potong maupun ayam kampung sulit untuk bersaing dengan peternak dari Jawa karena harga pakan yang relatif tinggi.

Di Jawa bahan konsentrat sumbernya cukup banyak karena banyak industri pengolahan hasil pertanian, seperti industri minyak kelapa, kecap, minyak kedelai, margarine, dll, sehingga limbahnya bisa dimanfaatkan untuk pakan. Sementara di Bali sumber konsentrat konvensional amat terbatas.

Dengan padatnya populasi sapi di Bali, sehingga produksi feses (kotoran) cukup tinggi. Setiap hari diperkirakan ada 6.000 ton produksi kotoran sapi segar, dan pemanfaatannya baru terbatas untuk kompos. Melalui proses pengolahan, limbah tersebut bisa dimanfaatkan untuk pakan unggas.

Pengolahan dilakukan melalui proses fermentasi dengan inokulan khusus untuk meningkatkan kandungan protein, serta menurunkan kandungan serat kasarnya. Tetapi, menurut Guntoro, akan lebih baik bila sebelum difermentasi limbah sapi segar dipanasi (dikukus) lebih dahulu untuk membunuh mikroba-mikroba yang pathogen.

Hasil akhir pengolahan berupa tepung limbah sapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan ransum dan dicampur dengan bahan-bahan konsentrat lain.

Menurut Suprio Guntoro, limbah sapi olahan dapat digunakan dalam ransum itik potong hingga level 20 persen dari total ransum. Penggunaan limbah tersebut tidak menyebabkan penurunan pertumbuhan, bahkan dapat meningkatkan persentase karkas. Sementara, penelitian yang dilakukan di Desa Jehem, Bangli, pada ayam buras petelur, limbah sapi olahan dapat digunakan dalam ransum hingga 15 persen.

Penggunaan limbah sapi olahan hingga 15 persen dalam ransum ayam buras petelur masih lebih menguntungkan dibanding penggunaan ransum konvensional. Tetapi keuntungan tertinggi diperoleh pada penggunaan limbah sapi pada level 10 persen.

Tim Peneliti terdiri dari Suprio Guntoro (Ketua), Dr. Made Rai Yasa, A.A. Ngurah Badung Sarmuda Dinata, S.Pt, MP., Drh. I Wayan Sudarma, dll. Rencananya penelitian ini akan terus dilanjutkan, dengan melakukan kombinasi penggunaan limbah sapi dengan probiotik, untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan.

Diharapkan hasil penelitian ini akan dapat mendukung pengembangan ternak itik dan ayam kampung di Bali, sekaligus meningkatkan nilai tambah usaha tani sapi. (Sumber : Bali Post)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response