Peghasilan Peternak Jangkrik Setara Kepala Dinas

Penghasilan Peternak Jangkrik

Peghasilan Peternak Jangkrik Setara Kepala Dinas – Saat kuliah Bambang Setiawan (27) bercita-cita berwiraswasta. Selama berstatus mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), ia pernah menjajakan beberapa dagangan di Gasibu, Bandung, di antaranya kaus kaki.

Selepas kuliah pada 2010, Bambang tetap menjaga cita-cita itu. Ia sempat membuka toko pertanian, kemudian menjadi agen tiket pesawat. “Saya tidak pernah melamar kerja,” ujarnya ketika ditemui Tribun di satu di antara lokasi peternakan jangkrik di Jalan M Ramdhan No 108, RT 03/06, Desa Bakung Kidul, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jumat (7/12).

Sebenarnya ia tak sendirian. Bambang memimpin 14 kawannya mengembangkan ternak jangkrik. Mereka memiliki tiga lokasi ternak dengan total ratusan kotak telur dan kotak ternak jangkrik.

Separuh dari peternakan itu milik Bambang. Usaha itu bisa memperoleh omzet per hari Rp 67.500.000 hingga Rp 135.000.000 dengan menjual 50 hingga 100 kilogram jangkrik.

Tak mengherankan jika Bambang bangga soal penghasilannya per bulan. “Ya, bisa setara dengan kepala dinas lah,” kata pria itu lalu tertawa. “Itu kalau sedang laku seluruhnya,” ujarnya menambahkan. Ia pun menyejajarkan 14 peternaknya dengan para pegawai negeri sipil (PNS).

Bambang dan rekan-rekannya membuat setiap paket jangkrik 1 kg dengan harga berbeda. Ia mematok harga Rp 35.000 sampai Rp 50.000 untuk pedagang jangkrik di wilayah III Cirebon, yakni Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Indramayu. Selain itu, ia memasarkan jangkrik ke Bandung dengan label Rp 40.000 sampai Rp 55.000 per kg.

Namun ia memberikan harga lebih murah kepada para penjual jangkrik dari kelompoknya, yakni Rp 28.000 hingga Rp 42.000. Nilai omzet tadi diperoleh dari rata-rata Rp 30.000 hingga Rp 45.000 per kg untuk semua lokasi pemasaran. Selain menjual jangkrik, Bambang pun mengirim telur-telur jangkrik ke beberapa wilayah di Indonesia.

“Kalau penjualan telur jangkrik, kami berada di level nasional,” katanya. Beberapa pasar yang pernah jadi tujuan antara lain sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan beberapa kota di Pulau Jawa. Harga bervariasi sesuai tujuan pasar. Setiap kilogram telur jangkrik bernilai Rp 250.000 sampai Rp 350.000 untuk penjualan di wilayah III Cirebon.

Harga itu naik Rp 50.000 untuk daerah Jabar, selain wilayah III Cirebon. Di luar Jabar, Bambang mematok harga Rp 400.000 sampai Rp 500.000. Tiap pekan Bambang dan kawan-kawannya bisa menjual rata-rata 2-4 paket berisi 5 ons dan 1 kg telur jangkrik.

Bambang optimistis usaha ternak jangkriknya bertahan untuk waktu yang lama. “Selama masih ada pehobi burung kicau, usaha ini pasti terus berkembang. Apalagi akhir-akhir ini pehobi burung kicau sedang booming,” ujarnya. Menurut ayah satu anak itu, sejauh ini jangkrik 90 persen untuk makanan burung kicau.

“Semakin banyak makan jangkrik, kicau burung semakin bagus,” katanya. Sebagian kecil jangkrik untuk makanan ikan. “Ada yang mulai untuk pembuatan tepung jangkrik, tapi jumlahnya masih sangat sedikit,” ujarnya. Tepung jangkrik, terutama pengumpulan protein binatang jenis serangga itu, baik untuk keperluan pengobatan dan kosmetik.

Usaha Bambang memang tidak mulus. Berawal dari ketertarikan budi daya yang sederhana tanpa banyak merepotkan itu, ia mengeluarkan modal Rp 7 juta, yakni Rp 4 juta untuk membeli 50 kotak ternak jangkrik dan Rp 3 juta untuk membeli telur jangkrik. Awalnya, ia bergabung dengan bandar jangkrik di Majalengka.

Seiring dengan bangkrutnya bandar jangkrik itu setengah tahun kemudian, ia harus memulai usaha sendiri. Ia mencari lokasi pemasaran di wilayah III Cirebon dan Bandung. Lalu ia mengajak sekitar 29 peternak untuk membentuk kelompok baru. Dalam perjalanannya, rekan-rekannya mundur dari kelompok hingga sisa separuh.

“Butuh tiga bulan untuk merintis pasar. Selama itu, kelompok kami tidak mendapat untung,” katanya. Keempat belas rekannya itu berasal dari tiga desa di tiga kecamatan yang berbeda, yakni Desa Bakung Kidul (Jamblang), Desa Pamijahan (Plumbon), dan Desa Pegagan Lor (Kapetakan). Menurutnya, ternak jangkrik bisa mendapat untung setengah dari biaya produksi dan pemasaran.

Kondisi itu mengandaikan semua panenan terjual. “Intinya bukan untung besar, tapi kontinuitas usaha. Tak hanya tergiur harga tinggi untuk membuka usaha, melainkan jangka panjang. Awalnya berniat untuk berusaha minimal dua tahun dan fokus,” ujar anak bungsu dari lima bersaudara itu. (Sumber : Tribun)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response