Pakan Ternak Rendah Emisi

pakan ternak rendah emisi

Pakan Ternak Rendah Emisi ¬†–¬†Program percepatan swasembada daging 2014 turut berkontribusi terhadap pemanasan global. Lantas, bagaimana cara beternak yang lebih ramah lingkungan?

Seorang peternak tampak gugup saat dihampiri awak media. Sini, begitu dia memperkenalkan nama singkatnya. Raut mukanya terlihat tegang ketika menjelaskan maksud kedatangannya dalam acara Panen Pedet 2012 di Banyumulek, Nusa Tenggara Barat (NTB), belum lama ini.

“Saya hanya memenuhi undangan dan ingin memeriahkan acara ini,” kata pria berusia 50 tahun itu dengan terbata-bata sembari menunjukkan empat induk sapi beserta pedet miliknya.

Ditanya bagaimana cara memelihara pedetnya supaya tumbuh sehat? Sini hanya terbengong. Lalu, dia memanggil salah satu temannya agar menjawab pertanyaan wartawan. Menurut Muwardi, tidak ada yang istimewa meskipun pedet tersebut hasil teknologi inseminasi buatan (IB) sexing. “Kami hanya merawat dan memberikan pakan hijauan yang tersedia banyak di sekitar kandang,” jelas Muwardi dengan nada suara lebih tegas.

Apabila pedet sudah besar, tambah dia, dapat dijual dengan harga sesuai kesepakatan. Biasanya sapi yang terjual akan digemukkan dulu oleh pembelinya. Setelah dianggap memenuhi bobot tertentu, kemudian akan dipotong untuk memenuhi kebutuhan daging lokal.

Cara ternak tradisional yang diungkapkan Muwardi tersebut merupakan salah satu upaya untuk mendorong program swasembada daging 2014. Namun, disadari maupun tidak, program tersebut turut berkontribusi terhadap produksi gas metana (CH4) secara signifikan karena peternak tradisional hanya menggunakan pakan hijauan.

Peneliti senior nutrisi ternak Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Suharyono, menjelaskan pemberian pakan hijauan pada ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba, dan kambing) yang notabene berserat tinggi akan mendorong pembentukan gas metana lebih banyak.

“Emisi gas metana diproduksi ternak ruminansia melalui proses pencernaan dan dikeluarkan melalui mulut (sendawa) ke atmosfer Bumi. Sebagian gas metana juga berasal dari kotoran ternak ruminansia,” ungkap Suharsono di sela-sela acara Panen Pedet 2012, di NTB.

Runyamnya, gas metana merupakan salah satu senyawa yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca (green house gas) penyebab pemanasan global. Komposisi metana di atmosfer lebih rendah ketimbang gas karbondioksida (CO2), namun daya tangkap terhadap panas jauh lebih tinggi. Metana akan bereaksi dengan ozon atmosfer sehingga menipiskan pelindung Bumi dan menyebabkan pemanasan global.

Meski belum ada estimasi perhitungan emisi dari program swasembada daging 2014, hasil penelitian terdahulu menyebutkan sekitar 50 persen emisi gas metana merupakan hasil aktivitas manusia yang berasal dari kegiatan pertanian. Nah, sekitar 66 persen emisi metana berasal dari peternakan, terutama hewan ruminansia.

“Gas metana tersebut, selain berdampak buruk bagi lingkungan juga berpengaruh terhadap ternak itu sendiri. Ternak dapat kehilangan energi dari total kimia yang tecerna,” jelas Suharyono yang mendapat gelar Master Rural Science (M Rur Sci) dari University of New England, Armidale New South Wales, Australia.

Formula Pakan Ternak Rendah Emisi
Atas dasar permasalahan tersebut, Suharyono mendesain formula pakan ternak rendah emisi. Dia berusaha tidak mengubah karakter para peternak yang selama ini memberikan pakan hijauan, tapi menambahkannya dengan pakan konsentrat agar komposisi gizi ternak seimbang. Pakan konsentrat adalah bahan makanan yang konsentrasi gizinya tinggi, tetapi kandungan serat kasarnya relatif rendah dan mudah dicerna.

Tidak kalah penting, formula itu dapat menurunkan emisi gas rumah kaca pada ternak rakyat. “Intinya, kalau ingin gas metana yang dilepas itu rendah, kebutuhan antara protein dan energi (karbohidrat) harus seimbang,” tandas Suharyono.

Langkah awal penyediaan pakan pokok, lanjut Surharyono, harus gampang ditemukan peternak di wilayahnya, khususnya menjelang musim kemarau. Sebagai contoh, di NTB banyak tersedia tanaman jagung yang dapat diolah optimal untuk pakan pokok penyedia karbohidrat. Daun jagung dapat dipakai sebagai sumber hijauan ternak. Biji jagung juga bisa diolah menjadi tepung dan dedak. Begitu pula tongkolnya dapat digiling menjadi tepung.

Adapun sebagai sumber protein, dapat menggunakan kedelai dan daun singkong yang telah diolah menjadi tepung. “Beberapa komponen dari tanaman jagung tersebut merupakan sumber karbohidrat, sedangkan tepung kedelai dan daun singkong berfungsi sebagai baypass sumber protein. Formula pakan ini mampu mereduksi emisi gas metana sebesar 45 persen,” klaim Suharyono.

Pada sisi lain, Suharyono juga telah membuat pakan instan yang dapat diaplikasikan langsung oleh para peternak, yaitu urea molasses multinutrient block (UMMB) dan suplemen pakan multinutrien (SPM). Formula pakan ini diperoleh dari bahan limbah industri pertanian. Bahan baku formula UMMB, antara lain molase, dedak/bekatul, onggok, bungkil kedelai, tepung tulang, biji kapuk, daun singkong, urea, lakta mineral, garam dapur, dan kapur. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan komposisi tertentu dan diolah sedemikian rupa hingga berbentuk padat.

Sementara itu, formula pakan SPM di antaranya molase, bungkil, urea, tepung roti, ampas kecap, dan gamal. Seperti halnya UMMB, formula ini dicampur dengan komposisi tertentu dan diolah menjadi padatan. Pemberian formula pakan secara tepat dapat meningkatkan produksi ternak, efisiensi pencernaan ternak, meningkatkan kinerja reproduksi, dan memperbaiki kandungan gizi, mineral, serta vitamin pada pakan.

“Selain dapat meningkatkan bobot ternak, formula pakan SPM dapat mereduksi sekitar 60 persen gas metana,” klaim Suharyono. Tak berlebihan jika pakan ini diklaim lebih ramah lingkungan karena rendah emisi. (Sumber : Koran Jakarta)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response