Pakan Ternak dari Sampah Organik


DUNIATERNAK.COM, – Deru mesin diesel meraung-raung saling bersahutan dari sebuah pabrik di Jalan Persahabatan Ujung, Kampung Cikupa, Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat. Sejumlah pekerja tampak melakukan aktivitas memilah, memecah, dan mengaduk sampah yang jadi bahan baku produksi pakan ikan alias pellet.

Di sudut lain, dua pekerja tengah mengemas material hasil olahan ke dalam karung. Begitulah sekilas rutinitas di tempat produksi pakan dan pengolahan limbah milik Bina Tenaga Inti Rakyat (BITIR), yang dikelola oleh Rudi Murodi. “Beginilah tempat kami, maaf bau sampah ya?” tuturnya seperti dilansir Kontan.

Di lahan seluas kurang lebih 1.000 meter persegi mencakup bangunan utama yang difungsikan sebagai tempat produksi. Bagian ini menyatu dengan sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal para pekerja BITIR. Di sebelah utara rumah, ada bangunan terpisah untuk proses fermentasi bahan baku. Lebih ke bawah lagi, berderet kolam-kolam ikan.

Rudi menampik jika tempat ia memproduksi pakan ternak ini disebut dengan pabrik. Meskipun di lokasi ini terdapat delapan unit mesin produksi pellet berbagai tipe dengan fungsi yang berbeda-beda. Tapi memang untuk disebut dengan ukuran pabrik, tempat ini tergolong pabrik sederhana.

Di tangan Rudi, sampah makanan baik dari rumahtangga, pasar, warung makan, restoran, dan minimarket, dia olah menjadi pakan ternak. Dengan mempekerjakan 10 karyawan, Rudi bisa mengolah tiga ton sampah organik per hari. Hampir separuh dari limbah ini disulap menjadi pakan ikan.

Dari pellet saja, omzet dalam sebulan bisa mencapai Rp 150 juta-Rp 250 juta. Selain produksi pakan ternak, Rudi juga mengolah sampah cair, kompos, dan budidaya ikan. Namun pendapatan dari ketiga usaha itu tidak begitu besar. Harga pellet racikan Rudi sangat terjangkau, hanya Rp 5.000 per kg. Bandingkan dengan pellet pabrikan di pasaran yang berkisar Rp 9.000–Rp 18.000 per kg.

Adapun wilayah pemasaran tidak hanya di Depok dan Bogor, tapi juga digunakan para peternak di Kuningan, Indramayu, dan Waduk Cirata. Bahkan pada awal produksi penjualan pellet sampai ke Sumatra dan Kalimantan. Kini permintaan dari luar Jawa sudah dihentikan akibat banyak yang menunggak.

Rudi merintis usaha pembuatan pakan ternak sejak 2011 silam. Saat itu ia memutuskan berhenti sebagai pimpinan proyek di perusahaan pengembang properti yang dia lakoni selama 15 tahun. Semangat dan tekad kuat ingin memiliki usaha mandiri mendorong Rudi menjadi seorang pengusaha.

Sejatinya BITIR merupakan kelompok tani yang fokus pada usaha budidaya ikan. Selaku ketua kelompok tani yang banyak menaungi peternak ikan, Rudi merasakan betul sulit mendapatkan pakan ikan dengan harga murah. Padahal dalam budidaya, pakan sangat menentukan kualitas dan produksi.

Di sisi lain, ia mendapati volume sampah di wilayah Depok terus meningkat seiring bertambahnya penduduk. Rudi pun putar otak. Ia belajar membuat pakan secara autodidak. Tujuan ayah tiga anak ini membuat pakan ternak alternatif agar bisa membantu para peternak yang kesulitan memperoleh pakan.

Bukan perkara mudah memulai sebuah ide yang dianggap orang lain tidak wajar. “Awalnya banyak yang mencibir. Gila, bikin pakan ikan dari sampah, apa bisa?” kenang Rudi.

Selama enam bulan melakukan ujicoba, pakan racikan Rudi dari campuran sisa kepala ikan, ampas tahu dan kelapa plus sisa makanan lainnya, tak membuahkan hasil.

Ketika pakan ditabur ke kolam budidaya, semua ikan mati. Hal sama dilakukan pada ayam, mati juga akibat lambung ayam kembung setelah memakan pakan. Setelah banyak membaca buku-buku, Rudi berkesimpulan bahan baku dari sisa makanan tidak bisa langsung diproses. Tapi harus melewati fermentasi untuk menghilangkan bakteri jahat dan menetralkan zat amonia dalam sisa makanan.

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Comments are closed.