Pabrik Susu Marak, Peternak Sapi Perah Kewalahan Penuhi Permintaan

Peternak Sapi Perah

Peternak sapi perah di Jatim & Jabar kesulitan memenuhi kebutuhan susu bagi kelompok industri yang ditaksir mencapai 2.500 ton liter per hari.

Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur Sulistyanto mengungkapkan kapasitas produksi susu di kedua wilayah tersebut hingga kini hanya mampu menyuplai sekitar 1.600 ton liter per hari, terdiri dari Jawa Timur sekitar 1.000 ton liter per hari, dan Jawa Barat sebanyak 600 ton liter per hari.

Bahkan, ucap Sulistyanto, Jawa Timur kerap menambal keterbatasan pasokan susu bagi Jawa Barat sebanyak 200—300 ton liter per hari. Pertumbuhan pabrik minuman dan makanan berbahan baku susu di Indonesia membuat industri sapi perah kewalahan memenuhi permintaan.

“Di Jawa Timur saja, pertumbuhan pabrik susu sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini sudah ada 75 pabrik yang membutuhkan sekitar 1.500 ton liter susu per hari,” ungkapnya.

Sulistyanto mencatat terdapat sejumlah pabrik-pabrik besar di Jawa Timur yang kesulitan bahan baku susu. Nestle, katanya, saat ini hanya mampu memenuhi 700 ton liter susu per hari. Padahal, kapasitas produksi pabrik Nestle diperkirakan mencapai 1000 ton liter susu per hari.

Belum lagi, sejumlah perusahaan pengolah susu mulai gencar berekspansi membangun pabrik-pabrik baru. Indolakto, misalnya, memiliki 2 pabrik pengolahan di Padaan dan Purwosari yang membutuhkan suplai bahan baku sekitar 500—600 ton liter per hari.

Fenomena serupa juga terjadi di Jawa Barat. Sejumlah pabrik susu milik Frisian Flag, Ultra jaya, dan Sekar Tanjung, Garuda Food belum mampu memaksimalkan kapasitas produksi. Hal itu dapat memicu persaingan usaha tidak sehat akibat terbatasnya bahan baku susu.

“Faktanya, saat ini pabrik-pabrik rebutan susu. Mereka sudah tidak mempertimbangkan lagi kualitas susu dan mutu nutrisinya,” jelasnya.

Menurut Sulistyanto, peningkatan kebutuhan susu bagi kelompok industri perlu diikuti oleh pertumbuhan populasi sapi perah di sentra-sentra produksi. Jawa timur, katanya, sedikitnya membutuhkan pasokan bibit sapi perah minimal 10.000—15.000 ekor per tahun.

Di samping itu, serunya, kebutuhan pakan ternak juga perlu tercukupi maksimal. Dia mendorong pemerintah mengimpor produk pakan olahan Lubin dan Gandum yang didatangkan dari Australia.

“Jadi, selain impor bibit dari Australia, kalau bisa disertakan pakan konsentrat yang memang kualitasnya sudah baik,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Maskur mengakui populasi sapi perah saat ini sangat terbatas guna mencukupi kebutuhan bahan baku susu bagi kelompok industri. Populasi sapi di Jawa Timur saat ini hanya mencapai 300.000 ekor.

Menurut Maskur, peningkata populasi sapi perah di Jawa Timur dapat dilakukan melalui proses importasi serta pemuliaan hasil persilangan bibit unggul. Impor bibit sapi perah asal Australia tahun ini telah terealisasi sebanyak 461 ekor.

“Kami menargetkan tahun depan populasi sapi perah di Jatim dapat bertambah 100.000 ekor,” cetusnya. (bisnis)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

One Comment on "Pabrik Susu Marak, Peternak Sapi Perah Kewalahan Penuhi Permintaan"

  1. adi November 26, 2012 at 11:50 pm - Reply

    kendala : banyak yang tidak mau ternak sapi perah dengan harga susu yang sekarang (3.100-3.400)/liter dengan diimbangi pakan yang mahal n kwalitas dari koperasi yang naik turun mengikuti kwalitas bahan baku yang dipakai, tidak bisa memaksimalkan hasil produksi. dan harga sapi perah yang berkwalitas baik masih mahal

Leave A Response