Mutu Genetik Ternak Sapi Tergantung Sapi Jantan

ternak sapi jumbo

Prof Edy Kurnianto, guru besar Ilmu Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang mengatakan, perbaikan mutu genetik pejantan pada sapi perah bisa menjadi strategi untuk meningkatkan produktivitas ternak penghasil susu ini di Indonesia.

“Sapi perah pejantan berperan lebih besar dalam penyebarluasan mutu genetik ternak dibandingkan dengan betina. Seekor pejantan dapat menghasilkan anak puluhan bahkan ribuan ekor, sedangkan betina hanya enam sampai delapan ekor,” ujar Edy Kurniato.

Menurutnya, di Indonesia, sapi perah betina maupun pejantan lebih banyak berasal dari luar negeri dan sering kali produksi susu sapi kurang optimal setelah dipelihara pada kondisi tropis Indonesa karena adanya interaksi genetik dan lingkungan.Berkaitan dengan proses penyeleksian tersebut, dia menyarankan, agar seleksi sapi perah dilaksanakan terhadap sapi-sapi yang sudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan Indonesia. Bagaimana pun, kondisi lingkungan memengaruhi kualitas produksi susu.

“Produksi susu yang optimal harus didukung oleh mutu genetik ternak dan kondisi lingkungan yang baik. Sebaik apa pun mutu genetik sapi perah bila tidak didukung lingkungan yang baik maka produksi susu menjadi tidak optimal,” katanya sembari menambahkan produktivitas sapi perah di Indonesia masih rendah, yang antara lain, disebabkan mutu genetik ternak yang kurang baik. “Bila ditelusuri lebih jauh, produktivitas sapi yang rendah disebabkan oleh belum dilakukannya seleksi secara konsisten dan berkelanjutan oleh pelaku bidang peternakan sapi perah dalam negeri,” tegasnya.

Sementara itu kenaikan harga sapi masih bertahan. Di Kabupaten Purworejo di pasar hewan menjual sapi dewasa rata-rata Rp 13 juta – Rp 15 juta perekor. Padahal, harga masih Rp 10 juta – Rp 12 juta sebelum perayaan kurban. Lonjakan juga terjadi pada anakan sapi atau ‘pedhet’. “Sebelum  Idul Adha, harga masih Rp 5 juta – Rp 7,5 juta, sekarang sudah naik jadi Rp 8 juta – Rp 10 juta,” ungkap Somopujo (65) pedagang di Pasar Hewan Purworejo, kepada KRjogja.com, Kamis (12/12/2013).

Kenaikan itu diluar kebiasaan karena sebelumnya harga akan turun pasca Idul Adha. Kenaikan harga itu dipicu oleh petani yang memahalkan harga jual kepada pedagang. Selain itu, pedagang mulai kesulitan mendapatkan pasokan ternak dari petani. “Pasokan sedikit jadi alasan peternak menaikkan harga, kami mengikuti saja agar tidak rugi,” ucapnya.

Peternak di Desa Winong Lor Kecamatan Gebang Ahmad Marus (24) menambahkan, kenaikan harga itu merupakan kesempatan untuk mendapat keuntungan. Sebagian besar peternak yang masih memiliki sapi memilih menjualnya.  “Dari sisi bisnis peternak, itu menguntungkan dan kesempatan bagus bagi mereka untuk menjual sapi,” tuturnya. (Sumber : KR Jogja)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response