Musim Kemarau Tiba, Rumput Pakan Ternak Susah Dicari


DUNIATERNAK.COM, – Musim kemarau tentu ada keuntungan dan kerugian tersendiri untuk masyarakat Gunungkidul. Salah satu contoh kelangkaan rumput untuk pakan ternak. Jika musim penghujan rumput pakan ternak melimpah ruah, disaat kemarau tiba hijauan makanan ternak turut menghilang.

Kelangkaan rumput semacam ini dirasakan oleh Andung (22) warga Sokokerep, Semanu, Semanu, Gunungkidul. Dia mengaku terpaksa harus menempuh perjalanan jauh sekedar untuk mendapatkan rumput sebagai hijauan makanan ternak untuk sapi peliharaannya.

“Saya mencari rumput untuk pakan sapi sampai Karangmojo sini, kurang lebih 6 km dari rumah,” keluhnya, Sabtu, 6/8/2016.

Daripada membeli pakan ternak, Andung memilih untuk merumput sendiri. Sebab kalau setiap saat dan waktu harus membeli rumput segar untuk pakan ternak, maka akan memberatkan stabilitas perekonomian keluarganya. Andung menyadari, sebagian besar pemilik hewan ternak adalah petani dengan penghasilan pas-pasan. Bagi masyarakat desa, mempunyai hewan ternak merupakan suatu tabungan untuk memenuhi kebutuhan yang akan datang. Namun jika untuk memenuhi kebutuhan rumput harus membeli, maka dengan terpaksa semua harus diperhitungkan lagi.

“Kebutuhannya tidak hanya beli pakan ternak Mas. Sumbangan banyak, kasihan bapak dan ibu kalau harus keluar uang hanya untuk beli pakan. Salah-salah malah hanya untuk beli pakan terpaksa jual kambing. Maka daripada berat di ongkos mendingan saya merumput biarpun jauh” jelasnya.

Kesulitan rumput segar untuk pakan ternak tak hanya dialami oleh Andung, beberapa wilayah lain merasakan hal sejenis. Narto (40) warga Budegan, Piyaman, Wonosari terpaksa menyisihkan pos keuangan khusus untuk membeli pakan ternak.

“Untuk membeli pakan ternak, saya harus mengeluarkan dana rata-rata Rp 30.000,- setiap hari. Uang segitu saya belikan tebon (red-batang jagung) beberapa ikat. Sebab kalau mau merumput sudah susah, mencarinya jauh,” katanya.

Tebon yang didapat, lanjut Narto, nantinya dicacah halus kemudian dicampur dengan dedak, bekatul, garam grosok dan air dalam bak besar. Setelah tercampur baru diberikan untuk 3 ekor sapi miliknya.

“Kalau nggak diakali dengan cara seperti itu bisa tekor saya. Duit Rp 30.000,- untuk tebon hanya cukup mengenyangkan seekor sapi. Sedangkan sapi saya ada 3, maka kalau dengan sistem komboran seperti itu lebih irit pakan,” tambahnya. (Sumber: infogunungkidul.com)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Comments are closed.