Mesin Pakan Ternak Otomatis, 15 Menit Bisa Memproduksi 10 Kg Pelet


DUNIATERNAK.COM, – Mahalnya pakan ternak di pasaran, menuntut para peternak memproduksi sendiri pakan ternaknya. Mahasiswa S1 Sistem Komputer STIKOM Surabaya, Jimmy Rosandy dan Fandi Surya Permana, membantu mencari solusi permasalahan itu dengan menciptakan alat pembuat pakan ternak pelet otomatis.

Alat ini terdiri dari beberapa bagian seperti motor 1 fasa dan motor 3 fasa sebagai penggerak. Selain itu terdapat mixer (pengaduk) yang mampu menampung adonan pakan ternak hingga 10 kg.

“Adonannya, kami memakai tepung tapioka, bungkul jagung, dedak, bungkil kedelai dan air,”terang Jommy Rosandy saat ditemui di kampusnya belum lama ini. Untuk mencampurkan seluruh bahan dibutuhkan waktu 5 hingga 10 menit.
Setelah itu masuk ke tahap pemotongan bahan. Di sini mereka menggunakan mesin penghalus daging yang berfungsi menjadikan bahan adonan menyerupai mie.

Setelah itu, adonan dipotong-potong sampai menjadi bentuk pakan yang diharapkan (pelet).
Ada tiga model pelet yang bisa dibentuk, yakni model pelet besar, sedang dan kecil. Untuk memilih model itu, tinggal menekan tombol-tombolnya pada sistem control box nya.

Di control box terdapat sistem otomatis berbasis PLC ( programable logic control) yang merupakan pusat kontrol keseluruhan perangkat. Ada juga inverter untuk pengendali motor 3 fasa agar bisa mendorong bahan sampai pada proses pemotongan hingga menjadi bentuk pakan yang diharapkan.

Sistem PLC ini juga bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan menyambungkannya pada kabel LAN komputer.

“Di dalam komputernya kami menggunakan aplikasi visual basic. Di sini terdapat program yang sama persis dengan yang ada di control box. Seperti panel-panel peletnya dan perputaran motor. Jadi tinggal mengoperasionalkan dari jarak jauh, mesin ini sudah bekerja sesuai keinginan pemiliknya,”katanya.

Malah, kalau ingin lebih canggih lagi, sistem ini juga bisa disambungkan dengan jaringan internet sehingga pemilik bisa mengendalikan mesinnya dimanapun berada.

“Tetapi untuk menuang bahan dan mengambil hasilnya tetap butuh orang. Tidak bisa otomatis,”kata Fandi. Dengan sistem otomatis ini, 10 kg bahan sudah bisa dihasilkan menjadi pelet-pelet pakan ternak hanya dalam waktu 15 menit.

Pelet ini bisa digunakan untuk semua ternak mulai dari unggas hingga ikan. Diakui Fandi, di pasaran mesin jenis ini memang sudah ada. Namun rata-rata menggunakan penggerak diesel. Dampak yang ditimbulkan dari penggerak diesel ini adalah suara gaduh serta menambah pencemaran dan polusi udara.

“Belum lagi kebutuhan bahan bakar. Tentu ini akan menambah ongkos produksi,”akunya.

Meski secara sistem berhasil, tetapi keduanya belum puas dengan pakan ternak yang dihasilkan. Pasalnya, pakan ternak yang mereka hasilnya lebih lembek dibandingkan yang ada di pasaran, terutama yang diproduksi pabrik besar.

“Padahal kami sudah mencoba dengan berbagai takaran, tetapi tetap lembek. Kami juga sudah bertanya ke dinas peternakan dan perusahaan pakan ternak, tetapi memang tidak bisa memberikan takaran yang pas. Kata orang Dinas peternakan memang tidak ada takaran baku, semua tergantung isnting peternak masing-masing,”urai Fandi.

Dia berharap ciptaannya ini bisa dilanjutkan adik tingkatnya. Terutama untuk proses pengeringan dan pengepakan.

Apakah tidak ada rencana memproduksi masal alatnya? Keduanya membuka peluang itu jika ada pihak-pihak yang berminat. Mereka berjanji biaya produksi masal akan lebih murah dibandingkan pembuatan awal alatnya.

“Kalau ini kami butuh biaya Rp 8 juta. Kalau memang dibutuhkan, kami siap memproduksi masal,”tegas Jimmy.

Di tempat terpisah, Ketua Stikom Surabaya Prof Budi Jatmiko mengatakan karya-karya mahasiswa sudah seharusnya memberi manfaat positif bagi masyarakat dan dapat diaplikasikan secara langsung.

“Penemuan yang inovatif dari mahasiswa inilah yang diharapkan bisa memberikan semangat mahasiswa lain untuk menelorkan karya-karya lain yang lebih bermanfaat,” tegasnya.

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response