Lahan Berkurang, Produksi Meningkat

ternak-babi

SANGATTA – Pertanian di Kutim selama 2012-2013 lalu menunjukkan perkembangan yang cukup stabil dalam mendukung ketersediaan pangan, khususnya padi sebagai pangan utama. Sampai dengan musim tanam 2013, produksi padi meningkat 1.325 ton dibandingkan 2012.

Walaupun terjadi penurunan luas lahan tanam padi tahun 2012 seluas 10.979 hektare menjadi 10.471 hektare pada 2013 atau berkurang 508 hektare, namun pola peningkatan tanaman padi tidak diikuti dengan tanaman palawija dan hortikultura. Tahun 2013 mengalami penurunan luas lahan dan produksi.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Suprihanto, sesuai data Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Kepala Daerah tahun 2013, luas lahan tanam palawija berkurang seluas 477 hektare dari 1.246 hektare pada tahun 2012 menjadi 769 hektare di tahun 2013. Berikut, luas tanam hortikultura berkurang 540 hektare, dari 4.453 hektare pada tahun 2012 menjadi 4.993 hektare pada tahun berikutnya.

“Tetapi yang menggembirakan adalah produksi pertanian. Pola produksi padi dalam ton meningkat sebesar 1.325 ton, sehingga menjadi 37.195 ton. Sedangkan produksi palawija turun sebanyak 3.054 ton dan hortikultura turun 9.206 ton,” kata Suprihanto.

Penurunan ini disebabkan beralihnya komoditas yang ditanam oleh petani dan menurunnya produktivitas hasil panen tahun 2013. Hal ini tentunya akan lebih menjadi fokus perhatian pada pembangunan sektor pertanian dalam upaya menjaga peningkatan dan stabilitas produksi padi, palawija, dan hortikultura. Di sektor peternakan juga terjadi progres yang positif.

Pada 2013 perkembangan populasi ternak besar seperti sapi, kambing dan babi sudah menunjukan perkembangan yang menggembirakan. Dengan pertambahan populasi rata-rata sekitar 619 ekor, kecuali kerbau yang mengalami penurunan populasi 8 ekor. Produksi daging sapi dan kambing tahun 2013 meningkat 25 ton dan 2 ton, sementara daging kerbau turun 0,16 ton dan daging babi mengalami penurunan sebesar 16,11 ton.

Hal ini terjadi adanya selera pilihan konsumsi masyarakat yang lebih cenderung kepada daging sapi dan kambing sehingga berpengaruh kepada permintaan (demand) jenis daging.

Populasi ternak unggas pada tahun 2013 juga mengalami peningkatan pada semua jenis unggas dengan total jumlah peningkatan 149.229 ekor. Namun sedikit disayangkan peningkatan populasi ini belum diikuti dengan peningkatan produksi daging unggas. Peningkatan populasi ternak unggas yang menggambarkan meningkatnya minat peternak dalam mengembangkan usaha masih perlu dibarengi pembinaan metode pemeliharaan yang tepat disesuaikan dengan kondisi dan iklim setempat.

Berikutnya pencegahan dan pemberantasan penyakit ternak, serta pengembangan pakan ternak yang sehat dan efisien sehingga produksi peternakan pun dapat meningkat lebih baik seiring peningkatan populasi ternak yang terjadi.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Syarifuddin Ginting menambahkan pihaknya tahun 2014 ini akan terus melaksanakan program guna meningkatkan produksi pertanian di daerah ini. Seperti melaksanakan intensifikasi dan mekanisasi serta diversifikasi pertanian. Program dimaksud akan terus dilaksanakan tahun 2014 hingga berakhirnya RPJMD (rencana pembangunan jangka menengah daerah) tahun 2015 mendatang.

“Jika semua terlaksana sesuai rencana, maka dirinya optimis Kutim dapat menjadi daerah dengan swasembada beras dan pangan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas dan memcetak lahan pertanian guna menambah produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani,” ujarnya.(Sumber : kaltimpost.co.id)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response