Kotoran Sapi Disulap Jadi Biogas

Biogas Kotoran Ternak

Warga Dusun Balocci, Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, membuat inovasi baru dengan “menyulap” kotoran sapi menjadi biogas yang bermanfaat. Energi alternatif ini, sangat membantu warga dalam memasak, tanpa harus membeli gas LPG.

Bahkan, inovasi warga ini mendapat dukungan dari Pemerintahan Belanda. Biogas ini dapat difungsikan sebagai bahan bakar minyak berupa gas. Sekitar 16 rumah tangga di dusun itu memasak menggunakan biogas yang terbuat dari kotoran sapi sebagai energi alternatif.

Pembuatan energi alternatif ini dipelopori oleh Yayasan Biogas Rumah (Biru). Melalui yayasan ini, Pemerintah Belanda membantu warga mengubah kotoran sapi menjadi biogas yang dipakai untuk memasak.

Koordinator Biru Untuk Sulsel Sitti Farida mengatakan, daerah pedesaan di Sulsel sangat sulit untuk terjangkau akses LPG. Padahal untuk memasak, sangat dibutuhkan bahan bakar yang hemat energi. Sementara untuk minyak tanah, pasti harganya sangat mahal.

Inilah yang menjadi pertimbangan Biru melakukan pembinaan menggunakan kotoran sapi menjadi energi alternatif. Menurutnya, mengkonversi kotoran ternak menjadi biogas mengandung manfaat dari sisi lingkungan hidup, dan biaya bagi para petani.

“Ini adalah sumber daya yang benar-benar tak terbatas, dan reaktor untuk biogas adalah konsep yang amat sederhana. Bayangkan saja, kotoran sapi bisa digunakan untuk menjadi energi alternatif, dan membantu ibu rumah tangga untuk memasak,” ujarnya, kepada wartawan, Senin (11/11/2013).

Dia berharap, teknologi macam ini bisa diterapkan di daerah-daerah pedesaan lain. Untuk Sulsel sendiri, setidaknya ada 8 kabupaten lain yang telah menerapkan biogas. Yakni, Enrekang, Bone, Sinjai, Bulkumba, Takalar, Gowa, Wajo, Maros, Toraja, dan Jeneponto.

Penggunaan limbah hewan ini tergantung daerah masing-masing. “Seperti Toraja, warga di sana diajarkan mengelola kotoran babi menjadi biogas. Sementara di Jeneponto, kotoran kuda disulap menjadi biogas. Kebetulan di Maros ternak sapi lebih mendominasi, makanya dikembangkan kotoran sapi menjadi biogas,” jelasnya.

Dia berharap, setelah pengembangan ini, nantinya di Tompobulu bisa menjadi pusat penghasil biogas terbaik di Sulsel. Pasalnya selama lima bulan pembinaan, telah tercatat 16 rumah tangga yang memilih biogas menjadi energi alternatif.

Sementara itu, Program Manager Indonesia Domestic Biogas Program Robert De Groot mengaku, program ini telah dilakukan di Indonesia sejak 2009. Untuk wilayah Indonesia, sudah sembilan provinsi. Hanya saja untuk Sulsel, baru dilakukan dua tahun lalu. “Untuk di Sulsel kami menargetkan 100 unit,” terangnya.

Menurutnya, sebanyak 50 kilogram kotoran bisa diproduksi oleh dua atau tiga sapi. Kotoran sebanyak 50 kilogram tersebut pada gilirannya dapat dijadikan biogas yang dapat digunakan untuk memasak selama delapan jam sehari.

Terpisah, salah satu ibu rumah tangga yang menggunakan biogas, Hasmiati mengaku dirinya telah lama menggunakan energi alternatif. Dia mengaku, meski terbuat dari kotoran sapi, namun energi alternatif tersebut sama sekali tidak mempengaruhi aroma masakan.

Malahan, mereka sangat diuntungkan karena menggunakan energi alternatif. Selain mampu berhemat, nyala api dari hasil biogas tersebut juga jauh lebih biru. (Sumber : SindoNews)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response