Kotoran Sapi Bisa Dibikin Penyegar Ruangan

Penyegar Ruangan Kotoran Sapi

Dua siswi SMA, Rintya Miki Aprianti dan Dwi Nailul Izzah, dinobatkan sebagai penerima medali emas pada Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) yang diselenggarakan bulan Februari lalu di Jakarta.

Ini tidak mengherankan, karena kedua siswi SMA tersebut telah mencapai sebuah ‘keajaiban’ dalam teknologi rekayasa aroma: mereka berhasil mengubah tumpukan kotoran sapi menjadi penyegar ruangan yang berbau herbal!

Dilansir dari Rocketnews, proses alkemi dari aroma itu sendiri ternyata cukup sederhana: mereka mengumpulkan kotoran sapi dalam jumlah yang dibutuhkan dari peternakan terdekat, lalu difermentasi selama tiga hari. Rupanya fermentasi -reaksi kimia yang sering menjadikan makanan lezat jadi berbau mengerikan- juga dapat bekerja sebaliknya.

Setelah itu, air kelapa ditambahkan dan kemudian campuran disuling. Nah, apa yang tersisa berikutnya dari segala proses tersebut adalah penyegar ruangan alternatif yang ramah lingkungan dan bebas bahan kimia.

Rintya dan Dwi juga mengklaim bahwa penyegar ruangan kemasan kaleng 225 gram buatan mereka hanya memakan biaya sekitar USD 2 (sekira Rp 19.000). Namun, jika diproduksi dalam skala besar atau industri, sepertinya biayanya bakalan lebih besar juga yah, mengingat harus menyediakan sekian banyak kotoran sapi serta biaya operasional untuk proses fermentasinya sendiri.

Walaupun begitu, para juri telah ‘terpesona’ oleh bau yang dihasilkan penyegar ruangan ini. Mereka mengatakan bahwa bau penyegar ruangan itu seperti ‘aroma herbal yang menyenangkan’.

Setelah menyabet penghargaan di ISPO, para siswi SMA yang luar biasa ini akan membawa kreasi mereka ini ke International Environmental Project Olympiad (INEPO). Mereka juga bersiap-siap untuk mengajukan permohonan paten untuk penyegar ruangan ini.

Penemuan ini tentunya menorehkan satu lagi prestasi generasi muda Indonesia di bidang teknologi, dan ini semestinya mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak dalam pengembangannya.

Fadeli, Bupati lamongan secara khusus berpesan agar karya ilmiah seperti yang dilakukan Nailul dan Rintya tidak hilang ditelan bumi. Harus ada upaya agar karya ini bisa diimplementasikan dan dipasarkan dengan menggandeng pihak ketiga.

Peluang mereka di INEPO cukup terbuka melihat hasil bagus yang ditorehkan wakil Indonesia, waktu itu SMA Kharisma Bangsa, yang sukses meraih medali emas di tahun 2012. Di INEPO, ada 50 negara yang turut berpartisipasi. Termasuk diantaranya Kanada, Denmark, Finlandia, Jerman, Italia, Portugal dan Malaysia. Termasuk Negara seperti United Kingdom, Amerika Serikat, Rusia dan Polandia juga turut serta.

“Pengharum ruangan yang kami hasilkan murni berbau alami seperti tetumbuhan yang menjadi makanan sapi. Bukan karena ditambahi dengan bahan kimia agar bisa berbau wangi,“ ujar Nailul di Guest House Pemkab Lamongan saat beraudiensi dengan Bupati Fadeli, Kamis (7/3/2013).

Mereka berdua juga sudah membuat kajian ekonomi sehingga karyanya bisa dipasarkan. “Pengharum ruangan ini sehat karena tidak mengandung berbagai bahan kimia berbahaya seperti benzo acetan layaknya produk pengharum di pasaran.”

Bahan dasar sapi dipilih karena merujuk pada persyaratan ketat yang ditetapkan panitia INEPO 2013. Bahwa bahan dasarnya harus mudah ditemukan di semua Negara, bukan sesuatu yang langka dan bukan bahan yang adanya hanya musiman seperti beberapa jenis buah-buahan. Terlebih Lamongan memiliki banyak populasi sapi (data tahun 2012 : 116.963 ekor sapi potong) yang kotorannya belum banyak didayagunakan.

“Sebelumnya kami tidak menggunakan proses fermentasi saat ikut di ISPO 2013. Namun atas saran dari tim juri, karya kami agar disempurnakan dengan proses fermentasi saat mengikuti INEPO di Turki Mei nanti, “ ujar Nailul yang mengaku banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari senior mereka dan lembaga M Brother’s Indonesia. (Sumber : Kaskus)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response