KKP Brebes Kenalkan Bio Aquaponik

BREBES – Kendala ketersediaan lahan kerap menjadi alasan masyarakat akhirnya urung bertani dan berternak. Tapi, di mana ada kemauan di situlah ada jalan. Ya, Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Pemkab Brebes menunjukan bagaimana mewujudkan mimpi bertani, dan berternak secara bersama-sama di ruang yang terbatas dengan sistem Bio Aquaponik. Bio Aquaponik ini turut dipamerkan di arena Brebes Expo 2014.

Saat Budidaya Sayur, Ternak dan Ikan Jadi Satu

“Bio Aquaponik ini juga salah satu upaya diversifikasi usaha pengadaan pangan. Bagaimana optimalisasi pemanfaaatan pekarangan dengan pengembangan kawasan rumah pangan lestari,” ujar Kepala KKP Kabupaten Brebes, Ir Gatot Rudiono, kemarin (17/8).

Bio Aquaponik yang dipamerkan itu merupakan solusi bagi masyarakat untuk budidaya sayuran, ternak kelinci dan ikan lele dan satu sistem hidroponik yang ramah lingkungan. Buatlah rak yang bisa dibuat dari kayu dua susun sesuai dengan luas lahan pekarangan rumah. Di atas rak susun, terlihat sap-sap talang air dibuat berjajar. Isinya adalah sayur-sayuran yang menggunakan media pot plastik air mineral dengan arang sekam sebagai pengganti tanah. Di rak susun tengah, ada kandang ternak kelinci yang dibawahnya diletakkan penyaring urine kelinci. Serta di rak ketiga atau paling bawah ada kolam mini berisi ikan lele dengan media terpal. “Sistem kerjanya hidroponik, satu rak dengan rak lain saling menopang dalam satu sirkulasi dengan bantuan pompa kecil seperti yang ada di aquarium,” terang Gatot.

Konsepnya cukup sederhana. Air dari budidaya ikan mengandung nutrisi sangat tinggi berasal dari sisa-sisa pakan dan kotoran ikan. Jika langsung dibuang, air limbah ini berpotensi menjadi polutan lingkungan. Di sisi lain tanaman hidroponik membutuhkan air kaya nutrisi. Lalu muncullah ide simbiosis mutualisme. Air bernutrisi alami dari limbah ikan dialirkan ke pertanaman. Setelah nutrisi diserap untuk pertumbuhan, tanaman akan melepas oksigen. Air kaya oksigen ini akan dialirkan kembali ke tempat penampungan ikan.

Sayur-sayuran mendapat suplai air dan pupuk organik dari pengolahan urine kelinci yang disaring dan dari air kotoran di rak lele dengan pompa. Menurutnya, inovasi teknologi itu tepat untuk budidaya di lahan sempit dengan memanfaatkan pekarangan, modalnya juga ringan karena bahannya terbuat dari bahan bekas serta praktis karena tidak membutuhkan tenaga ekstra perawatannya karena bersih dan indah dipandang.

“Kalau keuntungannya ini bisa menjadi alternatif usaha, kami juga berterimakasih jika masyarakat memanfaatkan teknologi ini berarti turut serta membantu pemenuhan pangan, khususnya protein nabati dan hewani,” kata Gatot lagi.

Sementara Agus salah seorang pengunjung mengaku tertarik untuk mencoba inovasi tersebut karena merasa cocok dengan keterbatasan lahan yang dimilikinya. “Pengin coba, sepertinya mudah, murah dan bisa jadi hiasan di rumah,” ujarnya. (Sumber : radarpekalonganonline.com)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response