KIsah Sukses Program Inseminasi Penyelamatan Sapi Betina

Inseminasi Penyelamatan Sapi Betina

Apa yang dilakukan Kelompok Tani Budi Luhur di Dusun Busekar, Desa Klopo, Tegalrejo, Kabupaten Magelang, patut dicontoh. Pasalnya, mereka berhasil mengembangkan modal Rp 500 juta dari Program Inseminasi Penyelamatan Sapi Betina (IPSB) yang disalurkan Dinas Peternakan dan Perikanan (Peterikan) setempat mulai 2011, mampu dikembangkan menjadi Rp 740 juta hanya dalam waktu sekitar 1,5 tahun.

Adalah Syamsul Ma’arif (31), Ketua Kelompok Tani Budi Luhur. Meski termasuk anggota paling muda di kelompok taninya itu, namun mampu memberdayakan anggotanya yang berusia jauh di atasnya. Melalui tangan dinginnya, ia mampu mengelola dan bahkan mengembangkan dana hibah dari program IPSB itu menjadi berlipat.

“Keuntungan kotor yang kami dapatkan selama kurang lebih 1,5 tahun ini, hampir mencapai Rp 300 juta,” kata Syamsul.

Keuntungan sebanyak itu, kata Syamsul, didapat dari hasil penjualan anakan sapi hasil perkawinan yang dilakukan kelompoknya. Di sisi lain juga dari hasil penjualan indukan sapi kepada para petani untuk dipelihara kembali.

Hal lainnya juga dari hasil penjualan kotoran sapi. “Selama 1,5 tahun ini, kami berhasil menjual 18 ekor anakan dan mendapat Rp 121 juta. Dari jumlah itu, 80 persen keuntungan kami berikan kepada anggota. Sedang sisanya 20 persen, untuk kelompok,” terangnya.

Untuk saat ini, pihaknya masih memelihara sekitar 70 ekor dengan jenis simetal dan limosin. Dari sekitar 70 ekor itu, terdiri dari dua pejantan, 56 betina produktif dan sisanya masih merupakan anakan. “Sampai kini, kami condong memilih pengembangbiakan dan  bukan penggemukan. Alasannya, jauh lebih menguntungkan meski membutuhkan waktu agak lama,” katanya.

Sapi lokal

Sebelumnya, ada permintaan dari Staf Ahli Menteri Pertanian (Mentan) Bidang Investasi, Prabowo Respatiyo, saat mengunjungi kelompoknya baru-baru ini, agar pihaknya mencoba mengembangbiakkan sapi lokal. Pasalnya, Indonesia kaya akan jenis sapi lokal. Di antaranya sapi Bali, Madura, Aceh, Sumbawa, dan jenis Sapi Jawa yang dikenal dengan sebutan Sapi PO.

Namun pihaknya menyayangkan, tidak banyak peternak yang mau membudidayakannya. Salah satu buktinya, peternak di Kabupaten Magelang. Mereka justru lebih suka memelihara sapi keturunan seperti limosin, simetal, brahman dan lainnya.

Sapi lokal Indonesia bila dipelihara dengan baik, kata Prabowo, hasilnya tidak kalah dengan sapi jenis lain. Selain beratnya, dari segi rasa juga tidak kalah.

”Ini tentu ada yang salah. Ke depan harus ada terobosan, agar peternak mau memelihara sapi lokal itu. Bila perlu, peternak diajak studi banding ke Madura atau Bali, melihat pembudidayaan sapi lokal di wilayah itu. Kami siap memfasilitasi,” kata Prabowo.

Terkait swasembada daging ini, Indonesia sebenarnya sudah swasembada. Karena dari hasil hitungan terakhir, produksi daging sapi kita sudah mencapai 14,8 juta ton pertahun. Sementara kebutuhan daging rakyat Indonesia mencapai 14,2 juta ton pertahun.

Dengan begitu 2014 sudah bisa swasembada daging nasional. Kepala Dinas Peterikan Kabupaten Magelang, Ir H Tri Agung Sucahyo, mengatakan, warga di wilayahnya kurang senang memelihara sapi lokal karena banyak faktor. Salah satunya, karena budaya dan kebiasaan. (Sumber : KR Jogja)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response