Kisah Peternak Sapi di Mega Kuningan

Ternak Sapi Perah Mega Kuningan

Selasa siang, 8 Oktober 2013, matahari terik menyengat kawasan elite Kuningan, Jakarta Selatan. Saat sepeda motor masuk ke gang buntu di Jalan Perintis, wilayah RT 003/RW O5, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, langsung disambut aroma khas kotoran dan kencing sapi yang menusuk hidung. Bau tak sedap itu berasal dari saluran yang airnya menggenang. Sumber air kotor itu berasal dari kandang sapi perah milik Haji Mirdan (53).

Di sela belasan gedung pencakar langit di pusat bisnis dan perkantoran Mega Kuningan, peternakan sapi perah masih berdiri. Puluhan ekor sapi itu barangkali sapi-sapi yang bergaya hidup paling urban di dunia. Hewan peliharaan itu tinggal di salah satu jantung bisnis dan perkantoran paling mahal di Ibu Kota, kawasan Segitiga Emas Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Kandang sapi itu bertetangga dengan hotel mewah, seperti JW Marriott dan The Ritz-Carlton, yang jaraknya puluham meter saja. Di sana juga ada beberapa kantor kedutaan asing, mal, dan gedung perkantoran. Namun, letak kandang sapi itu tersembunyi di sebuah gang buntu. Sebelum sampai kandang terdapat rumah sebagai penitipan motor.

Saat Suara Karya datang, Haji Mirdan sedang tidak ada di tempat. “Bapaknya (Haji Mirdan–Red) lagi keluar rumah, sedang mencari pakan sapi. Tidak tahu ke mana,” ujar Siti Munani (41), istri Haji Mirdan. Persis di depan rumahnya ada puluhan ekor sapi miliknya dan milik kakaknya, Rido (54).

Dilema beternak sapi perah di belantara kota Jakarta, menurut Munani, memang lebih repot daripada beternak di perdesaan. Sebab, dari waktu ke waktu makin sempit saja lahan di Jakarta. Makin sulit untuk mencari rumput. “Ada dua tenaga yang membantu bapaknya mencari pakan, membersihkan sapi, dan kandangnya. Mereka mencari rumput sampai daerah Poltangan, Pasar Minggu, kemudian mencari dedek (bekatul) dan ampas tahu sampai ke daerah Bekasi Timur,” katanya.

Selain makin sulit mencari pakan, H Mirdan sangat terpukul dengan kenaikan harga-harga pakan tambahan seperti ampas tahu dan dedak. “Harga kedelai sangat tinggi dan sempat langka di pasaran, sehingga makin sulit mencari pakan tambahan untuk sapi perah.

Jadi, beternak sapi perah benar-benar pilihan yang sulit. Masalah kian rumit karena harga susu sapi mentah yang dijual ke Koperasi Ternak Susu Sapi tak kunjung naik,” kata Munani, ibu dari 5 putra.

Munani mengaku sering mendapati H Mirdan duduk melamun di ruang tamunya. “Bapaknya sering melamun, memikirkan makin sulitnya mencari pakan sapi. Kan, tidak mungkin sapi disuruh puasa atau hanya sekali sehari diberi makan,” ucap Munani.

Ia menambahkan, pendapatan dari bisnis beternak sapi perah sangat minim. Beruntung, keluarga ini juga memiliki rumah kos yang dihuni karyawan perkantoran di sekitar Mega Kuningan. “Bersyukur, kita punya 6 pintu kos-kosan sehingga kebutuhan sekolah anak-anak bisa dipenuhi,” katanya.

Masih Keluarga

Meski usaha beternak sapi perahnya sudah puluhan tahun menimbulkan bau tak sedap, namun tidak ada tetangga yang protes. “Tak ada yang protes lah, lha wong semua ini masih keluarga, kakak dan adik,” kata Munani sambil menunjukkan rumah di sekeliling kandang sapi.

Selain Mirdan, di kawasan yang masuk wilayah Kuningan Timur itu terdapat empat peternak sapi perah yang masih bertahan. Salah seorang di antaranya Amir Hamzah (40) yang tinggal di sebuah rumah gedung bertingkat dua di Gang Eks AURI RT 004 RW 003. Dari luar tidak tampak ada tanda-tanda kandang sapi di rumah itu.

“Coba lu buka pintu itu,” ujar Amir sambil menunjuk pintu besi di samping rumahnya. Begitu pintu dibuka, terlihatlah 10 sapi berdiri berjejer. Tepat di belakang kandang sapi terdapat pabrik tahu yang ampasnya digunakan untuk pakan sapi.

Di atas kandang sapi, Amir membangun enam kamar kos untuk karyawan perempuan yang disewakan Rp 850.000-Rp 1 juta per bulan. Kamar-kamarnya bagus dan semuanya dilengkapi AC. “Jadi, di sini ada dua (golongan) yang indekos. Di lantai bawah sapi, di lantai atas manusia.”

Sejauh ini, menurut Amir, tidak ada anak kos yang komplain terhadap bau sapi. Maklum, sebelum mereka bangun tidur, Amir telah membersihkan kandang dan memandikan sapi. Ketika mereka berangkat kerja, semua pekerjaan bersih-bersih sudah selesai. “Nah, sebelum penghuni kos pulang kerja, sapi dan kandang dibersihkan lagi. Mereka nggak akan sempat mencium bau. Sapi mandi lima kali sehari, anak kos yang wangi-wangi itu cuma dua kali.”

Bagaimana dengan tetangga? Mereka, menurut Amir, juga tidak komplain karena dulu sama-sama peternak sapi. Kalau ada yang komplain, sudah pasti warga pendatang. “Tapi, saya tinggal bilang, dibanding ente, sapi-sapi udah tinggal duluan di sini,” ujar Amir yang mendapat peternakan sapi itu dari ayahnya.

Kawasan Kuningan dan sekitarnya dulu pernah menjadi sentra peternakan sapi perah di Jakarta. Selain kawasan itu, di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, masih ada sejumlah peternak sapi perah. Kemudian di Pondok Rangon, Jakarta Timur, masih banyak peternak sapi perah.

Apa yang membuat mereka bertahan? Secara ekonomi, beternak sapi perah di Jakarta kini tidak memberi banyak keuntungan. Mirdan mengatakan, setiap hari dia hanya memperoleh uang Rp 360.000 dari penjualan susu segar. Setelah dipotong upah tukang rumput Rp 30.000 dan biaya pakan, uang yang ia pegang kurang dari setengahnya.

Meski begitu, Mirdan bertekad akan terus beternak sapi untuk menjalankan amanat ayahnya. “Babe bilang, kalau mau hidup tenang, harus pelihara sapi. Sapi membuat kita sampai ke tujuan dan cita-cita kita. Berkat sapi, babe saya, misalnya, sampai naik haji, juga menyekolahkan anak,” katanya. (Sumber : Suara Karya Online)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response