Kesulitan Pakan Hijauan, Usaha Susu Kambing PE Terancam Bangkrut

ternak kambing PE

Usaha susu kambing peranakan etawa (PE) atau kambing koplo yang bertelinga panjang, terancam bangkrut akibat sulitnya pakan hijauan berupa rumput dan dedaunan.

Kesulitan mendapatkan pakan hijauan tersebut akibat larangan dari pihak perkebunan PTPN maupun perkebunan swasta dalam pengambilan rumput.

Dan, untuk mempertahankan usaha peternakannya, para peternak terpaksa memberikan pakan tambahan non hijauan berupa limbah industri seperti dedak halus, kulit ari kacang kedelai, roti basi, gaplek ubi kayu, bungkil kedelai, jagung giling halus, serta ampas tahu.

Tetapi untuk membuat pakan tambahan dari bahan- bahan itu saat ini peternak juga kewalahan, karena harganya yang mahal. Dedak halus misalnya, yang dulunya hanya Rp 2.000 kini naik menjadi Rp 3.000 per kilogram (kg).

Jagung giling halus biasanya Rp 4.000 menjadi Rp 4.500 per kg, roti basi dari Rp 3.000 menjadi Rp 8.000 per kg dan bungkil kedelai juga sudah sulit. Bungkil kedelai ini diproduksi dari limbah kerak tahu atau kerak industri kembang tahu atau tahu kering.

“Pakan menjadi masalah besar yang dihadapi para peternak di Langkat saat ini,” kata pakar domba atau kambing H Tista Waringin Sitompul ketika ditemui Selasa (12/2) di peternakannya di Kecamatan Stabat.

Dikatakannya, selama ini pihaknya memproduksi pakan tambahan untuk domba dan kambing dengan harga murah. “Tapi akibat bahan baku terus melambung, terpaksa kami juga ikut menaikan harga pakan tambahan tersebut menjadi Rp 3.200 dari sebelumnya Rp 3.000 per kilogram,” kata Sitompul.

Pantauan MedanBisnis di beberapa sentra peternakan kambing etawa, banyak peternak yang gulkung tikar akibat kewalahan memperoleh pakan ternak. Sedangkan harga penjualan susu kambing murni masih Rp 6.000 per gelas.

Di dusun XVII Desa Tanjungjati Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, ada peternak kambing yang khusus memperoduksi susu murni untuk dikonsumsi langsung oleh para konsumen yang datang setiap harinya. Tetapi saat ini usaha itu sudah gulung tikar.

Diketahui, kambing PE betina yang baru melahirkan inilah yang diperah susunya sebagai produksi susu kambing murni segar dan tidak menimbulkan bau amis seperti susu kambing kampung. Susu kambing PE saat ini dijual Rp 6.000 per gelas. Dan, satu ekor induk betina sehat dengan bobot 130 kilogram, pasca melahirkan mampu menghasilkan susu kambing murni dari 4-7 gelas perhari.

Usaha serupa milik Suhendro di pinggiran Jalinsum Desa Air Hitam Kecamatan Gebang, Setahun yang lalu usahanya masih lancar dan langgeng. Tetapi saat ini mulai mengendor. “Pakan ternak sulit, harga susu hanya Rp 6.000 per gelas. Biaya perawatan dan bayar pekerja anak kandang saja tidak cukup. Jadinya, kambing kita jual dan beralih ke usaha lain,yakni buat keripik singkong,” aku Suhendro. (Sumber : Medan Bisnis)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response