Kemenhub Bangun 3 Kapal Pengangkut Sapi dan 2 Armada Perintis

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membangun tiga kapal pengangkut ternak sapi dan dua kapal perintis.

“Kapal pengangkut sapi itu terdiri dari dua kapal modifikasi dan satu kapal baru,” ungkap Dirjen Perhubungan Laut, Capt. Bobby R Mamahit, kepada beritatrans.com.

Kontrak pembangunan satu kapal baru pengangkut ternak dan dua kapal perintis tipe 750 dwt ditandatangani, Jumat (13/6/2014) pagi.

“Hari ini terasa istimewa dan berbeda dengan penandatanganan kontrak pembangunan kapal-kapal sebelumnya, karena ini merupakan penandatanganan kontrak pembangunan kapal khusus pengangkut ternak yang pertama di lingkungan Kementerian Perhubungan, bahkan mungkin di Indonesia,” cetusnyam

Penandatanganan kontrak ini merupakan tindaklanjut dari arahan Presiden RI pada Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan Nasional pada 29 Oktober 2013 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, dan Pernyataan Komitmen Dukungan Pencapaian Sasaran Pangan oleh Menteri Perhubunga.

Menteri, ungkap dirjen, yang antara lain menyampaikan perlunya perbaikan moda transportasi dan distribusi ternak serta komoditas pangan lainnya seperti kereta api, kapal laut dan angkutan udara. Peningkatan prasarana dan sarana yang mendukung arus barang komoditi pertanian.

Selain itu, Bobby mengutarakan pembangunan kapal khusus pengangkut ternak ini, sejalan dengan usulan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, yang disampaikan kepada Presiden RI melalui surat Nomor B-942/01-15/04/2013 tanggal 12 April 2013.

Dalam suratnya, KPK menyampaikan usulan perbaikan pada kebijakan tata niaga komoditas daging sapi, dengan mendorong pengembangan industry daging sapi di sentra produksi melalui revitalisasi rumah potong hewan dan pasar ternak serta membangun sarana dan prasarana transportasi untuk kelancaran distribusi daging dan ternak sapi.

Kementerian Perhubungan, dirjen menegaskan sangat serius dalam upaya-upaya untuk mewujudkan program Rencana Aksi Bukit tinggi terkait dengan ketahanan pangan nasional yang merupakan program utama untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya dalam membantu distribusi daging dan ternak sapi antar pulau.

Untuk itu, dia mengutarakan Pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin antara lain dengan mngeluarkan Surat Edaran Dirjen Hubla Nomor 3/PHBL-13 Tanggal 10 Januari 2013 tentang Tata Cara Bongkar Muat Hewan Ternak Dari dan Ke Kapal.

Penetapan Tim Task Force untuk penanganan angkutan laut khusus ternak sapi dan kerbau, melakukan Survey on Board kapal pengangkut ternak sapi impor dari Australia di Pelabuhan Tanjung Priok.

Selain itu, melakukan kunjungan ke Australia dalam rangka peninjauan proses pemuatan dan pengangkutan ternak dan daging sapi di Darwin, Australia ke Indonesia;

Juga mendorong pelayaran nasional untuk mengadakan kapal khusus angkutan ternak sapi dan kerbau. Serta mlakukan evaluasi dan penetapan rencana route pengoperasian kapal pengangkut ternak,” jelasnya.

Bersama dengan Kementerian Pertanian, Bobby menuturkan secara bertahap memperbaiki holding ground dan pemetaan sentra-sentra produksi daging dan ternak sapi.

Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan kita dapat sepenuhnya meninggalkan system pengangkutan dengan kapal kargo yang metode bongkar muatnya dilakukan secara tradisional.

“Yaitu dengan mengikat tali dileher ternak, menggunakan jala-jala, menggiring dan menceburkan ternak dilaut, serta system bongkar muat lainnya yang dapat menyebabkan ternak sapi mengalami ketakutan, kesakitan dan kelaparan,” tuturnya.

Dengan cara seperti ini ternak sapi akan mengalami penyusutan bobot, bahkan kematian yang pada akhirnya akan merugikan peternak dan pembeli.

“Sekarang dengan membangun kapal khusus pengangkut ternak ini, kita akan memasuki era baru dalam system pengangkutan ternak nasional. Kita akan mengenalkan system kapal pengangkut ternak yang didesain khusus mampu mengakomodir keperluan ternak di sepanjang perjalanan mulai dari pelabuhan-pelabuhan sentra produksi sampai kepelabuhan konsumen,” kata dirjen.

Dengan upaya itu secara bertahap kita dapat dilaksanakan dan diwujudkan prinsip animal welfare (fivefreedom). “Yaitu freedom from hungry and thirst (bebas dari lapar dan haus), dan freedom from discomfort (bebas dari rasa ketidaknyamanan),” ungkapnya.

Selain itu, freedom from pain, injury and disease (bebas dari rasa sakit, kesakitan dan penyakit), freedom to express normal behavior (bebas untuk mengekspresikan tingkah laku natural) dan freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan stress)

Oleh karena sedemikian strategisnya keberadaan kapal khusus pengangkut ternak terutama dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan kapal perintis yang sampai saat ini terbukti mampu menghubungkan wilayah dan daerah terpencil, belum berkembang dan perbatasan.

“Maka kami ingatkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen dan Penyedia Jasa agar dalam pelaksanaan pembangunan kapal untuk selalu serius dan penuh tanggung jawab serta mematuhi segala ketentuan yang berlaku dan hindarkan diri dari sesuatu yang dapat merugikan kita semua,” tegasnya.(Sumber : beritatrans.com)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response