Kalbar Kembangkan Pembibitan Sapi Sistem Embrio Transfer

Sapi Peranakan Ongole

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat mengembangkan sistem penggemukan dan pembibit sapi secara modern di Kabupaten Kubu Raya dan Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang.

“Namanya embrio transfer. Peternak dapat memperoleh anakan sapi sesuai yang diinginkan,” kata drg Abdul Manaf Mustafa, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat kepada SH di Pontianak, Rabu (21/8).

Menurut Manaf, pengembangan sistem pembibitan sapi embrio transfer di Sanggau Ledo dan Kakap, untuk menjawab kebutuhan bibit sapi yang memenuhi kualifikasi bagi petani. Selama ini banyak keluhan petani karena sulitnya memperoleh bibit sapi ideal untuk digemukkan.

Embrio transfer merupakan suatu proses mengambil (flushing) embrio dari uterus sapi donor yang telah diovulasi ganda (superovulasi), dan memindahkannya ke uterus sapi resipien (penerima) menggunakan metode, peralatan, dan waktu tertentu.

Teknologi tersebut merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Ada beberapa tahapan untuk embrio transfer, yaitu pemilihan sapi donor dan resipien, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penanganan dan evaluasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran.

Kelebihannya, menurut Manaf, diperlukan waktu satu generasi (9 bulan) untuk menghasilkan bibit murni (pure breed) lewat embrio transfer. Aplikasi IB memerlukan waktu minimal lima generasi (sekitar 15 tahun) untuk memperoleh tingkat kemurnian bibit 96 persen.

Keunggulan lainnya, embrio transfer dapat memberi peningkatan perkembangan ternak bibit unggul baik dari sisi pejantan maupun betina. Selain itu, juga mengurangi biaya transportasi penyebaran bibit unggul serta risiko penyebaran penyakit menular.

Dijelaskan Manaf, secara alami seekor induk hanya mampu menghasilkan satu ekor anak dalam setahun atau rata-rata hanya mampu menghasilkan kurang dari delapan ekor anak berkualitas sepanjang hidupnya. Apalagi separuh dari anak yang dihasilkan adalah jantan.

Usaha mendapatkan sintetik breed sampai saat ini belum menunjukkan hasil nyata. Beberapa tahun belakangan ini selain IB dikenal pula istilah transfer embrio (TE).

Teknologi ini merupakan dasar bioteknologi dalam mendukung rekayasa embrio yang lebih tinggi di bidang reproduksi ternak. Dapat dilihat, aplikasi teknologi TE memiliki manfaat ganda karena selain dapat diperoleh keturunan sifat dari kedua tetuanya juga dapat memperpendek interval generasi sehingga perbaikan mutu genetik ternak lebih cepat diperoleh.

“Produksi embrio dapat mencapai 30-50 embrio per koleksi, tetapi rata-rata hanya sekitar 5-10 embrio per koleksi yang layak untuk ditransfer atau dibekukan. Seekor sapi (donor) dapat menghasilkan keturunan lebih dari 25 ekor per tahun, dibandingkan dengan perkawinan alam atau IB hanya mampu melahirkan satu ekor anak sapi per tahun,” ujar Manaf. (Sumber : Sinar Harapan)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response