Jateng Diserang Flu Burung Jenis Baru

Waspada Flu Burung

Jateng Diserang Flu Burung Jenis Baru – Virus flu burung atau avian influenza (AI) jenis baru yang menyerang unggas di Jawa Tengah terus menyebar. Saat ini tercatat sudah ada 21 kabupaten dan kota yang terjangkiti virus mematikan tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakan dan Keswan) Provinsi Jawa Tengah, itik yang mati akibat virus hingga kemarin mencapai 61.459 ekor. Akibat serangan virus tersebut, para peternak itik di provinsi ini ditaksir mengalami kerugian hingga miliaran rupiah. Meski demikian, masyarakat Jateng diminta tetap tenang dan tidak panik mengonsumsi daging unggas.

Kepala Disnakan dan Keswan Provinsi Jawa Tengah,Whitono mengatakan kematian itik secara mendadak ini pertama kali terjadi pada September lalu. Daerah yang paling banyak ditemukan kasus kematian itik ini antara lain Brebes, Jepara, Demak, Pemalang dan Karanganyar.

“Memang di tahun-tahun sebelumnya belumpernahadaitik yang mati karene flu burung, biasanya pada unggas atau ayam,”kataWhitono,kemarin.

Menurut dia, ada beberapa kemungkinan penyebab virus AI ini menyerang itik.Pertama, virus flu burung mengalami mutasi.Kedua,masuknya virus dari luar negeri penularannya melalui migrasi burung. Namun terpenting saat ini, peternak diimbau untuk melakukan langkah pencegahan dengan disinfektan karena tahun ini Disnakan sudah mendistribusikan 9.300 liter disinfektan.

Jika ada kejadian itik yang mati mendadak dan diduga akibat flu burung, lanjut dia, peternak diminta melakukan koordinasi dan segera melapor kepada dinas terkait supaya bisa diambil langkah-langkah. “Bagi peternak yang melakukan kontak langsung, sebaiknya menggunakan masker kemudian mencuci tangan dengan sabun.Jangan lupa langkahlangkah bio security, yakni kebersihan kandang,”papar Whitono.

Selain akibat flu burung, lanjut dia,kematian ribuan itik itu juga karena sebagian terserang penyakit yang lain,seperti tetelo.Whitono menerangkan, vaksin untuk itik belum direkomendasikan oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, karena virus tersebut tergolong jenis virus baru,jadi harus cocok penyakit dengan vaksin. Kendati demikian,Whitono mempersilakan kepada breeding farm atau peternakan komersil untuk memberi vaksin sendiri.

Namun untuk masyarakat umum, disarankan untuk menunggu dulu hasilnya karena akan diteliti oleh para ahli di pusat. “Kami berharap masyarakat tidak perlu panik mengonsumsi daging dan telur, sepanjang dimasak secara benar,” tandasnya. Virus flu burung yang menyerang itik di Brebes mengakibatkan para peternak itik mengalami kerugian ratusan juta rupiah.Mereka juga harus menanggung utang di bank. Salah satu peternak itik di Desa Pakijangan,Kecamatan Bulakamba, Jamil, 54, mengaku rugi hingga Rp10 juta akibat ratusan itiknya mati.

Dia terpaksa membakar itik peliharaannya guna menghindari virus menular ke itik lainnya. “Ada 600 itik yang mati.Saat ini tersisa 100 ekor,”katanya. Jamil mengaku bingung dengan kematian itiknya itu,apalagi dia masih memiliki tanggungan utang di bank sebagai modal untuk beternak itik. “Harapan sebagai peternak kecil bisa diberi solusi.Jadi tahu ke depannya harus bagaimana. Tolong perhatikan masyarakat seperti kami. Mungkin permodalan bisa dibantu,”ucapnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan Brebes, Jhoni Murrahman mengatakan, pihaknya berupaya menangani persoalan itik dengan melakukan berbagai tindakan. Antara lain, sosialisasi kepada peternak terkait kasus tersebut dan pemberian disinfektan ke kandang-kandang. Jhoni mengungkapkan,jumlah itik yang mati mendadak karena dugaan flu burung dari November hingga Desember mencapai 11.600 ekor.

Dengan kerugian mencapai ratusan juta. “Kalau per ekor harganya Rp 50.000.Tinggal dika-likan saja 11.600 ekor. Itu nilai kerugiannya,” katanya Jhoni. Menurutdia,ada25peternak yang mengalami kerugian akibat serangan flu burung.Mereka tersebar di Kecamatan Limbangan, Tonjong,Bumiayu,Kecipir, Wanasari,dan Bulakamba.

Menanggapi maraknya kasus flu burung pada itik,Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, dr Anung Sugihantono menyatakan untuk mengantisipasi penularan kepada manusia, prinsipnya sama dengan virus flu burung pada unggas.Yakni, hindari kontak dengan unggas yang mati dan cuci tangan dengan sabun menggunakan air mengalir. Kemudian kenali gejalagejalanya, yaitu panas, batukpilek dan segera berobat ke puskesmas.

“ Jaga kondisi tubuh dengan makanan sehat,buah dan istirahat cukup,”ucapnya. Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengaku kaget dengan banyaknya itik yang mati secara beruntun di wilayahnya. Dia memperkirakan kematian itik akibat flu burung ini juga dipengaruhi faktor cuaca ekstrem. “Belakangan ini banyak itik yang mati,padahal selama ini kebal. Mari telur kita tetaskan jadi meri,jangan sampai menyerang, (nanti) endoke bablas (telurnya hilang),“ ujar Bibit Waluyo. (Sumber : Sindo)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response