Investasi Kambing Etawa Tidak Dipatok Minimal Modal

ternak kambing PE

SLEMAN – Berbisnis ternak Kambing Peranakan Etawa (PE) tidak harus dimulai dengan modal besar. Sebab pengelola dapat menyesuaikan kemampuan investor untuk memulai bisnis.

Koordinator Seksi Pemasaran, Kelompok Tani Ternak PE ” Mandiri” di Girikerto, Turi, Sleman, Suyanto menjelaskan pihaknya memiliki sedikitnya 1.300 ekor kambing PE di berbagai anggota kelompok di Dusun Ngangring, Girikerto. Kambing itu dikelola dalam dua jenis yakni sebagai kambing perah untuk diambil susunya dan kambing peranakan untuk dijual per ekor sebagai pedaging.

“Sekarang semua KK punya kambing PE, karena hasilnya sudah terbukti yang memelihara pasti untung,” terang warga Ngangring, Girikerto, Turi ini kepada Harianjogja.com, Senin (11/8/2014).

Banyaknya keuntungan dalam memelihara PE membuat sektor peternakan kambing ini, kata Suyanto, menjadi lahan investasi menggiurkan. Untuk kelompoknya sendiri ia memiliki sekitar 30 hingga 50 investor, tetapi rata-rata masih skala kecil. Yakni setiap warga masyarakat yang ingin menitipkan uangnya kemudian dibelikan kambing PE dan dipelihara kelompok tani untuk mendapatkan keuntungan.

Investasi skala kecil ini, imbuh Suyanto, tidak dipatok minimal modal atau kambing yang diinvestasikan. Tetapi pihaknya mengikuti keinginan orang yang ingin menginvestasikan uangnya menjadi PE. Tujuannya, agar setiap orang dapat dapat menjajal bisnis ini.

“Ada beberapa juga mahasiswa KKN di sini lalu investasi Rp2,2 juta dapat satu ekor saat itu. Dua tahun kemudian dia bisa bayar biaya sendiri dari hasil investasi itu. Kalau skala kecil sistem percaya, tidak bakal ada mafia, dijamin aman,” kata dia.

Para investor dapat memilih dua alternatif pemeliharan yakni peranakan dan pemerahan susu. Jika peranakan maka baru dapat merasakan hasilnya enam bulan atau setahun kemudian. Tapi investor yang memilih kambing pemerahan susu dengan minimal lima ekor pembelian maka dapat memperoleh keuntungan tiap bulan. Suyanto menegaskan kambing yang sudah dibeli investor pun tidak hilang dan menjadi milik investor.

Sejumlah investor skala besar, ucapnya, ada yang menginvestasikan setiap pekannya satu ekor kambing. Selama beberapa bulan.

“Setahun kemudian mendapatkan peranakan dan setelah dijual itu Rp58 juta, sistem bagi hasilnya ada 70 : 30 dan 60 : 40. Kalau skala besar kami masih menunggu investor, skala besar nanti sistem perjanjiannya,” urainya.(Sumber : harianjogja.com)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response