Inseminasi Buatan Sexing Dorong Swasembada Daging

Inseminasi Buatan Sexing

Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) bersama sejumlah lembaga seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprakarsai aplikasi teknologi Inseminasi Buatan (IB) Sexing untuk menunjang program swasembada daging.

Teknologi tersebut telah diaplikasikan di wilayah Banyumulek, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pilot project. Rabu (12/12/2012), 230 anakan sapi (pedet) yang lahir dengan teknologi itu dipanen.

Idwan Suhardi, Deputi Pendayagunaan Iptek, Kemenristek, mengatakan, IB Sexing adalah salah satu inovasi di tingkat hulu untuk memenuhi target swasembada daging. Inovasi lain yang juga dilakukan di Banyumulek adalah pakan dan pengolahan daging untuk meningkatkan nilai tambah.

“Program ini adalah bagian dari upaya menjadikan NTB (Nusa Tenggara Barat) sebagai pusat unggulan ilmu pengetahuan dan teknologi ternak dan menyuplai kebutuhan daging untuk nasional,” kata Idwan saat menghadiri acara panen pedet Rabu kemarin.

IB Sexing

Syahruddin Said, peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI yang terlibat dalam proyek ini mengungkapkan bahwa teknologi IB Sexing adalah salah satu upaya untuk menjawab masalah dalam pemenuhan kebutuhan daging.

“Salah satu masalah dalam pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional adalah tingginya tingkat kematian pedet. Sekitar 20-30 persen. Sebabnya, banyak pedet lahir di saat pakan kurang tersedia (musim kering),” jelas Syahruddin.

Teknologi inseminasi buatan menjawab permasalahan. Dengan teknologi ini, betina sapi diinseminasi dengan sperma yang sebelumnya telah dibekukan agar bunting. Waktu bunting dan melahirkan bisa diatur. Pedet diharapkan lahir saat pangan melimpah.

Sementara sexing adalah teknologi lanjut dalam inseminasi buatan. Lewat teknologi ini, jenis kelamin dari pedet dapat ditentukan sejak awal. Perbadingan jenis kelamin dalam populasi di peternakan bisa diatur.

Menguraikan metode IB Sexing, Syahruddin menjelaskan bahwa awalnya sperma dikoleksi dari sapi jantan. Selanjutnya, dilakukan pemisahan sperma dengan kromosom X yang akan menjadi cikal anakan betina dan sperma kromosom Y yang menjadi bakal anakan jantan.

“Pemisahan dilakukan dengan filtrasi menggunakan kolom DSA. Ada dua lapisan, yang di bawah lebih sulit ditembus. Yang bisa menembus lapisan itu adalah sperma jantan. Jadi yang betina akan di atas,” papar Syaruddin.

Sperma yang sudah dipisahkan kemudian disedot, dimasukkan dalam straw dan dibekukan. Proses pembekuan dibantu dengan nitrogen cair dan disimpan pada suhu -196 derajat Celsius. Sperma beku bisa tahan selama bertahun-tahun.

Ketika sapi memasuki masa kawin, dilakukan injeksi hormon pemicu birahi, misalnya prostaglandin. Selang maksimal 48 jam setelah injeksi, betina biasanya siap kawin. Saat itulah, sperma diinseminasi pada betina. Jika kehamilan terjadi, kelahiran ditunggu selama 9 bulan kemudian.

Dalam program aplikasi IB Sexing di Banyumulek, LIPI melakukan transfer pengetahuan di Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) wilayah setempat. Kini wilayah setempat sudah dapat menghasilkan sperma beku secara mandiri.

IB Sexing sendiri telah dilakukan dua tahap. “Tahap pertama dihasilkan 230 (yang dipanen hari ini). Tahap kedua ditargetkan 500 namun ternyata tercapai 570. Dari 650 yang diinseminasi, 570 berhasil hamil,” ungkap Syahruddin.

Tingkat kesesuaian metode yang diterapkan cukup tinggi, sebesar 94 persen. Sementara, rata-rata service per conception (jumlah tindakan inseminasi untuk menghasilkan kehamilan) sebesar 1,6, cukup rendah sehingga dinilai efektif.

IB Sexing, kata Syahruddin, selain mampu mengurangi angka kematian pedet juga dapat memperbaiki mutu genetik ternak. Dengan cara ini, hanya pejantan yang berkualitas yang diambil spermanya. Demikian pula betina, dipilih yang bermutu.

“Mesin Produksi” Daging

Nusa Tenggara Barat ditargetkan menjadi pusat pariwisata dan pemenuhan kebutuhan pangan. Teknologi IB Sexing mendukung program tersebut sebab pada awalnya membantu menciptakan “mesin produksi” daging yang berkualitas.

“Dari yang dihasilkan saat ini, 95 persen adalah betina. Hal ini baik sebab yang kita butuhkan sekarang adalah betina. Betina menjadi stok bibit untuk memproduksi daging,” papar Chairussyukur Arman, peneliti dari Fakultas Peternakan, Universitas Mataram.

Pedet-pedet betina yang dihasilkan akan bisa memproduksi anakan di masa depan. Diharapkan, satu sapi dapat melahirkan satu anakan setiap tahunnya. Dua hingga tiga bulan setelah melahirkan, betina sapi bisa diinseminasi kembali.

Menurut Chairussyukur, IB Sexing tidak memberatkan peternak. Kebutuhan untuk inseminasi nanti hanya Rp 5000,00 untuk satu straw sperma dan hormon untuk memicu birahi sebesar Rp 100.000 – Rp 150.000,00 per paket untuk 5 individu sapi.

Untuk membantu memastikan kelanjutan proyek kali ini, Universitas Mataram, Pemerintah Daerah dan BIBD akan bekerjasama dengan peternak sehingga tiap betina yang dimiliki bisa dimanfaatkan secara optimal dalam repdroduksi.

Syahruddin mengatakan, “Dengan cara ini, kita bisa menghasilkan anakan sapi unggul, diketahui jenis kelaminnya, serentak kelahirannya dan massal. Kalau ini diperluas ke wilayah lain, swasembada daging bisa dicapai.” (Sumber : Kompas)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response