Imam Bonari, Pelopor Inseminator

inseminasi buatan ternak sapi

Wujudkan Cluster Peranakan Sapi Perah

Jember –¬†Saat praktik kawin suntik (inseminasi) pada sapi masih tabu di tengah masyarakat, Imam Bonari sudah tampil menjadi seorang inseminator pertama di kecamatan Sumberbaru. Meski tidak mudah menaklukkan para peternak sapi dengan berbagai problematikanya, namun alumnus Universitas Brawijaya Malang itu, telah mampu menklukkan “wilayah merah” Sumberbaru.

Sejak tahun 1996 lalu, pemuda asal kencong itu, ditugaskan menjadi iseminator di kecamatan sumberbaru, yang notabene belum pernah disentuh sama sekali oleh petugas kawin suntik itu. Meski dirinya putra asli daerah jember, namun kultur masyarakat Sumberbaru berbeda dengan wilayah Kencong yang mayoritas Jawa.

“Awal saya bertugas di sumberbaru, semuanya mulai dari nol. Mulai dari harus mengenalkan suntik buatan yang tidak pernah tersentuh sama sekali, sampai saya harus belajar budaya Madura,”ungkap bapak dengan tiga orag anak itu. Bahkan, agar dia mudah diterima para peternak sapi Sumberbaru, Imam harus belajar bahasa Madura ke tetangga sebelahnya.

Pemahaman yang rendah terhadap pentingnya inseminasi pada hewan ternak masyarakat, juga menjadi tantang terjal yang harus dilaluinya. Bahkan tidak jarang, pria yang saat ini menjadi ketua Ikatan Inseminator Indonesia (Ikinndo) itu, harus menghabiskan seharian waktunya, di tengah sawah bersama pembajak sawah tradisional.

“Dulu pembajak sawah itu punya sapi. Agar mereka mengawinsuntikkan sapinya, saya datangi mereka disawah sampai seharian,”ujarnya ambil mengingat masa itu.

Tidak berhenti di sana, Imam terus melakaukan pengawalan kepada para peternak sapi, yang mulai tertarik mengawinsuntikkan sapi kepadanya. Sebab, katanya, keberhasilan proses kelahiran lahir sapi hasi inseminasi milik klien-nya itu, akan menjadi pembuktian pada lainnya.”Awal ada yang mau mengawinsuntikkan sapinya, saya kawal hingga berhasil,” katanya.

Pemeriksaan kandungan sapi secara berkala, menjadi rutinitas Imam pada itu. Akses demografi Sumberbaru yang sekitar dua pertiga wilayahnya dataran tinggi, hanaya diempuh dengan motor jadul yang dimilikinya. Padahal, tidak jarang dia harus mendatangi rumah klien-nya, jika keadaan kandungan sapi pengawasannya mengalami emergency.

Bagi Imam, sulitnya mendapatkan peternak yang bersedia mengawinkan sapinya dengan proses inseminasi, karena pemahaman tentang hal itu sangat rendah. Bahkan, kekhawatiran terhadap risiko kematian pada sapinya, juga menjadi faktor penyebab rendahnya peternak memilih inseminasi.

Namun, berkat kegigihan Imam Bonari selama 17 tahun mengabdikan dirinya di dunia pertenakan, kini Sumberbaru bukan hanya dikenal sebagai kecamatan inseminasi sapi potong saja. Namun, sapi perah pun menjadi identitas bagi kecamatan di paling ujung barat Jember itu. Bahkan, daerah yang dulunya dikenal dengan sebutan “wilayah merah” itu, telah mampu menjadi daerah cluster peranakan sapi perah di Jember.

Bukan hanya itu, berbakt dedikasinya pun, membuat sejumlah peternak sapi di Sumberbaru, mulai beralih pada peternakan ideal dan mulai meninggalkan cara konvesional, yang identik dengan cara-cara ternak tradisional. Berkat dedikasinya itu, membuat Gubernur Jatim Soekarwo, pernah memberikan anugrah Pelopor Ketahanan Pangan 2013 pada bebrapa waktu lalu.(rully efendi/c1/wnp)

Rutin Kunjungi Kandang Ternak Binaan

Terpilihnya Kecamatan Sumberbaru sebagai cluster utama pengembangan sapi perah di Jember, tidak lepas dari campur tanagan sosok Imam Bonari. Pria berusia 45 tahun yang juaga sebagai ketua Koperasi Peternak Galur Murni itu, telah konsisten selama tiga tahun belakangan ini, menjadikan daerahnya sebagai pilihan para penentu keputusan pemilihan daerah cluster.

Belasan tahun menjadi petugas kawin suntik di Sumberbaru, menjadi bekal bagi Imam untuk membuat daerahnya terpilih menjadi cluster utama pengembangan sapi perah di Jember. Bahkan, dia tidak lagi terlalu keras menyiapkansejumlah perangkat penilian, yang menjadi penentu terpilihnya daerahnya tersebut.

Sebab selama ini, dia bersama sejumlah tim koperasi yang dipimpinnya itu, telah rutin melakukanpembinaan kepada para peternak yang menjadi binaannya.

“Tidak ada yang terlalu kami siapkan sampai berlebihan. Toh, meski tidak ada penilian tersebut, kami sudah melakukan binaan secara berkala,” ujar Imam yang ditemui dikandang sapi perahnya. Apalagi, dia masih tetap rutin mengunjungi kandang milik peternaknya, dalam seminggu dua kali.

Kebanggaan terhadap karya Imam Bonari, bukan karena kemampuannya telah mengantarkan Sumberbaru terpilih menjadi cluster utama pengembangan sapi perah di Jember. Keberhasilannya mewujudkan peningkatan harga jual susu peternak, dengan melakukan pengembangan olahan susu, berupa yogurt, susu segar siap minum, bahkan kripik susu, juga menjadi suatu langkah yang menakjubkan.

Apalagi, upaya menekan biaya pakan ternak yang selama ini membengkak, dengan membuat mesin pakan ternak semi modern, juga telah menghasilkan manfaat sendiri bagi peernakbinaanya.”Selain kami membuat mesin pakan ternak, kami juga berupaya meningkatkan harga jual susu lebih mahal,” jelasnya.

Imam menjelaskan, harga jual susu di pabrik per liternya hanya mampu dijual dengan harga tertinggi Rp 3.600 per liter. Namun jika diolah, harga yogurt de_ngan isi 350 ml dalam setiap botolnya, mampu dia jual pada konsumen seharga Rp 6 ribu. “Intinya, kami berjuang untuk menyejahterakan para peternak sapi perah di Sumberbaru ini,”tegasnya.

Berkat kerja keras dan keberhasilan yang telah dirintis pria yang juga sebagai sekretaris forum peternakan Indonesia itu, sejumlah masyarakat Sumberbaru yang dulunya hanya sebagai peternak sapi potong dan petani musiman, kini telah menjadi para peternak sapi perah yang berpenghasilan lebih jelas.

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response