Heri Susanto, Raup 10 Juta Per Bulan Dari Ternak Kenari

ternak burung kenari

Heri Susanto, Raup 10 Juta Per Bulan Dari Ternak Kenari – Jika beberapa waktu lalu harga ternak hewan seperti kambing maupun sapi mengalami pasang surut, harga burung kenari (Serinus Canaria) justru kian menjanjikan. Peluang bisnis ternak burung pemakan biji itu sejak beberapa tahun terakhir ini stabil bahkan cenderung mengalami kenaikan harga.

Oleh karenanya akhir-akhir ini banyak dari kicau mania memburu burung tersebut bukan hanya sekedar untuk koleksi, tetapi juga untuk diternak sebagai salah satu alternatif sumber pendapatan.

Peluang bisnis itu nampaknya tidak disia-siakan Heri Susanto (34). Pria kelahiran 9 Mei 1978 asal Padukuhan Sanggrahan, Umbulrejo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul itu sejak tahun 2010 lalu telah mulai mengawinkan kenari-kenari kesayangannya sebagai wadah penyaluran hobi memelihara burung berkicau yang sudah ia lakoni selama beberapa tahun ini.

Menurutnya, selain memiliki keindahan warna bulu, postur tubuh, serta gaya saat birahi, burung kenari juga mempunyai suara merdu yang khas, panjang dengan volume yang tidak terlalu agak keras. Bahkan burung yang kerap jadi komoditas ekspor – impor ini juga memiliki kemampuan menirukan suara burung kecil lain seperti Ciblek, Prenjak, Blacktroath, Sanger, Colibry maupun Gelatik Wingko.

“Saat ini kami baru memiliki 60 ekor indukan produksi terdiri dari jenis AF dan F1. Semua indukan itu disilangkan dengan pejantan jenis F1, F2, serta Yorkshire. Dalam kondisi produksi normal, kami menerima pendapatan bersih antara Rp 10 – 15 juta dari penjualan puluhan anakan burung kenari yang dibeli pelanggan dari DIY, Jawa Tengah, maupun Jakarta. Oleh karena banternya pesanan, tahun 2013 mendatang kami juga menargetkan penambahan jumlah indukan mencapai 100 ekor,” terang pegawai RSUD Wonosari bagian unit gawat darurat itu kepada wartawan Sorot Gunungkidul, Jumat (28/12/2012).

Mengenai harga jual perekor burung kenari umur 1 bulan, lanjut dia, untuk jenis Holland berkisar antara Rp 150 – 200 ribu, AF Rp 200 – 300 ribu, serta F1 lokal mencapai Rp 450 – 550 ribu. Harga tersebut menyesuaikan dengan klasifikasi warna bulu dan postur tubuh anakan kenari. Bahkan dalam waktu dekat ini dia juga berencana mencetak anakan F1 dari penjantan Yorkshire yang dibeli dengan harga belasan juta rupiah.

Perawatan yang maksimal, kata dia, merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam memelihara maupun beternak burung kenari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan kenari adalah kebersihan kandang, pakan dan minum yang standar, serta penyinaran matahari terutama saat pagi hari antara pukul 07.00 – 09.00 WIB. Bahkan untuk mengantisipasi adanya bahaya penyakit flu burung, sebulan sekali ia semprotkan disinfectan di lingkungan kandang ternaknya.

“Pada musim hujan ini produksi anakan kenari kami sedikit terganggu. Jumlah Produksi anakan kenari saat musim hujan ini menurun sekitar 50 % dibanding musim kemarau lalu yang rata – rata perbulannya mencapai 50 – 75 ekor. Hal ini disebabkan perubahan cuaca ekstrem dari semula panas menjadi dingin, sehingga kebanyakan indukan mengalami masa moulting (rontok bulu) yang secara otomatis mengurangi tingkat birahi burung,” ungkap Heri yang mengaku telah bertaruh sekitar ratusan juta rupiah untuk modal usaha ternak kenari itu. (Sumber :  Sorot Gunung Kidul)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response