Harga Daging Tinggi, Harga Bibit Sapi Ikut Naik

Harga Bakalan Sapi

Harga Daging Tinggi, Harga Bibit Sapi Ikut Naik – Faktor yang membuat beberapa penjual daging sapi tidak berjualan karena banyak peternak sapi memilih tidak menjual hewan ternaknya. Sebab, harga sapi tengah tinggi. Meski, secara keuntungan apabila dijual besar, tapi meraka juga akan mengeluarkan modal yang besar untuk membeli bibit sapi.

“Faktor itu yang membuat peternak memilih tidak menjual, sehingga pasokan daging sapi tersendat,” ujar Kadis Pertanian, Perikanan dan Peternakan (DP3) Ir Hj Triastami kepada Radar, Jumat (28/12).

Peternak sekarang lebih pintar, karena pada saat ini bukan hanya untung semata, tapi juga melihat situasi. Bagi mereka percuma saja menjual mahal kalau ternyata membeli bibit mahal juga, sehingga sama tidak ada untungnya.

Mereka, kata Tri, lebih memilih menunggu situasi normal baru menjual. Dengan situsi normal harga beli bibit sapi juga akan murah sehingga keuntungan yang diperoleh besar.

Selain faktor peternak enggan menjual sapi, faktor lain yang membuat pasokan sedikit adalah adanya Natal. Biasanya untuk Natal banyak warga yang membeli langsung daging ke peternak agar lebih murah.

“Daging sapi yang dijual selama ini memang berasal dari petani lokal Kuningan. Dengan situsi seperti ini di mana harga jual tinggi peternak dari luar dari lebih memilih menjual ke kota besar yang harganya lebih mahal. Di Kuningan hanya Rp85 ribu/kg, di luar kota Rp100 ribu,” kata dia.

Pada situasi seperti ini pihak DP3 itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena mekanisme diserahakan kepada pasar. Apabila peternak tidak menahan penjualan sapi pasokan sapi di Kuningan cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Sementara itu, seperti diberitakan Radar dengan sulitnya mendapatkan pasokan sapi potong beberapa penjual daging memilih tidak berjualan. Mereka membiarkan kios kosong karena tidak ada daging untuk dijual.

Dari belasan pedagang yang berjualan di Pasar Kepuh dan Pasar Baru, sedikitnya sudah ada tiga penjual yang tidak berjualan. Apabila stok sapi masih kurang jumlah penjual yang tidak berjualan bisa bertambah.

“Yang saya tahu ada tiga pedagang yang sudah tutup sejak harga daging melambung,” ujar Yusep Sehendar penjual daging di Pasar Baru kepada Radar, Kamis (27/12).

Ia bisa bertahan karena memiliki piaraan sapi, sehingga stok selalu ada. Apabila mengandalan kiriman dari yang lain pasti akan seperti pedagang lain.

Sejak kebijakan impor sapi ditutup, sapi potong sulit dicari, sehingga tidak heran harganya naik. Saat ini saja harga daging masih Rp85 ribu/kg, di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung harga sudah di atas Rp100 ribu.

Dengan pasokan sulit dan harga naik, pembeli menjadi menurun, kebanyakan yang bertahan adalah para pemilik rumah makan dan juga pedagang bakso. Para pengusaha itu membeli daging pun tidak sebanyak dulu, karena mahal dan harga jual tidak bisa dinaikan karena konsumen keberatan.

Pria asal Desa Lengkong ini mengatakan, kalau tidak memiliki pelanggan tetap usaha terasa berat. Masyarakat sendiri sekarang dalam membeli daging terus menurun. Dengan harga tinggi lebih baik menahahan.

“Kalau kebijakan impor daging dibuka, saya yakin tidak akan seperti ini dan harganya juga akan stabil seperti dulu,” jelasnya yang menyebutkan sebelum Lebaran harga dagi sapi Rp65 ribu/Kg.

Sebagai penjual, Yusep berharap situasi seperti ini cepat berlalu, karena kasihan pedagang dan pembeli. Disebutkan dari biasa sehari ia mampu menjual 240 Kg daging saat ini paling tingggi 70 Kg. Begitu juga total sapi yang dipotong oleh para penjual dari semula puluhan ekor, kini hanya 10 ekor/hari. “Harga daging bisa terus merangkak naik kalau tidak ada solusi mengenai kenaikan harga,” jelasnya. (Sumber :  Radar)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response