Harga Daging Ayam Ras Picu Inflasi di Medan

harga daging ayam ras

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan inflasi sebesar 0,48 persen pada tingkat pergerakan harga di Medan pada Desember 2012. Inflasi di Desember ini pun telah menyebabkan laju inflasi tahunan (Januari-Desember) 2012 mencapai 3,79 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi tiga kota dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) lainnya di Sumatera Utara.

Inflasi di Medan pada Desember 2012 lalu, didorong oleh kenaikan harga daging ras, yang naik 15,92 persen. Disamping itu, tingkat pergerakan harga juga di dorong oleh kenaikan upah tukang bangunan sebesar 22,5 persen, harga beras 9,2 persen, lontong sayur 4,55 persen, daging sapi 3,06 persen, dan kain gorden 11,11 persen.

Kepala BPS Sumut Suharno mengatakan, dengan peran sebesar 83 persen terhadap Inflasi di Sumatera Utara, inflasi yang terjadi di Medan ini cukup dominan dalam struktur pembentuk tingkat pergerakan harga di Sumut. Apalagi kenaikan harga daging ayam ras yang menjadi pendorong utama inflasi di Medan, juga terjadi di kota dengan IHK lainnya.

“Medan Desember ini mengalami inflasi 0,48 persen. Penyumbang utama inflasi yakni daging ayam ras, yang naik 15,92 persen. Harga daging ayam ras ini juga menjadi pendorong utama di 3 kota IHK lainnya, yakni Pematang Siantar, Sibolga dan Padang Sidempuan. Jadi secara keseluruhan bisa kita katakan peran harga Daging Ayam Ras, cukup dominan dalam inflasi di Sumatera Utara,” jelasnya Rabu (2/1/2013).

Suharno juga menyebutkan, dominasi peran harga daging ayam ras dalam struktur pembentukan harga di Medan, terjadi karena pembelian komoditas ini cukup tinggi sejak beberapa bulan terakhir. Daging ayam ras dipilih masyarakat sebagai komoditas substitusi, setelah harga daging melonjak tajam.

“Ya selain karena memang daging ayam ras ini merupakan komoditas penting yang banyak di konsumsi masyarakat, belakangan ini kan memang terjadi peningkatan konsumsi daging ayam seiring selangitnya harga daging sapi. Jadi daging ayam ini dianggap pengganti lah bagi daging sapi. Sesuai dengan hukum ekonomi, kalau permintaan meningkat, tentu harga akan naik. Jadi kenaikan harga ini bukan sebatas untuk tahun baru saja, tapi memang karena sudah ada tren-nya. Jadi meskipun perayaan Natal dan tahun baru berakhir, harga akan sulit dikembalikan selagi harga daging sapi masih tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, pedagang ayam di Pusat Pasar Medan, Suhaibun (45) membenarkan adanya kenaikan harga jual daging ayam ras. Kenaikan menurutnya didorong oleh harga pengambilan di tingkat peternak yang juga naik cukup signifikan. Semakin tingginya harga daging ayam ras juga disebabkan karena tingginya permintaan oleh masyarakat.

“Sejak Oktober lalu memang harga terus naik sampai sekarang. Apalagi semenjak isu daging sapi makin mahal, permintaan makin banyak. Harga pengambilan kita pu meningkat, makanya harga jual juga terpaksa dinaikkan. Kalau pasokan sebenarnya cukup banyak, apalagi pasca September lalu banyak pasokan ayam dari Sumatera Barat masuk ke Medan, banyak ayam ras dari peternak lokal jadi kurang laku. Kalau sekarang sekira Rp20 ribu-Rp25 ribu per kilogram (kg). Padahal Oktober lalu, masih di kisaran Rp15 ribu,” ujarnya. (Sumber : Okezone)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response