Harga Bakalan Sapi Mahal, Peternak Terancam Gulung Tikar

Jual Sapi Bakalan

Hari menjelang siang saat itu di sebuah peternakan sapi. Rahmat tampak mengelap mukanya. Tangan Rahmat begitu cekatan saat memberi rumput pada sapi piaraannya.

Sudah 10 tahun Rahmat beternak sapi. Pria berusia 36 tahun ini dengan tekun memelihara sapi miliknya tersebut yang terletak di Desa Parit Gado, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ia dulu memiliki ratusan ekor sapi.

Kini hanya 20 ekor sapi saja yang dipelihara Rahmat karena ia tak mampu lagi untuk membeli bibit sapi yang didatangkan dari Madura, Jawa Timur, yang harganya melambung tinggi. Padahal, dahulunya sapi milik Rahmat ini mampu menyulai pasokan daging untuk wilayah ini setiap hari. Sekarang tinggal kenangan saja impiannya itu.

“Dulu ada 300 hingga 500 ekor sapi saya pelihara. Sekarang hanya 20 ekor saja. Saya tak mampu belinya. Piara sapi sekarang malah buntung, bukan untung,” tutur Rahmat saat ditemui VIVAnews di peternakan miliknya, pada hari ini, Selasa siang 16 Juli 2013.

Rahmat mengisahkan, jika dulu memelihara sapi tidaklah sulit semasa kini. “Kalau dulu piara 3 bulan sudah untung, sekarang malah buntung. Biarpun harga daging sapinya tinggi selangit, sapinya pun harga kurusnya tinggi,” katanya yang merasa masih kebingungan dengan harga daging sapi tidak stabil tersebut.

Rahmat menjelaskan, sapi yang berada di Kalimantan Barat memang dipasok dari pulau Jawa. “Jadi, rata-rata mengambil dari pulau Jawa sapinya. Di Kalimantan Barat ini tidak ada peternakan sapi. Jadi,bibit sapinya dikirim dari Madura, Jawa Timur,” Rahmat menjelaskan.

Menurut dia, kenaikan harga daging sapi yang stabil itu jelas –jelas menyengsarakannya selaku peternak sapi. “Yang jelas, harga daging sapi melambung dampaknya luar biasa kami ini. Sapi yang umurnya dua tahun Rp8juta. Kalau dulu hanya Rp2 juta saja. Saya berharap harga daging sapi ini stabil harganya. Supaya harganya tidak teka-tekilah,” ujar Rahmat sambil bercucuran keringat itu selepas membersihkan kandang sapinya itu.

“Kalau pasokan agak berkurang sekarang, mau piara pun masih pikir-pikir. Ya saya masih bingung dengan harga sapi yang tak pasti ini.”

Dampak dari kenaikan harga sapi itu, ia mengakui terancam gulung tikar usaha peternakan sapi miliknya itu. “Bibitnya mahal sekarang. Kalau begini terus, ya bisa bangkrut saya. Dalam kondisi seperti ini, mana ada pemerintah perhatiannya. Tapi, kalau dulu waktu sapi saya masih ratusan ekor, malah diakui dibimbing pemerintah daerah ini. Padahal ini modal saya sendiri. Mana ada bantuan dari pemerintah ini,” sesalnya, mengenang masa kejayaannya itu.

Harga tak stabil

Sementara itu, penjual daging sapi di Pasar Flamboyan Kota Pontianak, Arifin (60), mengatakan, untuk satu kilogram sapi saat ini memang tidak stabil. “Ada daging sapi yang biasa Rp95 ribu. Itu dagingnya campur-campur alias tak murnilah. Kalau yang bagus kisaran Rp100ribu hingga Rp160 ribu. Daging yang nomor dua Rp85ribu. Sekali memotong sapi ada 4 ekor,” katanya.

Untuk diketahui, daerah Kalimantan Barat ini memiliki 5 titik perbatasan yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, yakni Kecamatan Badau di Kabupaten Kapuas Hulu, Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang, Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau, Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas, dan Kecamatan Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang. Tidak sedikikt, barang-barang impor dari Malaysia masuk ke wilayah ini. Satu di antaranya adalah daging sapi.

Entah lemahnya pengawasan atau bagaimana, baru-baru ini, sebanyak 1,4 ton daging ilegal asal Malaysia dan India diselundupkan ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Daging itu dibawa melalui pintu masuk perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau. Jumlah daging ilegal yang masuk antara lain 261,5 kilogram daging sapi dari Malaysia, daging kerbau asal India sebanyak 1 ton dan daging bebek asal Malaysia sebanyak 150 kilogram.

Menurut Kepala Seksi Pemeriksaan dan Penyelidikan Balai Karantina Pertanian Kelas 1A Pontianak, Faisal Noer, daging-daging itu dipasok warga Pontianak berinisial Tg alias Hk. Barang ilegal itu didapat dari pemasok di Tebedu, Malaysia.

“Daging ini tidak dilengkapi dokumen karatina pertanian dari negara asalnya,” jelas Faisal, Jumat, 5 Juli 2013, waktu itu.

Guna mencegah dampak penularan penyakit yang bersifat zoonosis yang dapat menular ke manusia seperti mulut dan kuku, anthrax dan mencegah beredarnya daging illegal di Pontianak, daging ilegal ini kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar.

Untuk proses penyelidikan, pihak Balai Karantina Pertanian telah melakukan pemeriksaan terhadap sopir truk boks yang membawa produk ini dari perbatasan menuju ke Pontianak.

Faisal menambahkan, harga daging yang melambung tinggi, apalagi menjelang Ramadan menyebabkan daging-daging impor banyak beredar, meski keamanan pangan ini belum terjamin.

Masuknya daging illegal ini dilakukan lewat transaksi yang dilakukan di tempat-tempat tidak wajar seperti transaksi yang hanya dilakukan melalui telepon, dan serah terima di pinggir jalan, ataupun di tempat-tempat janggal. (Sumber : Bisnis Viva)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response