H Slamet Sukses Bisnis Ternak Itik Petelur

Ternak Itik Petelur

Ternak Itik Petelur – Saat krisis ekonomi menghantam Indonesia tahun 1997/1998, semua lini merasakan dampaknya. Justru H Slamet Daroini warga Ponggok Blitar menjadikan titik awal bangkit dari keterpurukan.

Ia nekat keluar dari pekerjaannya sebagai pekerja lepas di PTPN XXI dan membeli itik petelur yang dijual oleh peternak di kampung halamannya.

“Sebelumnya saya bekerja di perkebunan tebu PTPN XXI-XXII Ngadirejo, statusnya musiman. Kalau musim giling saya kerja, kalau nggak musim giling saya tidak kerja. Akhirnya saya tahun 1999/2000 mengundurkan diri dan merintis usaha ini,” tuturnya Selasa (2/10/2012).

Pada 1997/1998, banyak peternak di kampung halamannya di Kebonduren, Ponggo, Blitar yang tak mampu meneruskan usahanya, hingga ternak itik maupun ayam dijual.

Melihat kondisi tersebut, Slamet memikir otaknya untuk membeli ternak tetangga dan dikembangkan. Dengan semangat dan keberaniannya, dirinya membelinya dengan cara hutang.

“Pada saat krisis 97/98 itu kan banyak bebek yang dijual, ayam yang dijual murah-murahan oleh warga. Akhirnya saya tampung tidak saya beli dengan uang tunai. Saya hutang jangkanya pun nggak 1-2 minggu, tapi 4-5 bulan,” terangnya.

Hasilnya, Slamet mampu membeli sebanyak 186 ekor itik. Itik tersebut dikelola di lahan kosong belakang rumahnya. Kondisi krisis membuat harga pangan itik (bebek) sangat mahal. Namun, dengan sekuat tenaga dan pikiran supaya bisnis yang digelutinya dapat bertahan, Slamet memberinya makan gambyong (ampas ketela).

“Lah waktu itu, saya berikan makanannya bukan dari kaspe atau dedak, karena nggak kuat biayanya. Saya berikan gambyong,” tuturnya.

Pemberian ampas ketela itu memang tidak ada gizinya. Bahkan, Slamet sempat khawatir karena banyak itiknya yang tak kuat menahan ‘hidupnya’. “Memang nggak ada gizinya. Bebek pun seperti akan jatuh,” ujarnya.

Nasib baik memayungi Slamet. Selang 2 bulan kemudian, harga telur itik menanjak baik. Akhirnya, dia bisa memutar uang hasil dari penjualan telur dan bisa digunakan membeli pakan itik yang bergizi.

Selama 2 bulan, itik petelur yang dikelola menghasilkan sekitar 600-700 telur. Pada 1997, harga telur itik mentah mencapai Rp 155 per butir. Sedangkan harga pakan itik yang awalnya mencapai Rp 187 turun ke harga normal Rp 48,5.

“Alhamdulillah saya bisa bayar hutang sekitar 2 bulannya. Nggak sampai 4-5 bulan, saya bisa membayar hutang pembelian itik ke tetangga,” terangnya.
Semakin Merajalela
Banting stir Slamet Daroini dari pekerja musiman di PTPN XXI dan XXII menjadi peternak itik petelur mendapat dukungan dari keluarganya. Keputusan menjadi peternak itik itu membuahkan hasil yang membanggakan. Kini, dia bisa menghidupi istri dan ketiga anaknya.

“Alhamdulillah keluarga saya mendukung saya terjun mejadi peternak itik petelur. Saya menikah tahun 1999 dan saya merintis ternak ketika masih bujangan,” katanya.

Meski sudah berhasil mengembalikan hutang pembelian ke peternak lain, Slamet pun tak jumawa. Ia masih terus belajar belajar dan bekerja menseriusi ‘dunia ternak itik petelur’.

“Saya belajar dari teman-teman. Alhamadulillah saya punya link yang konsukwen. Maksudnya, ketika harga telur naik, ya diambil segini. Kalau harga turun, ya harganya ikut turun,” tuturnya.

Kepercayaan adalah mahal harganya. Saat dirinya mendapat kepercayaan dari teman dan konsumennya, ia memanfaatkan betul nilai kepercayaan itu. Hingga akhirnya, dia semakin mengembangkan bisnis ternak itiknya dan mendapatkan penyuluhan dari Dinas Peternakan Kabupaten Blitar.

Dari awal itik petelur 186 ekor dan menghasilkan sekitar 600-700 telur. Kini itiknya terus bertambah menjadi ribuan ekor dan menghasilkan ribuan telur. Bahkan, penjualan telur itu tidak menggunakan lagi sepeda angin atau sepeda motor. Seminggu bisa mengirimkan telur sebanyak 4 truk ke Jakarta dan Banjarmasin.

“Alhamdulillah sekarang per minggu bisa kirim 4 kali sampai ke Jakarta dan Banjarmasin. 1 truk isinya 90.720 butir telur,” tuturnya.

Keberhasilanya H Slamet juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga di sekitarnya. Dari dikerjakan sendiri, kini sudah membuka lapangan pekerjaan 12 orang. Selain itu, dirinya juga sudah memiliki alat mixer pembuat pakan ternak. Sehingga menekan biaya pembelian pakan ternak dari pakan ternak pabrikan.

“Dulu saya kerja sendiri. Sekarang ada 12 pegawai. Setiap hari Minggu libur nggak ada pekerjaan,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Blitar menerangkan, dari jumlah penduduk Blitar sekitar 1.122.000 jiwa, awalnya bergelut sebagai petani. Namun, kini yang menggeluti bisnis ternak berskala kecil maupun besar sekitar 3.000 jiwa.

“Peternakan ini kita tekuni dan bermitra dengan masyarakat. Kita terus melakukan penyuluhan-penyuluhan ke peternak hingga berkembang seperti ini,” kata Mashudi.

“Hampi semua peternakan di Kabupate Blitar ada. Mulai dari ayam petelur, sapi, kambing, ayam hingga peternakan itik atau bebek,” tuturnya.

Untuk unggas petelur, Kabupaten Blitar memenuhi kebutuhan nasional sekitar 20 persen. Sedangkan untuk kebutuhan telur di tingkat provinsi sekitar 60-70 persen.

“Kami ingin mewujudkan kemajuan dan kemandirian bidang peternakan menuju masyarakat yang sejahtera, religius dan berkeadilan,” ujarnya.

Untuk mendukung peningkatan populasi serta produksi peternakan, menjadikan usaha peternakan menjadi pola usaha agribisnis, meningkatkan kesehatan ternak dan meningkatkan kualitas hasil peternakan yang aman sehat utuh dan halal (ASUH), pihaknya menyediakan berbagai fasilitas pelayanan.

Seperti, pelayanan kesehatan hewan di klinik hewan, pemeriksaan kebuntingan dan asistensi tekni reporduksi hingga rekomendasi untuk akses permodalan. (Detik)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response