Daging Kelinci Diburu Pengusaha Kuliner

Ternak Kelinci Pedaging

SELAIN jadi hewan peliharaan, kini kelinci juga diburu sebagai bahan dasar beberapa menu. Belakangan, sejumlah pengelola rumah makan di Kota Tepian mulai gencar menggunakan daging kelinci sebagai menu utama mereka. Berimbang dengan minat pembeli. Karena itu, walaupun populasinya meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir, namun jumlah kelinci belum dapat memenuhi tingginya permintaan.

Beternak kelinci mulai menjadi tren bagi sejumlah kalangan di Samarinda dalam beberapa tahun terakhir. Tak hanya untuk memenuhi permintaan hewan peliharaan, mamalia berbulu lembut itu juga dikembangbiakkan untuk memenuhi permintaan pengusaha rumah makan. Menurut data yang dihimpun Sapos, sejak 2006 hingga saat ini, sudah ada delapan peternak yang tersebar di empat kawasan.

“Di tempat kami sendiri (Lok Bahu, Sungai Kunjang) sekarang ada empat peternak. Kemudian di Palaran ada satu, Kelurahan Pinang ada dua dan di Gunung Lingai ada satu peternak,” ujar Ketua Peternak Kelinci Madu Rasa, Nanang yang ditemui Sapos belum lama ini.
Seiring berjalannya waktu dan jumlah peternak yang meningkat, populasi hewan imut ini juga melonjak drastis. Dari lima jenis kelinci yang umumnya dikembangbiakkan, jumlahnya telah mencapai ribuan ekor. Jenis Flemish Giant disebut Nanang mendominasi jumlah kelinci ternak di Samarinda.
“Felmish Giant atau kelinci pedaging paling banyak dikembangbiakkan untuk memenuhi kebutuhan di pasaran. Sisanya kelinci jenis hias seperi Angora, Lion, Rex dan Fuzzy Lop,” paparnya.
Banyak alasan mengapa herbivora ini menjadi pilihan para peternak. Salah satunya, karena mudah berkembang biak. Dalam satu tahun, seekor induk kelinci bisa melahirkan hingga lima kali dengan jumlah anak enam sampai sepuluh ekor. Durasi produktivitasnya juga cukup lama, yakni sejak usia 6 bulan hingga 3 tahun.
“Pertumbuhannya cepat sekali. Apalagi kebutuhan gizinya tercukupi. Sekali melahirkan, bisa sepuluh anaknya,” tutur Nanang.
Selebihnya, perawatan kelinci juga bukan perkara yang rumit. Para peternak cukup menyediakan rumput sebagai pakan utama. Selain itu, ampas tahu juga dapat digunakan sebagai makanan pendamping. Untuk vitamin, ditambahkan Nanang, bisa diperoleh dari buah segar.
“Terkadang juga harus diberi pelet untuk menunjang asupan gizinya. Di toko-toko hewan juga tersedia banyak vitamin untuk kelinci. Tapi yang lebih mudah cukup diberi buah atau wortel saja,” paparnya.
Meskipun jumlah populasinya terus meningkat, namun pasokan daging kelinci untuk kebutuhan kuliner ternyata masih kurang. Buktinya, ada beberapa rumah makan yang kerap alami kekurangan stok daging akibat banyaknya permintaan. Ini menunjukkan bahwa banyak warga Samarinda yang doyan makan daging kelinci.
“Walau Samarinda menjadi distributor daging kelinci di Kaltim, namun tetap saja kami belum dapat memenuhi pesanan yang semakin meningkat. Tidak hanya dari pengusaha rumah makan di Samarinda, permintaan juga datang dari luar kota,” tuturnya.
Untung saja, keterbatasan stok tak membuat harga daging kelinci ikut melambung. Nanang mengaku, hingga saat ini para peternak kelinci masih sepakat menjual kelinci jenis pedaging dalam kondisi hidup dengan harga Rp 50 ribu per-Kg.
“Harga itu sudah menjadi kesepakatan para peternak. Jadi banyaknya pesanan tidak berpengaruh terhadap harga jual,” tuturnya.(Sumber : Sapos.co.id)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response