Cegah Flu Burung, Peternak Unggas Dihimbau Tingatkan Biosecurity

Cara Mencegah Flu Burung

Virus baru flu burung atau Avian Influenza (AI) sub-tipe H5N1 clade 2.3.2 dipastikan sudah masuk ke Sidrap, bahkan virus ini telah mematikan sedikitnya 17.857 ekor itik dan 666 ekor ayam petelur milik warga.

Tidak ingin jumlah kematian unggas ini terus bertambah, Pemkab Sidrap, dalam hal ini Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sidrap telah menetapkan status Kondisi Luar Biasa (KLB) flu burung di daerah ini.

Kepala Disnakkan Sidrap, Ir Abdul Azis MM kepada FAJAR, Rabu, 2 Januari, mengatakan, status KLB sudah dianggap penting diterapkan guna meningkatkan kewaspadaan dini. Jika tidak, bisa-bisa kasus kematian unggas terus bertambah banyak.

Azis mengatakan, salah satu pemikiran mendasar mengapa siaga flu burung dilakukan karena Sidrap adalah sentra peternakan unggas terbesar di Sulsel. Pemkab Sidrap mencatat ada sekira 5,5 juta ekor ayam petelur yang harus diselamatkan, begitupula dengan itik ada tercatat 426.626 ekor.

Dia mengingatkan, kasus flu burung pernah menyerang perunggasan di Sidrap pada 2011 silam. Saat itu, tercatat sebanyak 457 ribu ekor unggas yang mati dengan jumlah kerugian ditaksir mencapai 26 miliar lebih. “Maksud saya agar ini tidak terulang lagi dimana hampir semua kecamatan terjangkit,” ujarnya.

Langkah penting yang dilakukan Disnakkan Sidrap pasca kematian unggas secara massal di Desa Allesalewo dan Desa Tanete, Kecamatan Maritengngae dan Panca Lautang ini, dengan meningkatkan biosecurity. Selain itu, Disnakkan juga mengintensifkan sosialisasi terkait penanganan flu burung.

“Hal yang terpenting ditekankan kepada warga bagaimana agar mereka punya kesadaran yang tinggi tidak membuang sembarangan unggas yang sudah mati. Makanya kita imbau agar warga menyiapkan lubang kecil,” katanya.

Berkaca pada serangan flu burung yang juga menyerang Sidrap medio 2011 lalu, kata Azis, jumlah unggas yang mati terus bertambah setiap hari. Pemicunya karena bangkai-bangkai unggas yang sudah mati dibuang sembarangan sehingga cepat merambah.

“Nah, agar hal itu tidak terulang lagi, kita mengimbau terus warga agar tidak lagi membuang bangkai ayam atau itiknya di sungai atau irigasi-irigasi seperti dulu. Selain jorok juga membahayakan kesehatan manusia,” ujarnya.

Tindakan nyata yang dilakukan saat ini, lanjut dia, Disnakkan Sidrap proaktif melakukan pemusnahan massal terhadap unggas-unggas yang dianggap berpotensi sebagai penyebar virus mematikan ini. Selain itu membantu warga memberikan pemahaman mengenai biosecurity.

Untuk memutus mata rantai penyebaran virus flu burung ini, Azis juga mengaku telah memperketat jalur keluar masuknya unggas di Sidrap. Selain itu membagikan desinfektan kepada peternak ayam dan itik, terutama kepada mereka yang dianggap rawan.

Minimnya stok vaksin dan desinfektan yang tersedia pada Disnakkan Sidrap, menjadi kekhawatiran utama peternak di Sidrap saat ini. Kabid Peternakan Disnakkan, Sadalia SP mengakui, persediaan desinfektan yang ada sekarang sisa 12 ribu liter.

Sebenarnya, kata Sadalia, persediaan desinfektan tersebut cukup memadai untuk dibagikan kepada warga. Namun demikian tetap saja dianggap kurang bila dibandingkan kebutuhan peternak yang ada di Sidrap.

Menyinggung kasus kematian itik secara massal sebanyak 17.857 ekor milik Bultan dan beberapa peternak lainnya di Desa Allesalewo, 1 Januari lalu, menimbulkan rasa heran warga, termasuk Sadalia sendiri. Pasalnya, selain desa tersebut terisolasi dari potensi penyebaran virus, kasus ini juga baru kali pertama terjadi di desa itu.

Makanya, Sadalia mengaku tengah berupaya menelusuri darimana asal muasal virus ini hingga bisa masuk ke Desa Allesalewo. “Petugas kami di lapangan tengah melacak ini. Termasuk mendeteksi sejauh mana virus tersebut sudah merambah selain di Desa Tanete,” ujarnya.

Sadalia memperkirakan, kerugian yang dialami peternak di Desa Allesalewo dan Desa Tanete diperkirakan mencapai Rp446 juta lebih. “Hitung-hitungannya, anggaplah harga ayam layer Rp65 ribu per ekor, dikalikan ayam mati 666 ekor maka dia merugi Rp43 juta lebih. Harga itik sekira Rp25 ribu, maka kerugiannya mencapai Rp446 juta lebih,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Peternak Petelur (P3A) Kabupaten Sidrap, M Ramli mendesak Disnakkan Sidrap untuk proaktif membantu warga. Dia juga mengimbau warga agar tetap tetang dan tidak panik menghadapi musibah yang tidak bisa dielakkan ini.

“Lagi-lagi saya ingin katakan bahwa flu burung bukanlah hal yang baru. Tahun 2011 lalu Sidrap juga dilanda flu burung dan akhirnya berhenti. Nah, yang ingin saya katakan bahwa flu burung bukan sesuatu yang harus dihindari tapi harus dihadapi secara bersama-sama,” katanya.

Mewakili peternak yang ada di Sidrap, Ramli meminta Disnakkan Sidrap untuk lebih meningkatkan biosecurity. Tindakan ini, kata dia, harus dilakukan secara simultan.

“Maksud saya jangan ketika baru ada kasus kematian unggas baru Disnakkan sibuk melakukan desinfektan. Rutinlah, supaya semuanya aman,” sindirnya.

Enrekang Waspada

Menyusul merebaknya flu burung di Kabupaten Sidrap menjadikan sejumlah peternak di Kecamatan Maiwa yang berbatasan langsung dengan daerah tersebut was-was. Mereka khawatir sebab sebagai daerah berbatasan, potensi penyebaran virus ini bisa sangat cepat dan mematikan. Apalagi dinas terkait sudah mengidentifikasi ribuan ekor itik yang mati di daerah tersebut.

Atas kekhawatiran ini, ditepis Kadis Peternakan dan Perikanan (Disnakin) Enrekang, Yunus Abbas yang mengatakan, pihaknya secara rutin selalu melakukan sterilisasi terhadap unggas dan ternak yang ada di Enrekang. Khusus di Kecamatan Maiwa yang dikenal sebagai sentra peternak ayam, menurutnya, belum ditemukan adanya wabah tersebut.

“Kita tidak kaget kalau ada wabah seperti itu di daerah lain, sebab metode kita lakukan selama ini secara rutin melakukan vaksinasi. Jadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan,” kata Yunus Abbas, Rabu 2 Januari.

Walau demikian, dengan adanya wabah flu burung di Sidrap, menurutnya, tetap perlu diantisipasi dengan meningkatkan kewaspadaan. Baik oleh petani sendiri maupun dengan mensterilisasi ternak yang masuk ke Enrekang. (Sumber : Fajar)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response