Cegah Flu Burung, Peternak Disarankan Lakukan Biosecurity

Cara Mencegah Flu Burung

Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispeterikan) Kabupaten Magelang mengimbau kepada para peternak untuk melakukan biosecurity. Upaya tersebut guna mencegah penyebaran Avian Influenza (AI) atau flu burung yang sudah menyerang sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang.

Biosecurity merupakan tindakan untuk menghindari kontak antara hewan dan mikroorganisme. Prosedur ini merupakan pintu pertahanan pertama dalam upaya pengendalian penyebaran suatu penyakit.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dispeterikan Kabupaten Magelang, John Manglapy mengatakan, penerapan biosecurity dilakukan mulai pada awal pemeliharaan unggas di kandang sampai pada saat penjualan.

Selain penyemprotan kandang dengan disinfektan, sangat penting bagi peternak untuk membatasi kontak antara ternak dengan manusia. Untuk itu, perlu membatasi orang yang diperbolehkan masuk ke kandang ternak.

“Kita minta para peternak untuk mulai menerapkan biosecurity. Jagalah kontak antara ternak dengan orang luar. Yang tidak berkepentingan jangan boleh masuk kandang ternak karena bisa menjadi pembawa penyakit,” katanya, Minggu (30/12/2012).

Ditambahkannya, tingkat kesehatan ternak juga perlu dijaga. Sebab, hewan yang sehat tidak akan mudah terserang penyakit. Dikhawatirkan, hewan yang kondisinya lemah akan berpotensi terserang berbagai jenis penyakit.

“Kesehatan hewan ternak ini bisa ditingkatkan dengan pemberian makanan bergizi dan tambahan vitamin,” lanjutnya.

Diketahui, ribuan unggas seperti bebek, burung puyuh dan ayam ditemukan mati mendadak di sejumlah wilayah yakni, Kecamatan Mertoyudan, Srumbung, Kajoran, Salaman, Ngablak dan Salam. Dua diantaranya positif flu burung yakni di Dusun Seloiring, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam dan Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman.

Sejauh ini, Balai Desa Margoyoso menyebutkan bahwa sedikitnya hewan unggas jenis ayam yang mati mendadak terdapat 30 ekor. Kematian itu terjadi di beberapa peternak di dusun Tlogosari.

“Kematian terjadi di satu blok rumah. Tidak ada gejala awal,” kata Kades Margoyoso Suroso Singgih Pratomo.

Dia menjelaskan, kematian unggas terjadi pada malam hari. Menurutnya, pada sore hari ayam masih terlihat sehat dan berkeliaran di pekarangan rumah warga namun pada pagi harinya sudah ditemukan mati di pekarangan dan selokan.

Kasus di Desa Margoyoso ini merupakan yang kedua kalinya setelah serangan serupa pada 2008 silam. Diduga kondisi ini disebabkan cara pemeliharaan ayam warga yang kurang bagus.

“Untuk mengantisipasinya, Dispeterikan sudah mendirikan posko kesehatan yang beroperasi selama 10 hari,” tandasnya. (Sumber :  Sindo)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response