Calo BErmain, Peternak Sapi Merugi

pasar-ternak-madura

Kupang – Para peternak sapi paron mengeluh karena harga ternaknya dipermainkan calo dan pembeli di Pasar Ternak Sapi di Lili, Camplong, Kabupaten Kupang. Pasalnya, berat sapi hidup ditentukan dengan cara menerka saja.

“Jadi bukan ditentukan oleh dacing atau alat timbang. Jadi kotong (kami, Red) cuma rai-rai (menerka, Red) saja. Ini yang membuat kami selalu merasa dirugikan,” jelas Benyamin Tamonob, penjual asal Oinlasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Selain tanpa alat timbang, di Pasar Lili Camplong juga berkeliaran para calo. Calo menawarkan jasa perantara kepada pembeli dan pemilik ternak. Jasa mereka dihargai 1 persen dari harga jual sapi.

“Dibeli dengan harga rendah lalu kami juga harus bayar calo atas jasanya membawa pembeli. Nasib peternak sapi cuma begini terus kalau Pemkab Kupang tidak pasang alat timbang dan membersihkan para calo,” keluh Tamonob, Kamis (26/6/2014).
Ia mengaku membawa sapi satu truk (10 ekor) dan membawa pulang ke rumah dua ekor sapi. Sapi terpaksa dibawa pulang karena pembeli dan calo hanya mau membeli Rp 6 juta per ekor dari seharusnya Rp 6,5 juta per ekor.

Keluhan yang sama disampaikan dua peternak lainnya, Imanuel Misa dan Yulius Bana. Keduanya terpaksa membawa pulang ke rumah empat ekor sapi dari total 10 ekor yang dijual di Pasar Ternak Lili, Camplong.

“Setahu kami, alat timbang yang ada itu dicopot dari Pasar Ternak Lili Camplong sejak tahun 1998 lalu. Padahal alat timbang itu masih bagus dan berfungsi baik. Sebab baru digunakan satu tahun lebih,” jelas Bana.

Jadi, kata Bana, sudah 16 tahun para pemilik ternak dipermainkan pembeli dan calo. Sebab, berat hidup sapi ditentukan seenak perut, atas dasar menerka saja.

Kornelis Taneo, petugas retribusi di Pasar Ternak Lili – Camplong, membenarkan kondisi tersebut. Ia menunjuk tempat alat timbang sapi yang cuma berjarak lima meter dari pos retribusi.

“Alat timbangnya sudah dicopot sejak tahun 1998. Disimpan di Kantor Camat Fatuleu. Alat timbangnya masih berfungsi baik,” kata Tamonob. Ia mengaku tidak tahu kenapa alat timbang itu dipindahkan ke kantor camat.

Dua saudagar hewan, Son Banu dan Dick Kase, membenarkan kondisi tersebut. Menurut mereka, jika pakai alat timbang, yang rugi adalah para saudagar (pembeli).

“Paling bagus pakai cara menerka berat badan sapi dan tawar-menawar. Biar kami untung sedikit kalau dijual ke Pulau Jawa,” demikian alasan Son Banu, saudagar hewan asal Amarasi, didukung beberapa calo.

“Kalau pakai dacing (alat timbang, Red), kami tidak bisa hidup. Kami juga berperan dalam proses jual beli,” demikian alasan seorang calo ternak. Ia menolak disebut calo tetapi setuju disebut pengecer.

(Sumber : kupang.tribunnews.com)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response