Brucellosis Ancam Reproduksi Sapi

Reproduksi Sapi

Tingkat keberhasilan ternak sapi sangat bergantung pada kesehatan reproduksi induknya. Di Kota Parepare, ternak sapi belum maksimal akibat adanya kasus gangguan reproduksi sapi akibat penyakit brucellosis.

Di Indonesia, Brucellosis banyak menginfeksi ternak sapi sehingga ditetapkan sebagai penyakit hewan menular strategis. Karena itu, Brucellosis, terutama pada sapi harus dikendalikan.

Hal itu disampaikan dokter hewan Dinas Pertanian Kehutanan Peternakan dan Kelautan (PKPK) Parepare, drh Yulianti Hatta, Rabu, 19 Desember. Yuli, sapaan akrab Yulianti menuturkan, pihaknya mulai melakukan pencegahan dini bagi sapi yang terserang penyakit brucellosis.

Pasalnya, selain karena penyakit ini menyebabkan terjadinya abortus (keguguran) yang bersifat temporer atau permanen, kematian pedet baru lahir (stillbirth), gangguan reproduksi (infertilitas dan sterilitas) serta penurunan produksi susu juga karena sangat mudah menular ke sapi- sapi yang lain.

“Pencemarannya melalui kelahiran sapi, dan penularannya sangat mudah terutama di tempat yang lembab. Kita menemukan tujuh ekor sapi yang terserang penyakit ini tapi saya yakin masih banyak lainnya,” ujarnya.

Sebagai antisipasi, lanjut Yuli, tim dari Dinas PKPK melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk segera memotong sapi yang terserang brucellosis. Sementara bagi sapi yang masih sakit, untuk segera dilakukan vaksinasi.

“Ada lima ribu ekor sapi di Parepare, namun tidak semua divaksin karena pemiliknya menolak. Makanya kami sosialisasi untuk membuat kesepakatan terkait vaksinasi sapi,” katanya.

Yuli menambahkan, tidak banyak dari peternak sapi yang mengetahui kasus brucellosis tersebut. Mereka (peternak red), katanya, hanya mengeluh karena sapinya tidak berkembang biak. Padahal, normalnya, sapi berkembang biak setiap tahun.

“Ini jugalah alasan kami sosialisasi agar mereka lebih baik memotong sapinya dan mengganti dengan yang lain,” terangnya.

Sumber Bibit

Sementara itu, sapi bali yang selama ini banyak dikembangkan masyarakat Barru makin bersinar. Betapa tidak, saat ini Barru menjadi pewilayahan sumber bibit sapi bali secara nasional. Karenanya, Dinas Peternakan Barru terus mendorong berbagai program terkait pengembangan sapi bali.

Kadis Peternakan Barru, HA Amin Manggabarani, Senin, 17 Desember, menyatakan, pengembangan sapi bali di Barru sudah lama dilakukan, berbagai upaya bagaimana meningkatkan populisi sapi bali. Terkait pengembangan sapi bali ini, pemkab menjalin kerja sama degan Unhas.

Target populasi sapi bali di Barru untuk 2015 itu mencapai 74 ribu ekor, posisi populasi sapi bali data satu tahun terkahir sudah mencapai 54 ribu ekor. Perkembangan populasi sapi terus mengalami peningkatan. Program penyelamatan sapi betina menjadi sasaran yang dilakukan Dinas peternakan bersama masyarakat.

Bahkan saat ini juga ada program bantuan terhadap sapi bunting. Mengapa hal ini dilakukan? Tentu saja sasarannya bagaimana menjaga populasi sapi bisa lebih banyak lagi dan hasilnya akan dinikmati masyarakat. Sangat tidak diharapkan masyarakat menjual sapi betinanya. Karena itu dilakukan program penyelamatan sapi betina produktif.

Ditambahkan Kabid Produksi dan Pengembangan Dinas Peternakan Kabupaten Barru, A Muhammad Nur, ada beberapa lembaga kerja sama terkait pengembangan sapi bali ini, selain Unhas juga dengan BPTH dan Balai Karantina Makassar. “Hal ini dilakukan dalam rangka pengembangan sapi bali ini,” katanya.

Pengembangan sapi bali di Barru terus dipacu, untuk sentra pengembangan dilakukan di Tanete Riaja. Namun secara umum Barru sangat potensial untuk pengembangan sapi bali. Untuk mendukung pengembangan sapi jenis yang satu ini juga program show room sapi sudah jalan. (Sumber : Fajar)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response