Bisnis Ternak Ayam Kalkun Semakin Menggairahkan

Usaha Ternak Ayam Kalkun

Meskipun tergolong jarang, bisnis ternak ayam kalkun semakin menggairahkan bagi Bambang Cahyo Murat. Keuletan warga Pringsewu ini mendapat perhatian berbagai kalangan.

Usaha ternak kalkun yang dirintisnya sejak lima tahun lalu di Pekon Sukoharjo I, Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu, ini mendapatkan banyak simpati dari rekan bisnisnya.

Bambang mengakui keinginannya mengawinkan kalkun lokal dengan kalkun inggris tetap ada mengingat persilangan tersebut diyakini dapat menghasilkan turunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Saat ini Bambang menggaduh sekitar 1.100 ekor ayam kalkun dari anakan sampai siap potong. Dengan kandang yang sederhana, ternak kalkun Bambang terlihat alami karena berada di tengah-tengah perkebunan kakao. Pakan pun disediakan secara alami.

Promosi budi daya kalkun terus dilakukan baik melalui media cetak ataupun media elektronik. Bambang mengatakan bisnis kalkun sangat menjanjikan. Di samping tergolong langka, ayam santapan raja-raja kuno ini memiliki daging yang tak kalah empuk dan gurih dibandingkan ayam lainnya.

Di samping memiliki nilai seni, kalkun memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Saat ini saja, kata Bambang, harga daging kalkun siap masak dijual sekitar Rp70 ribu/kg, sementara harga kalkun hidup dijual antara Rp50 ribu dan Rp55 ribu/kg. “Sejauh ini pemasaran daging kalkun memang masih dalam kalangan terbatas, yaitu hotel-hotel atau masyarakat menengah ke atas.”

Ke depan Bambang berupaya menembus pasar untuk kalangan biasa. Selama ini, rata-rata penjualan produksi kalkun di peternakannya mencapai sekitar 300 ekor/bulan. “Saya pernah diminta untuk menyuplai kalkun ke Jakarta dan Surabaya, tetapi tidak sanggup karena masih terlalu sedikit populasi ternaknya setiap bulan. Sebenarnya permintaan daging kalkun sangat tinggi. Karena keterbatasan produksi kalkun, tidak semua dapat dipenuhi,” katanya.

Ternak kalkun, selain memiliki potensi keindahan, juga dapat dimanfaatkan dagingnya untuk bahan pangan dan dagingnya sangat gurih. “Orang Turki sudah biasa makan daging kalkun karena proteinnya tinggi dengan lemak atau kolesterol rendah. Bahkan mengonsumsinya dapat membantu proses perkembangan dan pembentukan otot dan otak (kecerdasan) akan menjadi sempurna,” ujarnya.

Bambang menilai beternak kalkun tidaklah sulit. Salah satunya karena pakan yang diberikan sama dengan pakan lainnya, seperti jagung, gandum, tepung kedelai, tepung ikan, dan hijauan, seperti daun-daunan, dedak, dan konsentrat.

Untuk mengembangbiakkan kalkun, sebaiknya antara jantan dan betina diberikan tempat terpisah. Ini karena pejantan lebih banyak makan dan lebih aktif dalam perebutan pakan sehingga kalau dicampur akan mengganggu pertumbuhan kalkun betina. Berbedaan nafsu makan antara kalkun betina dan jantan menyebabkan pertumbuhan kalkun jantan lebih cepat daripada betina.

Seraya mengestimasi laba dalam usahanya itu secara per bulan, Bambang mengatakan laba yang diperoleh akan jauh lebih besar didapat jika dalam masa pemeliharaan kalkun ini mendapat perlakuan yang baik, dari segi kesehatan dan pakannya.

Bambang menjelaskan kalkun dengan usia dua bulan tersebut rata-rata beratnya mencapai 2 kg/ekor dengan harga mencapai Rp70 ribu/ekor. Dalam tempo satu bulan, berat kalkunnya bisa meningkat menjadi 3,5 kg. Menariknya lagi, kalkun ini hanya memiliki kadar kolesterol 0,015%. “Ini merupakan hasil analisis badan pengkajian pangan UGM” kata Bambang.

Bambang melihat dengan kajian badan pangan UGM, kalkun sesungguhnya sebagai bisnis yang menjanjikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan protein hewani dengan kadar kolesterol rendah.

Pihaknya mengaku akan melakukan kerja sama dengan Universitas Lampung untuk menghasilkan varietas baru kalkun yang nantinya menjadi kalkun ciri khas Pringsewu. Bambang menuturkan satu induk kalkun betina dapat menghasilkan telur 12 butir yang bila ditetaskan akan menghasilkan enam bibit ayam kalkun.

Saat memasuki usia 6 bulan, kalkun betina sudah dapat menghasilkan telur. Dalam setahun kalkun betina bisa dua hingga tiga kali bertelur. Kini, konsumen umumnya lebih meminta ayam kalkun dengan usia 2 bulan atau dengan bobot 8 ons hingga 1,2 kilogram, karena selain gurih ayam dengan berat 8 ons—1,2 kg mudah dibawa dan lembut dagingnya. (Sumber : Lampost)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response