Bangun Industri Pengolahan Daging, PT SBK Gelontorkan Rp10 Miliar

daging sapi berkualitas

PT Segarao Bahari Kupang (SBK) dalam tahun ini membangun pabrik pengolahan daging beku yang berlokasi di Desa Oben, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan investasi senilai sekitar Rp10 miliar lebih. Rencana produksi perdana akan dimulai pada awal Juni 2014 ini, dengan tujuan pemasaran Daerah Khusus Ibu-kota (DKI) Jakarta dan sekitarnya.

“Sejak lama, pemerintah memang menginginkan agar daerah ini tidak lagi mengirim ternak hidup keluar NTT, tetapi dalam bentuk daging. Tujuannya supaya ada nilai tambah bagi daerah dan keinginan itu sudah terwujud,” ujar Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Thobias Uly di Kupang, Rabu (28/5).

Dia mengatakan, kapasitas produksi pabrik pengolahan daging beku itu adalah 30-50 ekor ternak sapi per hari.

“Artinya, setiap hari, kita harus menyiapkan 30-50 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan pabrik daging beku tersebut,” tuturnya.

Mengenai kesiapan daerah, dia mengatakan, daerah hanya mampu menyiapkan 20-30 ekor ternak sapi per hari untuk di pasok ke pabrik.

Kemampuan pasokan ini sesuai dengan potensi dan populasi ternak yang dimiliki daerah itu, kata Thobias Uly.

Dia menuturkan, populasi ternak sapi di provinsi kepulauan itu saat ini sekitar 803 ribu lebih atau di bawah kisaran satu juta ekor.

“Berdasarkan hasil pendataan, hingga akhir tahun 2013, jumlah ternak sapi di NTT sekitar 803 ekor. Jumlah ini tersebar di Pulau Timor, Sumba dan Flores,” ujar Thobias Uly.

Dia mengatakan, untuk meningkatkan populasi ternak khususnya sapi, pemerintah akan menggencarkan program pembibitan di daratan pulau Timor dan penggemukan di daratan pulau Flores, terutama bagian tengah dan barat.

Menurut dia, wilayah-wilayah di NTT yang masih menjadi daerah andalan ternak sapi adalah empat kabupaten di kawasan timor bagian barat, daratan Sumba dan Kabupaten Rote Ndao. Sedangkan kabupaten lain tetap menjadi penyanggah pemasok kebutuhan daging.

“Dengan program pembibitan dan penggemukan, kami optimistis target populasi sapi 1,5 juta ekor pada tahun 2014 bisa tercapai,” ujarnya.

Selain program pembibitan dan penggemukan, upaya yang terus-menerus dilakukan untuk mempertahankan populasi sapi di NTT adalah melarang pengantarpulauan sapi betina produktif ke luar daerah.

Pemerintah, tambahnya, bahkan memberikan insentif kepada peternak yang tetap mempertahankan kebijakan tersebut karena mengantarpulauan sapi betina produktif akan memutus mata rantai populasi.(Sumber : aktual.co)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response