Ayam Lingnan Dilarang Gunakan Label Ayam Kampung

Ternak Ayam Lingnan

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan melarang PT Barstow Indosukses selaku produsen Ayam Lingnan untuk menggunakan label ayam kampung pada kemasannya.

Larangan tersebut dikeluarkan setelah pihak Direktorat Peternakan melakukan pengecekan ke lokasi peternakan ayam Lingnan milik PT Barstow Indosukses di Kampung Pasir Muncang, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/6/2013).

“Dari hasil pengecekan ayam Lingnan secara genetik tidak termasuk sebagai ayam kampung. Ayam Lingnan ini percampuran dari ayam luar yang sudah dikembangbiakkan di Indonesia,” kata Djamal Riza selaku Kepala Seksi Unggas, Dirjen Peternakan, Kementerian Pertanian, saat ditemui di lokasi peternakan ayam Lingnan.

Djamal menyebutkan, pihaknya telah melakukan pengecekan ke peternakan ayam lingnan milik PT Barstow Indosukses.

Pengecekan dilakukan dengan menelusuri bibit ayam Lingnan oleh Peneliti Pemuliaan Unggas, Balai Penelitian Ternak, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.

Dijelaskannya, di Indonesia memiliki dua jenis ayam yang diperdagangkan yakni ayam kampung dan ayam broiler. Untuk ayam kampung memiliki jenis yang bermacam-macam, ada ayam kampung lokal seperti ayam merawang asal China yang sudah dikembangbiakkan lebih dari lima tahun di Indonesia sehingga sudah menjadi ayam lokal.

“Karena ini bukan jenis ayam kampung, jadi tidak boleh memakai label ayam kampung lagi,” katanya.

Sementara itu, Peneliti Pemuliaan Unggas, Balai Penelitian Ternak, Badan Litbang Pertanian, Kementan, Tike Sartika menyebutkan, ayam Lingnan merupakan percampuran dari beberapa jenis ayam yakni merawang dan nunukan.

“Untuk Lingnan sendiri kami masih akan menelusuri campuran ayam lainnya, karena masih ada campuran ayam lainnya,” katanya.

Menurut Tike, ayam Lingnan tidak dapat dikategorikan sebagai ayam kampung karena tidak memiliki ciri sebagai ayam kampung.

Ayam Lingnan lanjut dia, karena telah dikembangbiakkan lebih dari lima generasi di Indonesia dan melalui penyilangan beberapa jenis unggas sehingga dapat dikategorikan sebagai ayam lokal.

“Undang-Undang di Indonesia menyebutkan, ada jenis hewan tertentu yang sudah tinggal lebih lima generasi maka sudah bisa menjadi hewan lokal,” katanya.

Tike menambahkan, ayam Lingnan bebas untuk dipasarkan, hanya saja penggunaan label ayam kampung tidak bisa digunakan karena tidak tergolong sebagai ayam kampung.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Kementerian Pertanian melakukan pengecekan ke PT Barstow Indosukses selaku produsen ayam Lingnan menyusul protes yang dilayangkan Himpunan Peternak Unggas Lokal (Himpuli) terkait penggunaan label ayam kampung.

Menurut Himpuli, penggunaan label ayam kampung telah membohongi konsumen serta merugikan peternak ayam lokal.

Dengan menggunakan label ayam kampung, harga jual ayam lingnan mengikuti harga ayam kampung sekitar Rp55.000 per ekor untuk ukuran 700 gram, sedangkan ayam broiler dengan berat yang sama dijual Rp24.000 per ekor.

Sementara itu pemilik peternak ayam Lingnan, Wirawan Darmana S menyatakan bersedia untuk tidak menggunakan label ayam kampung pada kemasannya.

“Di label kami tidak ada tulisan ayam kampung. Kami hanya menggunakan label ayam Lingnan, tapi memang di kemasan kami menggunakan tulisan ayam ras, ini untuk merk perdagangan karena jenisnya bukan ayam buras (petelor),” katanya. (Sumber : Bisnis Jabar)

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: usahaternak View all posts by

Leave A Response